Aku wanita penggoda - 4

Setelah posisi batang kemaluan paman sudah tepat di bibir vaginaku, aku menekan ke bawah sehingga tertusuklah vaginaku dengan batang paman walau hanya kepalanya saja yang baru bisa masuk. 10 kali aku memberikan hentakan dengan bantuan paman, akhirnya masuklah seluruh batang paman ke dalam vaginaku. Batang paman kerasnya luar biasa, seperti pentungan polisi menghentak liang vaginaku, kerasnya batang paman mungkin disebabkan paman sering berolahraga. Hentakan batang paman ke vaginaku dilakukan berkali-kali.
"Aaahh.. aarrgghh.. aarrghh.. sshh.. Paman.. batang Paman keras sekali.. enak.. deh.. nyodok.. vagina Nov.. rasanya vagina Nov.. melebar nich.."
"Nov.. heegh.. heeghh.. vaginamu juga.. nikmat.. sekali.. rasanya.. lebih.. nikmat.. dari punya.. Bibimu.. wah.. Ppaman jadi ketagihan nih.."

Satu jam lamanya batang paman yang keras sekali menembus vaginaku, bobol-lah pertahananku dimana vaginaku banyak sekali mengeluarkan cairan putih dan hangat membasahi batang paman yang masih tertancap dalam vaginaku. Saking banyaknya cairan yang keluar dari vaginaku hingga meleleh ke paha kami berdua. "Aaah.. aahh.. Paman.. enak sekali.. aahh hh.. arrghh.. sshh.. sshh.. Nov.. ke.. keluar.. nih.."

Lemaslah tubuhku menimpa paman yang sedang asyik melumatkan payudaraku yang putih, montok dan kenyal yang lagi dihisap-hisap oleh pamanku. Paman lalu memutarkan badanku dimana batang paman masih tertancap di vaginaku hingga sekarang posisiku sekarang duduk di atas membelakangi pamanku, kemudian tubuhku diangkat dan dijatuhkan di tempat tidurnya, jadi posisi kami sekarang aku menungging dan paman berdiri dengan dengkulnya. Batang paman yang masih menancap lalu ditekannya berkali-kali ke vaginaku, kedua tangannya memegangi pantatku sedangkan aku terbaring lemas. "Agh.. agh.. aghh.. Nov.. vaginamu.. memang enak sekali.. rasanya.. agh.. agh.. agh.. sshh.. sshh.."

Batang paman yang keras menghujam lagi ke vaginaku berkali-kali sampai kira-kira satu jam kemudian aku mengeluarkan cairan dari vaginaku untuk kedua kalinya dan paman pun mengeluarkan cairan yang banyak sekali dimana paman menumpahkannya cairan paman yang hangat di punggungku karena paman terlebih dulu menarik batangnya dari vaginaku sebelum mengeluarkan cairan. "Aaahh.. aahh.. sshh.. sshh.. Nov.. vaginamu.. luar biasa deh.. baru kali ini paman mengeluarkan cairan segini banyaknya.. lain kali lagi yach.. aahh.."

Lemaslah tubuh paman sambil memeluk tubuhku dimana batang paman yang masih keras walau mengeluarkan cairan yang banyak menyundul pantatku. Sementara aku pun sedang terbaring lemas dimana vaginaku basah oleh cairanku sendiri dan punggungku basah oleh cairan pamanku. Kami pun tertidur selama kurang lebih 1/2 jam ketika jam berdentang pukul 04.00 sore.

"Nov.. vaginamu enak sekali deh.. boleh paman coba lagi lain waktu."
"Boleh dong.. Paman.. tapi lain kali cairan Paman dibuangnya di dalam vagina Nov aja.. yach!"
"Iya.. deh.. sayang.. makasih.. ya.."
"Iya.. Paman."

Kukecup bibir pamanku lalu kutinggalkan pamanku yang terbaring bugil, aku pergi ke kamarku lalu mandi. Selesai mandi ketika aku mau makan makanan yang dari siang tadi sudah kusiapkan sementara paman juga sudah selesai dari mandi dan akan makan bersamaku. Pulanglah bibiku dari kerjanya.

"Loh.. Ayah sudah pulang?"
"Kok cepet Yah?"
"Badanku agak sakit jadi jam 2 tadi aku sudah pulang, untung keponakanmu Novi, bisa masak jadi baru sekarang aku bisa makan setelah tidur."
"Wah.. Nov.. hebat yach.. bisa masak juga, kamu pulang jam berapa dari daftar ke kampus?"
"E.. e.. jam 04.00 sore.. Bi.."

