Cerita Ananda - 1

"Oh Tuhan! Tidak!".

Ananda menutup mulut dengan tangannya, matanya membesar dua kali ukuran biasanya. Setelah beberapa gelas kopi dan canda tawa, dia ingin mendengar yang lebih lagi. Aku ceritakan padanya kisahku tentang petualangan sexku yang terakhir dengan beberapa pria.

*****

Sedikit cerita singkat tentang latar belakang tetanggaku, Ananda. Dia berumur 28 tahun, tinggi, berambut hitam panjang dengan penampilan yang menarik dan kebetulan sama sepertiku, belum mempunyai anak. Waktu pertama kali kenal dengannya, Ananda cenderung tertutup dan pendiam. Tak heran kalau aku sebelumnya tak tahu kalau dia sebenarnya adalah tetanggaku sendiri, soalnya dia bisa dikatakan tak pernah keluar rumah kalau tidak ada urusan penting. Aku mengenalnya saat ada acara di kantor suamiku yang melibatkan para istri dan suami karyawannya. Kedua suami kami sama-sama bekerja di perusahaan swasta tetapi pada bagian yang berlainan.

Dari perkenalan pertama itulah kemudian kami semakin bertambah akrab, aku jadi tahu kebiasaan kebiasaannya, apa yang dia suka dan dibencinya. Dan dari situlah aku paham kalau dia mempunyai rasa ketertarikan yang tinggi saat aku berbicara soal sex, meskipun wajahnya sering jadi bersemu kemerahan karenanya.

Percakapan kami sore ini, yang telah dipengaruhi oleh beberapa gelas anggur, mengarah pada hal sex atau pada deskripsi yang lebih sempit, kekurangan dalam kehidupan sexnya. Meskipun dia sangat-sangat naif, dalam hal ini sangat mengejutkan, ternyata Ananda lebih tertarik daripada apa yang kuduga sebelumnya. Selalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang sangat besar tentang bagaimana rasanya menjalani apa yang disebutnya dengan istilah 'orgy'.

Telah dia ceritakan padaku seluruh kehidupan sexualnya, meliputi masa sekolah hingga bersuami (yang tak lebih dari hanya sekitar ciuman saja). Sex yang normal saja, mungkin hanya sekali dalam seminggu dengan menu utama tak lebih dari persetubuhan yang biasa saja. Aku sangat yakin bahwa dia belum pernah mengalami orgasme pada kehidupan sex-nya. Setelah dia menceritakan padaku tentang itu semua, aku memutuskan untuk mengajaknya bergabung dalam petualangan sex-ku.

Dengan wajah yang merona merah karena malu, dia memintaku untuk menceritakan semuanya dari awal.

"Setelah suamiku berangkat kerja", aku mengawalinya, "Ada teman yang 'berkunjung' ke rumah dan bertanya padaku apakah bisa tinggal sejenak untuk sekedar.. Yah, kamu pasti sudah bisa menduga apa yang terjadi kemudian kan?".
"Dia datang saat suamimu tak di rumah?" tanyanya.

Dia kelihatan sangat terkejut dan itu membuatku ingin tertawa saja. Kemudian kukatakan padanya, setelah beberapa jam kemudian teman suamiku itu menelpon dua temannya untuk diajak bergabung.

"Kamu bersetubuh dengan tiga orang sekaligus pada waktu yang bersamaan?!"

Kata persetubuhan yang keluar dari mulutnya benar benar mengejutkanku. Aku tertawa dan bilang padanya itu semua tak pernah direncanakan sebelumnya, itu terjadi begitu saja. Mungkin saja karena kami sudah telalu bergairah dan aku sendiri memenuhi pikiran mereka dengan hal-hal yang membuat mereka terangsang. Aku menceritakan pada Ananda secara detail tentang orgasme yang kudapat, dan tentang betapa menggairahkannya tubuh tubuh mereka, khususnya tentang Rai.

"Dalam tiga puluh lima tahun kehidupanku, belum pernah aku menjumpai penis seperti punya Rai." kataku.

Wajahnya makin memerah, nafasnya berubah jadi berat sewaktu kuceritakan dengan rinci tentang pengalamanku.

"Rai benar-benar sangat menggairahkan, sosok pejantan perkasa yang akan selalu memberimu kepuasan abadi" kataku padanya.
"Penisnya adalah yang terbesar dan terkeras yang pernah kulihat. Kepala penisnya sangat besar dan mampu menyemprotkan sperma dengan kuat dan indah".

Ananda tak mampu mengucapkan sepatah kata. Aku lihat situasi ini menyiksanya dengan kenikmatan, aku tahu ini tabu. Mengetahui dia tak pernah benar-benar terpuaskan, aku bersumpah kalau dia telah orgasme tanpa menyentuh dirinya sendiri.

