Gairah sesama jenis - 1

Jumat malam, waktu yang ditunggu-tunggu oleh hampir semua orang kantor. Bagi yang sudah berkeluarga, tentu ingin segera berakhir minggu dengan keluarganya, tapi bagi yang single sepertiku? Sudah lama tidak ada lagi yang 'apel' di rumah sejak pacarku (atau teman kencan?) pindah keluar kota beberapa minggu yang lalu. Sayang juga, padahal kami selalu saja melakukan hal-hal seru. Seperti biasa, aku yang paling terakhir meninggalkan ruang kantor. Semua rekan berpamitan pulang dengan wajah berseri-seri, ada yang dijemput pacar, ada yang dijemput suami/istri dengan anak-anak, bahagia sekali tampaknya. Aku merasa konyol, karena dengan bentuk dan paras seperti aku, yang lumayan cantik (kata orang), dan kurus tinggi seperti yang diinginkan banyak wanita lain, sebenarnya mudah sekali untuk mendapatkan teman kencan. Tapi aku tidak tahu kenapa aku menolak banyak ajakan rekan pria untuk kencan. Aku mulai merasa, apakah masa avonturir-ku telah berakhir? apakah masa pengembaraanku di dunia 'bebas' telah usai? Tapi beberapa saat setelah itu, aku sadar ternyata prediksiku itu salah.

Aku terdiam lama di dalam Katana hijauku di tempat parkir. Waktu masih menunjukkan pukul enam sore, terlalu dini untuk balik ke apartemenku di gedung **** (edited). Tapi kalau mau pergi jalan-jalan, juga terlalu sore. Akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi rumah seorang kawan dekatku, Ira. Dia mantan kakak kelasku, usianya 28 tahun, lebih tua 3 tahun dariku. Hidup sendiri cukup lama karena tidak juga menemukan pasangan yang tepat, maklumlah, potongan dan gayanya terlalu tomboy. Bicaranya pun kasar ceplas-ceplos, meski sebenarnya dia seorang yang berhati emas.

Tak lama kemudian, Katana hijauku berhenti di depan rumah Ira. Rumah mungil yang berwarna ungu dan berbentuk asimetris di sana sini, khas rumah seorang arsitek. Kutekan bel pintu, dan muncullah temanku itu, masih mengenakan kaos overall longgar, dengan rambut acak-acakan yang poninya dijepit ke atas.
"Sari! Tumben main ke sini pas weekend! Nggak ada yang ngapelin yah?"
"Ah, tidak kok Mbak, emang lagi sendirian nih, sejak ditinggal Ditto."
"Lho, memangnya pasaran turun? Biasanya kan cepet banget nemu gantinya?"
"Enak aja, aku cuman lagi kehilangan adventure touch-ku, Mbak!"
"Hihihi, ah ayolah masuk! Tapi sorry ya, aku masih lagi ngerjain gambar."
Aku pun mengikutinya masuk ke rumahnya yang funky itu. Ruang tamunya berdinding oranye, dengan kursi tamu dari ban bekas yang dicat warna warni. Kertas-kertas gulungan berserak di sana-sini. Benar-benar seniman tulen, pikirku.

Aku mengamati Ira yang berdiri di depan meja gambarnya yang tampak rumit, sambil mengamatinya lagi. Sebagai seorang berdarah campuran Belanda-Menado, Ira sangat cantik dan memiliki tubuh yang ideal. Memang tidak setinggi aku, namun ia sangat langsing dan menarik, lekuk pinggangnya begitu indah, pantat dan dadanya juga tidak berukuran terlalu besar dan menggantung, tapi padat dan kencang. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya putih bersih, alisnya tebal, matanya pun indah sekali, hidung dan dagunya lancip-lancip.
"Nggambar apaan sih Mbak?"
"Oh, ini project dari PT **** (edited)."
"Wah, duit besar nih, rupanya?"
"Tidak kok, cuman bantuin teman aja."
"Aku mengganggu kerjaan Mbak Ira, ya?"
"Nggak kok, Sar, deadlinenya masih lama, cuman aku aja yang pengen cepat selesai, biar cepet dapet duit, hihihi."
"Haha.. memang itu yang mesti dikejar Mbak, biar hidup tenang."
"Ah, gimana mau tenang, Sari? Rasa-rasanya boseen deh hidup sendirian."
"Yah, kenapa Mbak Ira tidak kawin aja?"
"Hahahaha.. kawin?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Belum laku sih, Sar!"
"Mana mungkin? Mbak Ira cantik gitu, masa nggak ada yang naksir?"
"Ah jangan puji-puji gitu dong, bisa ge-er nanti aku!" jawaban Ira yang terakhir itu dilakukannya sambil melirik padaku.

