Tiga wanita - 2

Pagi ini aku bangun dari tidur dengan badan yang terasa pegal. Bisa dimaklumi, karena sejak Sabtu hingga Minggu soreh kemarin, aku telah melewatkan hari yang penuh pemuasan nafsu birahi dengan Suwarsih di Villa Pacet. Aku tersenyum sendiri membayangkan pertarunganku yang dramatis dan mendebarkan dengan Suwarsih yang berbuah dada besar dan berpantat teramat besar yang selalu bergoyang-goyang indah, dihiasi oleh kemaluan yang hangat, basah dan berbulu lebat. Sambil bersiul-siul kecil aku melangkah ke kamar mandi. Badanku pun beralih segar setelah mandi, hilanglah segala kepenatan karena pertarungan dengan Suwarsih kemarin. Kuputuskan line telepon karena ingin kulewatkan hari itu sepenuhnya untuk beristirahat.

Hari berikutnya aku bangun dengan tenaga baru. Sekitar jam 11 pagi aku kembali ke rumah kost yang dekat dengan kampus. Baru saja aku masuk telepon berdering.
"Hallo", sahutku. "Ini Rudy."
"Hai kuda liar", sahut suara kenes seorang wanita. "Ini Sherlly."
Terdengar suara lembut, berbisik seksi penuh gairah nafsu birahi.
Aku tersenyum. Sherlly, saudara mantan ibu kostku yang berasal dari Manado, yang sekarang ini berumah di Darmo Permai. Ibu Sherlly, yang memperkenalkan diriku kepada Ibu Suwarsih, yang juga telah puluhan kali merasakan kejantananku.
"Malam Minggunya ada di mana, hayo", katanya mengikik.
"Nggak kemana-mana kok, Bu", sahutku nakal.
"Alaa.. sok aksi kamu ya", sahutnya. "Siapa yang menggeluti Suwarsih di Pacet sana, hayo."
"Kok tahu, Bu", sahutku pura-pura terkejut.
"Yah, tahu dong", katanya seksi, diiringi desah nafas yang menandakan nafsu birahinya sudah perlu dipuaskan. "Sore itu kutelepon Suwarsih, katanya lagi ke Pacet. Nah, ketika kutelepon kamu, juga nggak ada. Kesimpulan jelas, kamu sedang asyik menggumuli si montok itu. Ngaku aja deh. Emangnya kenapa?"
"Iri nih ye..", kataku tertawa.
"Idiih.. mentang-mentang jantan. Sok sombong kamu, yah", sahutnya. "Oh ya.. Aku mau mengundangmu ke rumah. Mumpung suamiku lagi ke Jakarta selama seminggu. Lagian anak-anak kan semua di Malang. Akhir-akhir ini kamu kok maunya 'tempur' sama Suwarsih doang. Bisa nggak nemenin aku?"
"Yah, kalau hanya menemani saja sih nggak mau aku", sahutku nakal. "Kecuali kalau mau 'tempur'nya. Hahaa.."
"Iddiih.. genit kamu yah", katanya. "Udah.. udah, aku nunggu di TP, sekarang juga."

Telepon diputuskannya. Aku tersenyum sendiri. Ibu Sherlly! Telah puluhan kali kusetubuhi wanita ini. Entah keuntungan dari mana yang menimpaku. Aku mengenalnya ketika kost di rumah saudaranya di dekat kampusku. Aku sering membayang-bayangkan seperti apa nikmatnya menggumuli wanita cantik itu. Keberuntunganku datang tiga bulan kemudian. Aku masih ingat. Malam itu hujan lebat. Suaminya pergi ke Jakarta, urusan bisnis. Dua anaknya yang masih kecil sudah tidur. Aku tertahan di rumah itu karena banjir melanda kota Surabaya. Aku disuruh ibu kostku mengantar satu barang ke rumahnya. Karena tak bisa pulang ia menelpon ibu kostku mengabarkan kalau malam itu aku nginap di rumahnya. Aku lagi berbaring di kamar tamu ketika terdengar pintu diketuk. Kubuka, dan Ibu Sherlly berdiri di hadapanku dengan tubuh yang hanya dibelit selembar kain batik.
"Ada apa, Bu", kataku dengan dada berdebaran melihat tubuh montoknya yang hanya dibelit sehelai kain batik. "Apakah hasratku menjadi kenyataan?" tanyaku.
"Tolong, yah", katanya. "Punggungku sangat pegal. Tolong dipijit."