"Demi Tuhan, itu sangat.. Sangat nakal" dia mengambil nafas.
"Aku tak akan pernah bisa melakukan hal itu pada Aryo". Katanya menjelaskan.
Aku tertawa seraya bilang padanya, "Tidak untuk Aryo, kamu perlu memperhatikan dirimu sendiri". Pengaruh situasi membuatku lebih mudah untuk mengatakannya.
"Kamu tahu Nanda, aku sudah jadi sangat basah hanya dengan menceritakan semua ini padamu". Aku menggodanya.

Dari mulutnya terdengar lenguhan lirih, kedua kakinya bergerak maju mundur dengan pelan di atas kursinya. Setelah beberapa pertanyaan lagi, aku katakan padanya kalau aku harus segera pulang dan membiarkannya mempertimbangkan usulanku. Aku mempunyai dua hal yang harus kukerjakan, pertama melepaskan gairah dalam vaginaku dan kedua, menelepon. Aku orgasme tiga kali sore itu, orgasme terakhir kuperoleh hanya dengan membayangkan wajah Ananda yang sedang mengalami orgasme lewat permainan mulutku pada vaginanya.

*****

Aku tidak melihat dan mendengar kabarnya selama seminggu ini. Aku pikir dia telah kembali pada kebiasaanya dan bergaul dengan teman-temannya yang alim untuk menghapus pikirannya dari dosa yang kutebarkan padanya. Aku meneleponnya pada hari Sabtu kemudian dan menanyakan apakah dia dapat membantuku merapikan beberapa hal yang sulit. Saat aku menemuinya di depan pintu rumahku, dia kelihatan malu-malu.

"Masuklah" sambutku, "Akan kutuangkan segelas minuman untuk mengusir grogimu".

Awalnya dia hendak menolak minuman yang kusuguhkan kepadanya, yah, memang 'sedikit beralkohol' sih. Dan memang dia belum pernah meminumnya selama ini. Tetapi setelah aku bujuk, akhirnya dia mau meminumnya juga. Dia hanya diam saja hingga gelas ketiga yang kemudian membuatnya jadi lebih terbuka. Dia kelihatan begitu manis waktu menanyakan apakah aku pernah bertemu Rai lagi.

"Aku harap begitu, tapi James sedang dalam perjalanan kemari sekarang" dia kelihatan terkejut, tangannya nampak gemetar menghabiskan sisa minumannya.
"Sedang kemari? James? Pria pertama yang kamu ceritakan padaku itu?".
"Ya", aku tertawa.
"Dia pasti akan tiba sebentar lagi".

Benar saja tak lama setelah kata terakhirku, terdengar bunyi bell dan James masuk dengan membawa sebotol anggur, memelukku, dan memandang dengan cermat pada Ananda. Setelah sedikit ngobrol-ngobrol, Ananda sudah bisa akrab dengan James.

"Aku menceritakan tentang kisah kita pada Ananda, James" kami berdua dikejutkan oleh suara gelas yang dijatuhkan Ananda.
"Oh Tuhan, aku jadi sangat malu" kata Ananda.
"Jangan sayang, itu adalah hal yang indah, kita sama-sama dewasa dan kita menikmatinya, bukan begitu Yanna?" kata James menjelaskan.
"Tentu saja" jawabku sambil menuju ke pintu karena terdengar belnya berbunyi.
Setelah kembali lagi pada mereka aku berkata, "Ananda, ini Rai, Rai, ini Ananda".
"Apa yang sedang kalian rencanakan" tanyanya.
Keduanya mengangkat bahu dan bertanya padaku, "Yanna?".
"Kita semua adalah teman yang sedang berkumpul menikmati senja yang indah ini" kataku.

Aku tak tahu bagaimana atau kapan semua ini berawal, tapi yang jelas suasana menjadi bertambah hangat dan menggairahkan. James belakangan bersumpah padaku kalau Anandalah yang pertama kali berusaha mendekatinya. Kita duduk pada meja minum di dapur, James dan Ananda pada sisi yang satu, sedangkan aku dan Rai di sisi yang satunya lagi. Gelas yang ada dalam tanganku hampir saja terjatuh karena terkejut saat Ananda bertanya pada James..

"Bagaimana bisa lebih dari satu orang pria melakukannya dengan seorang wanita?".

Rai tertawa dan bilang padanya kalau kita akan senang sekali menunjukkan caranya pada Ananda. Aku menjadi sangat terangsang karena situasi ini. Rai menyuruhku untuk memandang ke seberang meja, mata Ananda terpejam rapat, nafasnya memburu. James telah bergeser lebih mendekat pada Ananda, akhirnya kami sadar kalau tangannya bergerak maju mundur dengan pelan di bawah meja.

"Ya Nanda" ucapku.

James terus melanjutkan manipulasinya atas vagina Ananda dengan jarinya, tangan yang satunya lagi telah menyusup dibalik baju Ananda, menyentuh payudaranya. James menutup mulut Ananda dengan ciuman yang dalam. Sedangkan tangan Rai telah berada dalam rokku untuk mencumbu vaginaku yang telah basah.

"Mari kita pindah ke ruang kelurga" usulku.