Lirikan itu terasa aneh, agak-agak.. gimana gitu. Aku sih, tadinya tidak merasa apa-apa, tapi aku bingung juga, apa maksudnya. Lalu dia bertanya lagi,
"Kamu sendiri gimana, Sar? Masih avonturir terus?"
"Yah.. seperti yang Mbak tahu lah."
"Ati-ati lho, Sar, jaman sekarang kan udah ngga sehat gaya hidup gitu."
"Ah, kan yang aku pilih itu sudah lewat seleksi semua, Mbak!"
"Iya sih, tapi ati-ati ajalah, siapa tahu ada yang kurang baik."
"Justru itulah, avonturirku ini kan bertujuan untuk menemukan yang terbaik!"
"Hahaha, ada-ada aja kamu, Sar. Omong-omong, ceritain dong tentang petualanganmu, siapa tahu aku jadi dapat hikmahnya!"
"Eits, masa aku harus cerita sampai sedetail-detailnya?"
"Hahaha, boleh aja, siapa tahu bisa menghangatkan suasana?"

Sampai kemudian ponsel Ira berbunyi. Kami lalu berhenti berbicara dan ia berbicara cukup panjang di ponsel, dengan bahasa Belanda yang aku tidak mengerti. Setelah minum segelas air es, kami duduk di sofa ruang tengahnya yang nyaman. Rumah itu mungil namun benar-benar tertata. Ruang tengah itu memiliki satu sisi dinding kaca, menghadap ke halaman belakang yang tidak luas, namun indah sekali dengan tanaman bunga-bunga dan kolam ikan. "Kamu tidak gerah pakai baju kerja gitu, Sar? Copot blazernya laah!" Aku pun melepaskan blazer biru muda yang kukenakan. Di balik blazer itu aku mengenakan kaos ketat pendek berwarna putih. Ketat sekali hingga kedua payudaraku tercetak dengan indah dan sempurna, sementara kaos itu juga amat pendek, hingga perutku yang halus dan langsing bisa mengintip keluar. Dari tadi Ira menatap tubuhku.
"Badan kamu bagus sekali, Sar. Fitness terus yah?
"Nggak kok Mbak, cuman berenang aja seminggu dua kali."
"Wah.. seharusnya otot-otot kamu keras dong?" kata Ira sambil memegang-megang lenganku.
Tapi pegangan-pegangan itu terus berubah menjadi remasan-remasan lembut, yang pelan-pelan bergerak ke pundakku.
"Hmm.. Bagus sekali badan kamu, Sari.. aku pengen punya badan seperti ini. Boleh nggak aku melihat sampai ke dalam-dalamnya?"
"Ahh.. Mbak Ira, emangnya badanku beda dengan badan Mbak?"
"Ya beda dong, Sar.. Badanku biasa aja, tidak sekencang badanmu, mau lihat?"

Sambil mengakhiri kata-katanya, Ira tiba-tiba menarik ujung kaosnya dari bawah, mengangkatnya ke atas, lalu terlepaslah kaos oversize-nya dari badan. Aku melihat tubuh Ira yang tak mengenakan apa-apa selain celana dalam hitam. Kulit tubuh yang kuning langsat, halus mulus, pinggang yang ramping, pinggul yang kencang, leher yang jenjang dan halus, dan.. payudaranya sungguh indah, jauh lebih indah daripada payudaraku sendiri yang aku bangga-banggakan. Bentuknya bulat, kencang dan padat, putingnya berwarna kemerahan, dan tampak mencuat agak tinggi di tengah lingkaran yang juga kemerahan.
"Eh.. Mbak.. kok gitu sih?"
"Kenapa, Sar? Jelek kan badanku? Susuku aja tidak sekencang dan sebagus susu kamu.." katanya sambil tangannya meremas buah dadanya.
"Tapi bagian ini sensitif sekali.." katanya sambil jemarinya mengusap kedua putingnya, menarik dan memilin-milin.
Matanya setengah terpejam menatapku, dagunya agak terangkat, ekspresinya tampak sedang menghayati rasa geli yang dibuatnya sendiri, sambil mengeluarkan desahan lirih, "Mmm.. mm.." Aku pun bisa membayangkan rasanya bila puting susuku diperlakukan seperti itu, aku pun sudah pasti menggelinjang kegelian.

Diam-diam aku terangsang juga membayangkan kalau puting susuku diplintir-plintir begitu oleh jemari seorang pria. Ira berhenti memainkan putingnya, dapat kulihat kini betapa kedua puting susu yang kemerahan itu kini menjadi semakin merah dan tampak tegang sekali seperti penghapus pensil. Melihat dari bentuknya, tampaknya kedua puting Ira sudah tak asing lagi dengan hisapan, jilatan, atau perlakuan-perlakuan semacamnya. Aku pun secara iseng bertanya, "Mbak Ira sudah pengalaman gitu, lho!"
"Ahh, kamu lebih berpengalaman lagi dong, Sar!"
"Maksudku.. kenapa Mbak tidak pergi kencan di malam minggu begini?"
"Nggaklah, Sar. Malam minggu gini, teman kencanku diapelin orang lain."
"Diapelin? emangnya..?"
"Iya, dia diapelin oleh pacarnya. Hari lain sih, kami bebas aja."
"Emangnya.. siapa sih teman kencan Mbak?"
"Kamu tahu si Renny kan? Yang psikolog itu?"
"Renny?"