Ia melangkah ke kamarnya tanpa menunggu persetujuanku. Aku mengikutinya. Di kamarnya ia berbaring tengkurap di atas tempat tidurnya. Kainnya tersingkap dan punggungnya yang padat berisi dan mulus itu segera kuremas-kuremas. Dan kelihatannya Ibu Sherlly sengaja mengangkat tubuhnya dengan bertopang pada kedua lengannya, sehingga tersingkap sedikit kedua buah dada yang bergantungan indah itu. Melihat itu, aku mulai sedikit meningkatkan aksiku. Ketika kupijit dekat lengannya, sengaja tanganku tergelincir, dan dengan itu menyentuh kedua buah dadanya. Sentuhanku semakin berani. Dari sekedar menyenggol, menjadi menggelus, akhirnya mencolek. Ia tertawa kesenangan.

Sementara itu, karena badannya terus menerus bergerak, kainnya semakin melorot. Dan tanganku semakin menyingkapkan kain itu ke arah pantatnya. Tanganku memijit dekat pantatnya, dan kugeser semakin ke bawah. Sadarlah aku, bahwa Ibu Sherlly ternyata tidak mengenakan celana dalam. Maka tanganku semakin nakal mendekati pantatnya. Sementara itu di atas sana, tangan kiriku semakin sering tergelincir. Ia mengerang nikmat. Pantatnya semakin terbuka. Ia rupanya memberiku kesempatan.

Sementara itu hujan di luar sana semakin lebat. Sejalan dengan itu, pantatnya semakin terbuka. Maka aku menjadi nekad, apapun yang terjadi. Pada saat yang bersamaan, tangan kiriku menyuruk ke bawah dadanya menangkap buah dada kirinya, sementara tangan kananku menyuruk ke balik pahanya. Serta merta kubalikkan tubuhnya. Ia terpekik, tetapi aku telah menyerang dan menindih tubuhnya yang montok dan mulus itu.
"Oh, Rudy.. aahh.. jangaann.." pekiknya, tetapi ternyata tangannya malah merangkulku. Aku tahu, itu hanya sandiwara penolakan.

Mulutku segera mencari mulutnya dan membekapnya. Ia terdiam. Lidahnya mulai beraksi menjulur ke dalam mulutku dan mempermainkan lidahku. Sementara itu, tanganku telah dengan leluasa menjarah tubuhnya yang sudah tidak tertutup sehelai benangpun. Mulut kami bermain dengan lincahnya. Puas kunikmati bibirnya, mulutku mulai beralih ke seluruh wajahnya. Tidak terdengar lagi erangan penolakan. Yang ada hanya erangan birahi yang semakin memuncak. Tangannya kini aktif bermain, meraba dan mengelus tubuhku, berusaha membangkitkan gairah yang lebih besar lagi. Tidak ada lagi gerakan penolakan seperti sebelumnya. Yang ada cuma nafsu menggila yang perlu pemuasan.

Akhirnya, kuputuskan untuk menyetubuhinya. Kulepaskan tubuhnya sambil mencopot celanaku. Dan sambil terus mendesis, aku menerkam tubuhnya yang montok. Di luar sana, hujan turun semakin deras seakan menjadi tirai yang melindungi kami. Malam semakin larut, tetapi kami semakin bersemangat. Tangannya yang halus terulur dan menangkap kemaluanku yang besar dan panjang, yang tegang dan keras seperti senapan mesin. Lalu perlahan dibimbingnya ke lubang kemaluannya. Aku mengikuti irama yang diciptakannya itu. Mulutku terus mempermainkan bibirnya. Dan sesampainya batang kejantananku di mulut lubang kemaluaannya yang berbulu lebat itu, tiba-tiba ia menghentakkan pantatnya. Bersatulah kami sepenuhnya. Kemaluanku dengan ganasnya meluncur, membelah bulu-bulu lebat dan hitam di seputar mulut lubang kemaluannya, meluncur tidak terkendali ke dalam lubang kemaluannya yang licin serta hangat itu.
"Aaahh.. aauu.., jeritnya tidak keruan.

Pantatnya berguncang hebat, menahan rasa nikmat yang tidak terkendali. Pahanya terangkat membuka lebar kemaluannya, sehingga kemaluanku dengan leluasa menyuruk masuk sedalam-dalamnya, menikmati setiap remasan dinding lubang kemaluannya.

