Siang pejabat, malam waria - Ketua DPRD Propinsi

Para demonstran itu menuntut agar para anggota DPRD Propinsi yang hari ini dilantik berjanji untuk tidak melakukan korupsi. Aku tidak terlampau kaget. Demo sejenis juga terjadi di berbagai daerah. Dan kenyataannya Gubernur dengan tanpa ragu hari ini melantik seluruh jajaran Anggota DPRD hasil pemilihan umum April 2004 kemarin.

Namun tak lepas pula dari upaya mendinginkan emosi rakyat pendemo. Oleh para konstituen aku diharapkan mau menemui mereka untuk menampung aspirasinya. Aku tak hendak menghindar dari tugas ini. Sekretariat dewan akan mengatur semuanya agar keselamatanku terjamin. Siapa tahu terjadi ledakan emosi dan mereka bertindak brutal di luar kendali.

Aku memasuki sebuah ruangan yang dijaga keamanannya dengan ketat. Para demonstran diwakili oleh 15 orang yang dipimpin oleh seorang lelaki yang cukup tua dan nampak sangar banget. Usianya mungkin sekitar 50 tahunan. Pak Wahidin namanya. Dengan duduk diapit oleh 2 orang yang tak kalah sangarnya dia mengaku sebagai eksponen masyarakat yang tergabung dalam Persatuan Masyarakat Bersih.

Aku memperhatikan betapa postur Pak Wahidin yang usianya sudah 50 tahunan ini. Nampak tubuhnya begitu sehat dan kekar. Kulitnya coklat kehitaman menggambarkan biasa hidup dalam kondisi dan situasi yang keras. Wajahnya mengkilat dengan kumisnya yang lebat melintang. Dari balik kaos oblong yang dipakainya nampak gumpalan otot dadanya yang sebersit nampak pula bulu-bulu yang lebatnya. Dengan tampilan tubuh dan wajahnya itu tak ayal Pak Wahidin nampak sangar dan mendebarkan layaknya jagoan.

Sesudah melempar bicara dan menyampaikan apa yang mereka tuntut, selaku Ketua Dewan aku berjanji untuk meneruskan tuntutan mereka ke pihak-pihak yang berwenang. Dan terjadi kesepakatan bahwa perlu dibuatnya Kontrak Politik yang isinya adalah janji para anggota dewan untuk tidak melakukan korupsi. Pak Wahidin memandangku dengan tajam. Pandangan itu terasa sangat menusuk sanubariku. Aku tergetar saat matanya bertumbuk dengan mataku. Mata Pak Wahidin memiliki cahaya yang menaklukkan. Pantaslah kiranya dia dipilih selaku pimpinan Persatuan Masyarakat Bersih sebagaimana yang dia kenalkan tadi.

Seusai peristiwa itu dan semua pihak merasa menang, 'win win solution', kami memulai kerja selaku anggota dewan sebagaimana seharusnya. Jam 5 sore aku menyiapkan diri untuk pulang. Hari ini aku ada acara khusus yang sangat pribadi. Pada istriku menjelang keberangkatanku tadi pagi, aku bilang kemungkinan aku pulang malam karena kesibukanku. Dia sangat memahami tugas-tugasku.

Dari lemariku yang selalu kukunci aku mengeluarkan semacam traveling bag yang isinya adalah perabotan wanita berupa beberapa pakaian siap pakai, kosmetik dan wig atau rambut palsu. Inilah duniaku yang lain. Tak bisa kuingkari, kecenderunganku untuk tampil sebagai wanita selalu menyertai kemanapun aku berada. Hal ini mulai kulakukan sejak 3 tahun terakhir dimana secara ekonomi dan sosial justru pada saat aku mulai mapan. Duniaku yang ke dua ini memiliki komunitas dan kebiasaan sendiri yang khas yang sama sekali beda dengan komunitas duniaku yang lain, selaku Ketua DPRD Propinsi X.