James menghentikan ciumannya dan menarik tangannya dari dalam rok Ananda. Ananda terlihat sangat mempesona, payudaranya bergerak turun naik seirama dengan nafasnya, orgasmenya sudah hampir dekat. Kami berjalan menuju ke ruang keluarga. Rai segera melucuti pakaianku, sementara kami berdua melihat James melepaskan atasan Ananda melewati kepalanya. Dia mengenakan setelan bra dan celana dalam biru muda yang cocok sekali dengan warna kulitnya, vaginanya tercetak jelas di balik celana dalamnya yang telah berubah warnanya menjadi biru tua karena basah. Aku telah telanjang dan berlutut untuk melepaskan celan Rai dan membebaskan penisnya yang sudah amat tegang.

Aku berhenti sejenak untuk menyaksikan payudara Ananda yang terlepas dari bra nya, begitu kencang, penuh dan puting besar yang telah keras. Nafasku terhenti dan nafsuku melonjak tinggi begitu James menarik turun celana dalam Ananda yang telah basah dengan pelan-pelan. Kami sama sama telanjang sekarang. Rambut kemaluanku yang selalu kucukur rapi membentuk huruf 'V', sedangkan milik Ananda walaupun masih 'alami' tapi tetap terlihat lebat dan indah.

Tangan James segera bergerak mencumbui klitoris Ananda, mengexpose lebih luas labia majoranya. Penis Rai yang ereksi penuh tercetak jelas pada celana yang masih dikenakannya. Kami berdua terpaku memandang Ananda yang terlihat begitu sexy kala James mendudukkannya bertumpu pada kedua lututnya. James menurunkan celanya, penisnya terlontar keluar, mengacung ke atas ke bawah tepat di depan wajah Ananda.

"Demi Tuhan, punyamu sungguh besar", gumam Ananda sambil menggenggam penis James.

James memang memiliki penis yang indah, yang paling menonjol adalah bentuk kepala penisnya yang besar yang akan terasa menakjubkan saat itu menembus dalam vaginamu. Tapi dibandingkan dengan milik Rai, punya James tidaklah seberapa.

"Jilat", perintah James.

Ananda kelihatan ragu ragu untuk membuka mulutnya. James bergerak sedikit ke atas membuat Ananda mengangkat sedikit pantat indahnya untuk selanjutnya tak mau jauh dari penis di hadapannya. Aku benar benar menjadi terbakar saat Ananda tetap terpaku lalu aku mulai mengendus vaginanya dari belakang, dan mulai menjilati dari klitoris hingga lubang anusnya yang rapat. Rai bergerak ke belakangku dan melesakkan kepala penisnya yang besar ke dalam vaginaku.

Aku begitu bernafsu menjilati vagina Ananda, terpacu oleh lenguhannya yang tertahan penis James yang memenuhi rongga mulutnya. Penis Rai terasa penuh dalam vaginaku. Rai yang melihatku begitu bernafsu menjilati vagina Ananda menjadikannya menghentakkan pinggulnya dengan seluruh kekuatannya, membuat wajahku menampari pantat Ananda. Selang beberapa waktu kemudian..

"Tuhan, Rai, Aku..", Ananda menggeram seiring orgasmenya mengaliri lidahku.

Aku mengangkat wajahku dari vaginanya. Begitu dia menoleh ke belakang, seutas senyuman terkembang di wajahnya.

"Yanna, ternyata kamu yang melakukannya?" tanyanya terkejut.
Aku hanya mampu menjawab, "Ya, sayang" seiring Rai yang menyetubuhiku tak hentinya dengan bebas dari belakang.

Vaginaku coba beradaptasi dengan ukurannya, orgasmeku mulai merangkak, kepalaku terayun begitu Rai mulai melepaskan spermanya dalam diriku. Gerakan pinggangnya begitu dalam dan cepat.

Rai mencabut penisnya dari tubuhku, dia menyemprotkan sisa sperma terakhirnya pada vaginaku yang terbuka dan di atas perutku. Nafasnya yang memburu laksana seekor banteng di arena matador, melepaskan tekanan birahinya yang baru saja meledak. James sekarang berada di belakang Ananda dan mulai melesakkan batang penisnya pada vaginanya.

Ananda meringis kesakitan, memohon pada James untuk begerak pelan saat James mendorong dengan cepat seluruh batang penisnya menyeruak dalam vagina Ananda. James mulai bergerak pelan, tangannya mencengkeram pinggul Ananda dan menggerakkannya berlawanan dengan ayunan pinggangnya sendiri, mengubur batang penisnya dalam vaginanya yang rapat. Ekspresi yang tergambar pada wajah James sungguh tak terkira, dia menggeram melampiaskan perasaan yang menggempur dirinya.

Rai memposisikan dirinya hingga penisnya tepat berada di hadapan wajah Ananda. Dia menggerakkan kepala Ananda sampai menyentuh penisnya yang basah berkilat oleh campuran sperma kami. Ananda mulai bergerak menjilati batangnya, menjilati cairanku dan sperma Rai. Aku langsung mempermainkan vaginaku dengan jemariku karenanya.


Bersambung . . . .

0 Response to "Cerita Ananda - 1"

Post a Comment