Hujan tercurah dengan lebatnya. Sesekali guntur menggelegar mengiringi kilat yang menyambar. Tetapi semua itu sama sekali tidak mempengaruhi pergumulan kami. Kurasakan kuku-kukunya membenam di daging punggungku, sementara giginya menancap di bahuku. Jeritan nikmatnya tersekat di sana. Kuangkat pantatku dan menggenjoti kemaluannya, naik turun, naik turun, membuat dirinya merasa seperti terangkat ke langit-langit yang tinggi. Maka oleh satu hentakan keras, kusentakkan kemaluanku ke bawah, dan memancarlah spermaku ke dalam lubang kemaluannya. Aku menggeram menahan rasa nikmat mengiringi jeritan orgasmenya membelah dinginnya malam. Malam itu kami masih mengulanginya beberapa kali lagi.

Ternyata Ibu Sherly mempunyai teman senasib. Aku diperkenalkannya kepada dua temannya, Suwarsih (baca kisah 1) dan Mei (baca kisah 3). Bergantian aku menggeluti tubuh mereka untuk memberikan kepuasan sex yang sudah tidak mereka temukan lagi dari suami mereka. Kalau aku lagi butuh sex, aku dapat meminta salah satu dari ketiganya melayaniku. Dan sekarang ini Ibu Sherly mengundangku.

Cepat aku berpakaian yang rapih. Di depan Tunjungan Plaza aku turun dan menanti. Sebuah Toyota twin-cam hitam berhenti dan pintu kiri depan dibuka. Aku segera masuk. Setelah kututup pintunya, segera kuraih tubuhnya ke dalam pelukanku dan melumat bibirnya yang merah merekah. Ia melarikan mobilnya dan tidak lama kemudian kami tiba di Darmo Permai. Sambil bergandengan tangan kami melangkah memasuki rumahnya. Pintu dikunci dan kami segera beralih ke lantai atas. Kuangkat tubuh bahenolnya itu ke dalam gendonganku. Ia tertawa. Pahanya yang mulus bergoyang-goyang, sementara pantatnya yang teramat besar itu terasa hangat di tanganku. Tanpa basa-basi aku membawanya ke kamar tidur. Sambil berpelukan kami masuk ke kamar yang besar dan harum itu. Di tempat ini, di atas ranjang inilah pertama kali aku menyetubuhinya. Persetubuhan yang memberikan pengalaman indah bagiku, pertama kali menidurinya.

Kulemparkan tubuhnya yang indah itu ke atas ranjang. Ia tersenyum menatapku, menantikan aksi kejantananku. Segera kuterkam dia dan kamipun mulai bergelut. Mulut kami bersatu dan saling menyedot untuk membangkitkan nafsu yang lebih besar. Tangan kami masing-masing menjalar ke segala lekuk liku tubuh lawan masing-masing. Dengan leluasa kucopoti setiap lembar pakaian yang menempel di badannya. Kutarik rok pendek yang dikenakannya, lalu mencopot blousenya. Sambil terus menikmati buah dadanya dengan mulutku, kedua tanganku melingkar dan melepaskan kancing BH-nya. Buah dadanya mencuat keluar dengan indahnya, sementara perutnya yang rata dan putih mulus itu menggeletar-geletar menahan rasa birahi yang semakin meningkat. Akhirnya, tanganku meluncur ke bawah dan melepaskan celana dalam tipis yang dikenakannya. Kini ia terbaring telanjang tanpa sehelai benangpun. Kubiarkan dia berbaring telanjang bulat. Tenang-tenang tanpa terburu kulepaskan pakaianku. Dengan tubuh telanjang bulat aku menghampirinya. Matanya tertutup, tetapi ia pasti menyadari kehadiranku di dekat ranjangnya itu. Kulihat bulu badannya meremang, menahankan gairah birahi yang menggila.

Aku tersenyum mengamati tubuhnya yang indah dan montok itu. Wajahnya yang oval, kulitnya yang putih halus, alisnya yang cukup tebal, bibirnya yang sensual, pipinya yang bulat, dagunya yang mungil, lehernya yang jenjang, bahunya yang berisi, dadanya yang mulus dihiasi dua payudara yang besar dan mencuat ke atas seperti gunung kembar, dengan puting susu yang merah kecoklatan, perutnya yang rata dengan pusar yang menawan, pahanya yang putih mulus dan merangsang menggeletar, betisnya yang bulat, pantatnya yang teramat besar dan bulat yang suka berguncang dengan hebatnya kalau lagi menahan birahi, serta lubang kemaluannya yang kemerah-merahan, basah, licin dan dihiasi dengan bulu hitam lebat yang menutupi bukit kemaluannya. Pendek kata ia tampil sebagai seorang wanita yang sempurna dalam segi biologisnya yang sangat menyenangkan lelaki yang bersetubuh dengannya. Dan sekarang saatnya bagiku untuk membuktikan semua itu.
"Ngapain sih, nggak dimulai", protesnya. Mungkin karena terlalu lama menunggu, ia menjadi penasaran. "Aku udah nggak tahan nih."
"Nggak jadi deh", kataku memancingnya.
"Apa-apaan ini", katanya tersentak bangun. " Itu nggak fair namanya. Memangnya hanya Warsih yang menggairahkan. Cepetan dong, aku udah nafsu nih."