Keluar dari kantor aku bergegas ke mobilku. Aku bergaya sibuk banget untuk menghindarkan teman mengajak aku ngobrol dan menahanku. Kulemparkan traveling bag-ku ke bagasi. Sambil menunggu hari gelap aku parkir di lobby Daichi Hotel di bilangan Jakarta Pusat untuk sekedar minum kopi dan merenungkan kejadian sehari tadi. Aku masih ingat kumis melintang Pak Wahidin yang sangar itu. Tubuhnya yang tetap sehat dan penuh otot serta bulu di usianya yang 50 tahun. Dan aku juga ingat bagaimana matanya begitu 'sugestif' menembus mataku.

Sekitar jam 7 malam aku kembali ke mobilku. Kuambil traveling bag dari bagasi. Aku keluarkan isinya dan aku mulai melepasi baju resmiku selaku anggota dewan. Aku mengganti pakaianku dengan pakaian yang telah siap di traveling bag-ku.

Dalam tempo tidak lebih 10 menit, aku sudah menjadi wanita idaman. Aku adalah waria yang cukup dikenal di seputar rel KA Dukuh Atas hingga ke jalan Tanjung Karang dimana Restoran Steak Slizzer ada di sana. Kini aku meluncur dengan mobilku ke arah jalan Tanjung Karang. Aku parkir di depan Slizzer untuk mengesankan bagi yang mengenali mobilku bahwa aku ada di restoran itu.

Dengan sepatu hak tinggiku aku berjalan bak peragawati menuju kerumunan teman-temanku yang telah lebih dahulu hadir. Tak lama kemudian, tiba-tiba.. ciitt.. Sebuah Jeep Willys tua me-rem dan berhenti persis di sampingku. Dalam keremangan lampu jalanan dari jendela mobil yang telah terbuka muncul seseorang dan menegur aku..

"Hai maniss.. Kita jalan yok".

Wow.. Penglaris nih. Belum 5 menit aku 'mejeng' telah ada lelaki yang nyamber. Aku melihat ke dalam mobil. Ada 2 orang temannya yang juga melemparkan ajakannya,

"Ayoo.. Maniss.. Kita menikmati malam indah..".

Aku langsung membayangkan 'three in one'. Kenapa tidak. Obesesiku untuk menjilati 3 kontol sekaligus mungkin terpenuhi sekarang. Tanpa banyak pikir aku mengiyakan ajakan mereka dan aku naik ke jeep tua ini. Sang sopir mengarahkan mobilnya menuju Motel Pulo Mas. Aku tahu tempat itu. Para tamuku juga senang ke motel itu. Suasananya cukup romantis.

Aku belum bisa melihat wajah-wajah mereka. Lampu jalanan tak cukup memberikan penerangan ke dalam jeep tua yang kami tumpangi. Namun aku merasakan mereka ini sepertinya sedang merayakan kemenangan. Mereka bergembira sambil menenggak bir di sepanjang jalan menuju motel. Tingkah laku lelaki macam mereka membuat aku takut namun sekaligus syahwat birahiku berkobar.

Aku takut akan eksesnya orang minum, namun kekasaran para lelaki akan memberikan sentuhan dan imajinasi nikmatnya seks yang khas. Aku memang suka membayangkan nikmatnya saat lelaki-lelaki kasar memperkosa aku. Mereka memaksakan kontolnya masuk ke mulutku. Mereka menyodomi aku. Mereka menumpahkan sperma-spermanya ke wajahku, ke mulutku.

Akhirnya kami sampai di Motel Pulo Mas. Petugas motel mengarahkan jeep tua ini menuju salah satu motel yang kosong. Jeep langsung masuk ke garasi yang pimtunya langsung menutup. Kami turun melangkah ke kamar.

Begitu masuk kamar, aku mulai melihat wajah-wajah mereka. Rasanya aku pernah mengenalnya tetapi aku lupa dimana. Sementara itu salah seorang telah langsung nyosor menerkam tubuhku dan meng-'ubek' dadaku. Aku merasakan kumisnya yang sangat menggelitik merangseki leherku. Aku mulai melepasi bajuku untuk menghindarkan lusuh.