Kujawab pertanyaan bibiku sambil tersenyum ke arah pamanku yang juga tersenyum kepadaku dimana sebenarnya aku telah membohongi bibiku sendiri. Bibiku lalu meninggalkan aku dengan suaminya di meja makan untuk berganti baju. Aku lalu berbisik pada pamanku.
"Paman, ma'afin Nov yach, sudah membohongin Bibi, Paman jangan ngadu yach..!"
"Enggak.. Nov.. Paman nggak akan ngadu.. malah Paman terima kasih kamu telah berbohong pada bibimu, soalnya Paman juga takut sama Bibimu, pokoknya kejadian tadi siang jadi rahasia kita berdua.. yach?"
"Oke.. Paman!"

Hari berganti hari membuat hubunganku dengan Paman Hendi semakin intim layaknya suami istri dan tentu saja kami lakukan jika Bibi Nani tidak di rumah. Selain di rumah, kami juga sering melakukan di Parang Tritis. Hubungan kami berlangsung selama 1,5 bulan di saat aku pun sudah terdaftar jadi mahasiswi di sebuah akademi di Jogja dan mulai tercium oleh Bibi Nani. Hari itu hari Jum"at, seperti biasa Paman pulang dari sekolahan dan setelah lepas sembayang Jum'at kami pasti janjian di rumah untuk melakukan hubungan suami istri, di saat Paman sedang telanjang di atas tubuhku yang juga telanjang, Bibi Nani langsung masuk kamarnya. Dia langsung menjerit dan pingsan melihat kami. Aku dan paman pun lalu menghentikan perbuatan kami dan merasakan keheranan atas kepulangan Bibi yang lebih awal dari biasanya.

Setelah siuman Bibi Nani menyidangi aku dan suaminya, dengan perasaan menyesal dan minta maaf akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan kota Jogja dan statusku sebagai mahasiswi untuk kembali ke Jakarta. Tetapi setelah Bibi Nani dan Ibuku bicara melalui telepon malam itu, akhirnya ibuku yang masih marah kepadaku memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta tapi aku disuruh ke Surabaya untuk tinggal dengan Pakde Gatot yang merupakan kakak tertua ibuku.

Pagi harinya dengan menaiki bis, kutinggalkan Jogja dengan sejuta kenangan bersama Pamanku menuju Surabaya. Siang harinya aku tiba di rumah Pakdeku di Surabaya. Pakde Gatot adalah kakak ibuku yang tertua, usianya 50 tahun. Pakde seorang pengusaha yang sangat sibuk sekali sehingga dia jarang sekali di rumah. Di rumah paling-paling dalam setahun dia hanya 1 bulan, selebihnya mengurusi bisnisnya yang banyak di luar negeri. Mungkin inilah pertimbangan ibuku aku ikut Pakde pasti tidak akan menggoda lagi, memang betul sih pendapat ibuku, tapi pada akhirnya yang tergoda bukannya Pakde tapi Ayah dari Budeku. Budeku seorang yang masih muda, usianya baru 30 tahun, dia merupakan sekretaris Pakdeku yang dinikahi oleh Pakdeku. Saking sibuknya Pakde, otomatis Bude sering ikut bisnis dengan Bude pergi ke luar negeri, Bude pun jarang di rumah.

Sudah dua bulan aku di Surabaya, di rumah Pakde yang besar dengan 6 kamar tidur. Aku tinggal beserta 3 pembantu wanita dan 2 orang penjaga malam. Sejak aku datang dari Jogja, 2 hari kemudian Pakde dan Bude pergi ke Singapura menjalankan bisnisnya dan menemani kedua sepupuku yang masih SMP di Singapura sampai 2 bulan lebih tidak kembali ke Surabaya. Rasa bosanpun timbul pada diriku, aku malas untuk mendaftarkan diri untuk kuliah. Akhirnya hari-hariku aku lewatkan hanya berenang di rumah Pakde, Nonton film dan jalan-jalan di Surabaya, sesekali kuhubungi ayahku di jakarta yang rupanya sejak aku tinggal di Jogja, ayah tidak tinggal lagi di rumah tapi tinggal di bengkel miliknya, jadi ayah dan ibuku sudah pisah rumah. Terus terang, kuhubungi ayahku untuk melepaskan rinduku atas belaian pria yang sudah 2 bulan tidak menyentuhku.