Aku agak terkejut ketika mendapati bahwa sahabatku itu ternyata bercinta dengan sesama jenis, padahal keduanya tampak normal saja, tidak ada yang terlihat tomboy atau kelelaki-lakian. Bahkan Renny yang diceritakannya itu sangat feminin dan dikenal sebagai wanita karier yang sukses dan disegani di kota kami.
"Kenapa Sar? Jadi selama ini kamu belum tahu?"
"Sejujurnya sih.. belum."
"Hihihi, kamu terbebas dari gossip rupanya, eh? Dasar yuppies!"
"Eh.. Bener lho, aku tidak mengira sama sekali, Mbak."
"Hahaha, eh, Sar.. pernah nggak kamu membayangkan melakukannya dengan sesama wanita?"
"Hmm.. tidak tahu yah? Aku belum pernah membayangkan, atau terpikir ke arah sana sih.."
"Tahu tidak, Sar? Sesama wanita itu lebih nyaman. Tidak egois, penuh penghayatan dan emosi! tidak promosi lhoo!"
"Hmm.. aku bisa bayangkan bahwa seorang wanita mungkin lebih tahu cara memperlakukan badan wanita daripada pria."
"Jelas dong, kalau pria, mereka memperlakukanmu seperti permen karet!"
"Permen karet?"
"Iya, menelanjangimu, membawamu ketempat gelap, lalu menikmatimu sehabis-habisnya, sampai mereka tidak merasa nikmat lagi, lalu kamu dibuang begitu saja."
"Oh?"
"Iya, belum lagi, kadang-kadang mereka suka meniup permen karet jadi menggelembung gendut!"
"Hahaha.."
Kami tertawa-tawa lagi. Tapi sedikit banyak aku mulai membayangkan gambaran Ira tadi, bahwa tidak ada yang lebih tahu tentang tubuh wanita selain wanita sendiri.

Aku dari tadi bersandar di dinding kaca sambil bercakap-cakap dengan Ira, pembicaraan mulai mengarah ke hal-hal yang membangkitkan birahi, meski masih juga diselingi canda ria. Namun kini aku menyadari kalau Ira mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, dekat sekali. Lalu pelan-pelan tangannya menghampiriku dan menyentuh perutku yang mengintip dari balik kaos pendekku. Entah kenapa, aku tidak melawan ketika wajah Ira mendekati wajahku, lalu mulutnya mendarat di bibirku, mengisap dan membasahinya dengan lidahnya. Aku merasakan kehangatan yang berbeda dengan yang sudah pernah kurasakan dari belasan pria. Sangat berbeda. Bibir wanita ini terasa lembut, lembab, dan membuat bibirku terasa geli dan enak. Aku mulai merasakan tangan Ira yang dari tadi hanya bermain di perutku mulai menyingsingkan kaosku ke atas, dan kini kehangatan tangannya merambati pinggang dan punggungku, aku merasakan hangat yang lain dari yang lain. Ira memejamkan matanya dan mulai menggerakkan tangannya pelan-pelan ke atas. Mengusap perlahan-lahan pinggangku, lalu kurasakan kehangatan telapak tangannya yang halus meraba ke atas ke punggungku, aku sedikit berjingkat ketika kehangatan itu tiba di tengkukku yang sangat sensitif, aku mengangkat bahuku kegelian, tanpa sadar aku mengerang, "Ngghh.." Lalu bibirnya meninggalkan bibirku, merambati rahangku sambil meniupkan nafas halus yang membuat pertahananku semakin melemah.

Aku memiringkan kepalaku ke kiri ketika bibir dan lidahnya yang lembut dan lembab serasa membelai leher dan telinga kananku, Ohh.. geli sekali rasanya, namun aku tak ingin menghindar. Lidahnya bermain di telinga kananku, membuat rintihan memelasku terdengar lagi. Di sela jilatannya, kudengar Ira berbisik, "Sar, kulepas kaos kamu, ya?" Aku hanya mengangguk lemah dan mengangkat kedua tanganku ke atas agar ia dapat meloloskan kaosku dengan mudah, dan ia melakukannya. Kaosku belum juga terlepas dari tanganku, dan masih menutup wajahku ketika kurasakan hangat bibirnya tiba-tiba menciumi belahan dadaku yang halus. Di tengah kegelian aku akhirnya mampu meloloskan kaosku dan melemparnya jauh-jauh. Tangan Ira memeluk tubuhku erat-erat hingga aku dapat merasakan kehangatan dan kelembutan kulit tubuhnya bersentuhan menempel erat pada perut dan dadaku. Kehangatan yang serasa menyelimuti dan menaungi tubuhku, memberiku rasa lemas yang tak terperi.

Bersambung . . . .