Aku tertawa. Serentak dengan itu kuterkam tubuhnya yang bahenol itu. Tubuh kami terguling ke atas ranjang yang empuk, yang telah puluhan kali menjadi arena penuh dendam birahi yang membara mencari kepuasan. Nafsu birahiku menggelegak. Kutindih tubuhnya dengan gairah yang menggila. Mulutku beraksi di sekujur wajahnya, sementara tanganku mempermainkan kedua payudaranya sepuas hatiku. Sementara itu, tangannya yang halus pun asyik mempermainkan kemaluanku yang mulai mengeras tegak seperti tank baja, siap menggenjot kemaluannya. Diremasnya, dielusnya, diusapnya, dipermainkannya dengan penuh gairah. Aku menggeram menahankan rasa nikmat yang semakin menghebat.

Mulutku mulai menikmati buah dadanya. Dengan penuh nafsu kukerkah kedua payudara itu. Ia membusungkan dadanya, agar mulutku dengan leluasa bisa menjelajahi setiap jengkal payudaranya. Mulutku mengerkah dan mengisap, diselingi dengan gigitan halus membuatnya mengerang tidak keruan. Ia menggeliat-geliat tanpa daya, lemas menikmati semuanya itu.
"Ooohh.. aahcchh.." erangnya.
"Auu.. ach..oouu.." lenguhnya kehilangan pegangan sama sekali.

Sejalan dengan itu kutingkatkan seranganku. Mulutku mulai memutari perutnya, sementara kedua tanganku melingkar ke pantatnya yang teramat montok dan mulus halus itu. Kuremas dengan penuh nafsu. Mulutku semakin mendekati kemaluannya. Ia semakin lebar mengangkangkan paha-nya, menanti intervensi mulutku ke kemaluannya itu. Kuisapi setiap jengkal perutnya untuk membangkitkan gairah nafsu birahinya. Semakin mendekati lubang kemaluannya, lenguhannya semakin keras.
"Aaauu.. Rudy.. lakukan.. sekarang.. sekarang.. aku tidak bisa tahan lagi.. aahh.. aacchh.." lenguhnya tidak keruan.

Aku tidak menghiraukannya. Aku masih ingin bermain, walau kemaluanku sendiri telah tegak seperti meriam, sudah ingin membelah lubang kemaluannya. Mulutku semakin mendekati kemaluannya. Kusapu sejenak lubang kemaluannya dan hinggap di pahanya. Kudengar desah nafas panjang menandakan kekecewaannya. Pasti ia menginginkan agar kubenamkan mulutku di kemaluannya. Tetapi tidak, aku malah merayapi pahanya semakin ke bawah untuk menikmati betisnya. Kuelus betisnya dengan tanganku, sementara mulutku terus mengisapi pahanya, semakin naik mendekati sentrum persetubuhan kami ini. Pahanya tergeser semakin melebar, seirama dengan gerakan mulutku yang semakin mendekati bagian terlembut dari tubuhnya. Akhirnya, setelah ia semakin tidak terkendali lagi, kubenamkan mulutku ke kemaluannya dan menjilatinya dengan penuh gairah. Ia tersentak bangun dan menekan kepalaku lebih dalam ke selangkangnya. Beberapa saat kubiarkan ia berbuat begitu untuk memberikan nikmat yang lebih besar.
"Aaahh.. aduuhh..", erangnya.

Tiba-tiba ia menolak tubuhku sehingga telentang di atas ranjang. Belum lagi hilang kagetku, mulutnya yang mungil telah melahap kemaluanku yang besar dan tegang itu. Aku terkesiap, membeliak menahankan kenikmatan yang tidak terkira. Ia mengisap dan mengulum dengan lincahnya. Lidahnya begitu pandai mempermainkan ujung kemaluanku, membuatku seakan berada di surga yang ke tujuh. Tetapi aku tak ingin dikuasai wanita itu. Maka cepat kusentakkan kepalanya ke atas. Mulutnya terbuka dengan mata yang nanar karena nafsu yang semakin menggila. Kurasa sudah saatnya menggenjot kemaluannya.