Suatu siang aku sedang berenang tiba-tiba suara pembantu rumah Pakde mengejutkanku.
"Mbak, di ruang tamu ada Tuan Iwan lagi nunggu."
"Siapa itu Mbok?"
"Tuan Iwan khan bapaknya Nyonya, Mbak Nov belum kenal yach..? Wah.. waktu Mbak belum di sini Pak Iwan sering ke sini, orangnya baik loh Mbak tapi suka ngodain pembantu di sini."
"Hush, Mbok ini nggak boleh bicara begitu!"
"Wah, Mbak ini nggak tau sih, wong 6 bulan lalu ditinggal mati sama istrinya."
"Mbok, sudahlah nanti saya adukan ke Bude loh."
"Eh, jangan Mbak, tapi hati-hati loh Mbak!"

Kulilitkan baju handuk dan kutinggalkan sang pembantu itu di kolam renang, aku menuju masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu. Di ruang tamu kulihat orang yang bernama Iwan lagi duduk di kursi tamu, dan kuhampiri yang lagi asyik menyeruput minuman jeruk.
"Maaf, saya Novita, saya keponakannya Pakde Gatot, Bapak siapa?"
"Eh, saya Iwan, saya Bapaknya Budemu. Pada kemana mereka, apa lagi keluar negeri?"
"Oh iya Pak, Pakde dan Bude sudah dua bulan ada di Singapura."
"Oh, pasti lagi nemuin kedua cucuku yach, Ivan dan Maya."
"Oh iya betul, Pak."

Keraguanku terhadap orang ini terjawab setelah dia menyebutkan kedua sepupuku, tapi yang aku rasakan tidak enak adalah tatapan matanya yang tajam ke arahku dimana dia seakan terangsang melihat tubuhku yang basah oleh air kolam hanya terbungkus bikini dan baju handuk. Pikiranku langsung tertuju kepada perkataan pembantu tadi.

"Kamu, Nov, keponakan Gatot dari mana?"
"Saya dari Jakarta, tujuan saya mau kuliah di sini, kalau Eyang Iwan dari mana?"
"Saya dari Banyuwangi, Budemu khan asalnya sana, tapi tolong jangan panggil saya Eyang yach, panggil saja Pak Iwan, Saya biasa nginap di sini kalau ke Surabaya, yach kalau lagi kangen dengan Budemu."
"Oh, iya Pak, ya sudah silahkan Pak, nanti kamar Bapak biar disiapkan, sekarang saya mau ganti baju dulu sehabis berenang."

Kutinggalkan bapaknya budeku di ruang tamu, sementara aku berjalan menuju kamarku yang ada di lantai atas untuk ganti baju seusai berenang. Kumasuki kamar tidur lalu kulepaskan jubah mandi yang agak basah dan masuk kamar mandi. Setiap kamar tidur dilengkapi kamar mandi. Kutanggalkan bikini lalu kuputar tombol kran shower dan kubasuh badanku yang bugil dengan air. Seperti biasanya aku mandi tidak pernah kututup pintu kamar mandi yang kututup hanya pintu kamar dan kukunci, tapi mungkin aku lupa menguncinya karena aku tidak sadar kalau Pak Iwan (bapaknya budeku) mengikutiku dan sekarang ada di kamar sedang memperhatikan aku mengguyur badanku di bawah shower. Sepuluh menit sesudah aku mandi, ketika aku keluar dari kamar mandi dan akan mengambil handuk di dalam lemari untuk membasuh tubuhku tiba-tiba aku dipeluk oleh Bapak Iwan yang muncul dari balik pintu kamar mandi yang terbuka. Aku pun kaget setengah mati dan berusaha berontak untuk melepaskan dekapan Bapak Iwan.

"Nov, tubuhmu indah sekali sudah 10 menit aku menikmati tubuh bugilmu terguyur air, sekarang layanilah aku!"
"Ah, jangan paksa saya Pak, Bapak kok bisa masuk kamar saya, tolong lepaskan Pak.."
"Kamu khan sengaja tidak mengunci kamarmu khan, biar aku bisa masuk."
"Ah.. jangan.. lepaskan saya, Pak..!"
Tenagaku yang lebih kuat dari dekapan Pak Iwan akhirnya terlepas juga.
"Nov, maafin saya yach, tolong jangan kasih tau kepada budemu yach kalau saya berbuat tidak baik padamu tolong yach..!"

Pak Iwan lalu berbalik dan akan menuju keluar dari kamarku tapi kucegah karena tiba-tiba rasa kangen atas sentuhan laki-laki timbul dari diriku.
"Pak.. maafin Nov juga yach, kalau Bapak minta baik-baik pasti saya kasih kok Pak.."
"Ah, yang benar nih, kamu nggak marah dan kamu nggak akan ngadu ke Pakde dan Budemu.."
"Enggak Pak, dijamin kerahasiaannya deh, sini Pak!"

Bersambung...