Kutolak dia ke atas ranjang. Ia tertelentang dengan paha yang terbuka lebar. Maka segera aku merebahkan diriku ke atas tubuhnya yang montok itu. Kedua tanganku merangkuli pundaknya sementara mulutku menjelajahi wajahnya. Dan di bawah sana, kemaluanku dengan ganasnya mencari jalan masuk. Sengaja beberapa kali kubuat meleset untuk membuat hilang kesabarannya. Dan memang, tidak lama kemudian tangannya yang mencengkam punggungku beralih ke sana. Tangan halus itu menangkap kemaluanku, meremasnya sesaat dan membimbingnya untuk masuk ke dalam lubang kemaluannya yang sudah membanjir dengan lendir licin itu. Dan kurasakan kemaluanku meluncur ke dalam dengan lancarnya membuat ia menjerit tertahan, menahan rasa nikmat yang tidak terkira. Kurasakan jepitan nikmat dan lembut yang dilakukan otot kemaluannya atas kelaminku. Aku menggeram menahan rasa nikmat. Ia terus menjerit-jerit tanpa arah.
"Aaah.." jeritnya panjang tanpa ampun.

Aku membiarkan ia meluapkan seruan kenikmatannya itu sesukanya. Dan di bawah sana, kemaluanku beraksi dengan ganasnya, mempermainkan kemaluannya sepuas hatiku. Kugenjot kemaluannya dengan gerakan maju mundur yang berirama, membuat ia seperti cacing kepanasan. Pahanya terangkat dan bergerak ke sana kemari tanpa arah. Kurasakan ia pun memutar-mutar pantatnya yang besar dan berguncang-guncang untuk memperbesar rasa nikmat birahi. Pantatnya yang besar itu menjadi andil yang memberikan kenikmatan yang hebat, bukan saja untuk dia tetapi untuk saya juga.

Aku semakin hebat mengamuk. Pantatnya semakin berguncang hebat. Pahanya terus bergetaran sementara tubuhnya menjadi licin dilumuri keringat. Mulutku terus menjarah rayah mulut dan pipinya yang montok dan merangsang. Kurasakan getar tubuhnya yang menahan rasa nikmat yang luar biasa. Sementara itu tangannya yang halus semakin kuat mencengkam punggungku. Aku semakin bersemangat mempermainkan kemaluannya. Kugerakan pantatku semakin cepat dan keras. Terkadang aku menekan dengan sangat halus, terkadang aku mendesak dengan agak kasar, membuat ia selalu ingin aku meningkatkan permainanku ini.
"Aaah.." jeritnya panjang.

Aku pun mulai merasakan kelelahan merayapi tubuhku. Sudah lebih dari sejam pertarungan ini. Kurasa perlu diakhiri. Maka dengan gerakan yang manis tetapi pasti kuhentakkan pantatku, kubenamkan kemaluanku dalam-dalam di lubang kemaluannya. Ia berteriak keras menandakan kenikmatan puncaknya.
"Aaauu..", serunya tertahan di bahuku.

Aku menggeram menahan rasa nikmat, mengiringi pancaran spermaku masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kurasakan cairan kemaluannya pun mengucur deras membasahi pahaku. Pahanya naik membelit pinggangku. Tanganku mencengkam kuat bahunya. Kurasakan buah dadanya mengeras di dadaku. Sementara kuku-kukunya membenam di dagingku. Nafasku memburu, tubuhku dan tubuhnya basah bersimbah keringat, panas tetapi teramat nikmat.

Setengah jam lamanya tubuh kami terbaring kaku, menggeletar nikmat, membiarkan tubuh ini menikmati sisa-sisa kenikmatan birahi yang ada. Badanku dan badannya melemas. Setengah jam berlalu, kuangkat wajahku. Ia membuka matanya dan tersenyum. Kucabut kemaluanku keluar dari kemaluannya, meneteskan sisa cairan vagina yang ada di sana. Kupandangi sejenak kemaluannya yang terbuka berwarna kemerah-merahan itu, seakan-akan tersenyum kepadaku. Bulu-bulunya yang hitam lebat itu basah kuyup dan menggumpal lekat pada sisi kemaluannya. Aku tersenyum dan memandangnya. Ia meraih tubuhku ke dalam pelukannya dan dan dengan halus mesrah mengecup bibirku sebagai ucapan selamat dan tanda terima kasih.

"Terima kasih jantanku", katanya sambil membelai wajahku. "Aku sangat puas dengan kejantananmu. Aku kagum. Kamu lelaki idaman setiap wanita di atas tempat tidur."
Kami saling berpandangan dan tersenyum, membayangkan masih banyak kali kami akan bertemu untuk memuaskan nafsu birahi masing-masing.

Bersambung . . .

0 Response to "Tiga wanita - 2"

Post a Comment