Lelaki yang lain tak kalah ganas. Mereka langsung 'ngobok-obok' selangkanganku. Kontolku diremasinya. Tentu saja gatal birahi langsung menyambar aku dan kontolku ngaceng tegak kaku.

Tiba-tiba ingatanku menyala terang. Bukankah orang ini adalah Pak Wahidin beserta dua orang temannya yang mengapitnya saat berhadapan dengan aku di ruang DPRD tadi siang. Edan. Aku agak ragu, apakah benar-benar mereka tidak mengenali aku selaku Drs. Ali Akbar MBA yang Ketua DPRD Propinsi. Rupanya dengan penampilanku sebagai Agnes, waria Dukuh Atas, telah sama sekali menghapus gambaran Drs. Ali Akbar, MBAƂ–ku. Ahh.. Bisa begini..

Namun aku tak punya kesempatan untuk memikirkan hal itu. Pak Wahidin dan kawan-kawannya telah melucuti aku hingga telanjang bulat dan mereka juga telah sama-sama bertelanjang bulat. Pak Wahidin langsung merangsek aku. Bibirnya yang bau bir nyosor memagut bibirku. Kami saling melumat. Kekasaran mereka ini langsung mendongkrak libidoku. Tanganku mengimbangi dengan meraih dan meremasi kontolnya.

Tubuh Pak Wahidin yang telanjang yang penuh bulu menggesek-gesek tubuhku yang mulus licin. Aku bergidik. Gatal birahiku menebar keseluruh pori dan saraf syahwatku. Dia begitu bergairah merasai tanganku meremasi kontolnya. Lumatannya turun ke dadaku dan meninggalkan cupang-cupang sedotan bibirnya. Aku bukan waria dengan buah dada besar. Aku waria yang buah dadanya tetap lelaki, kempes. Namun itu tak menghalangi Pak Wahidin untuk mengemuti pentilku. Dan rasanya di sanubariku bukan main.

Kulihat teman-temannya tidak mau mengganggu Pak Wahidin. Mereka hanya berdiri menyaksikan ketuanya sambil memegang kontolnya ngaceng karena mereka mengelusi atau mengocok-ocoknya. Sementara lumatan bibir Pak Wahidin semakin merangsek ke bawah. Aku merasakan lidahnya menyapu perut dan puserku.

Karena Pak Wahidin sibuk di bawah dan kini mulai merambah selangkanganku, salah satu anak buahnya mendekatkan kontolnya yang telah membengkak gede panjang ke mulutku. Dia nampak telah demikian intens mengocok-ocoknya. Aku rasa dia ingin aku mengulum dan dia memuncratkan spermanya ke mulutku. Aku mengangakan mulutku sebagai tanda bahwa aku menunggu kontolnya dan spermanya.

Dan terjadilah. Mulut Pak Wahidin mengulum dan memompa kontolku sementara mulutku mengulum kontol anak buahnya. Kini ada dua orang yang mengayun aku. Dan tak lama kemudian sperma teman Pak Wahidin muncrat menyemburi rongga mulutku. Dia mendesah hebat sambil menekan wajahku. Dia mau melihat bahwa aku benar-benar menelan air maninya. Kemudian dia mundur.

Sementara itu pompaan mulut Pak Wahidin membuat birahiku semakin menggelegak. Dan bisa kutahan lagi aku siap menyemprotkan spermaku. Dengan cepat kuraih kepala Pak Wahidin dan kujambaki rambutnya. Pinggulku berkejat-kejat mengantar muncratnya air maniku. Pak Wahidin nampak sibuk menenggak yang tumpah di mulutnya dan menjilati yang tercecer.

Lain lagi teman keduanya. Melihat ketua dan temannya telah berkesempatan menikmati tubuhku dia mendapatkan giliran melahap aku. Didorongnya balik tubuhku dan diangkatnya pantatku. Aku diminta nungging dan dia akan menembaki lubang pantatku. Mana aku mampu menahan tenaganya yang kasar dan kuat itu. Aku ikuti saja kemauannya.

Dalam posisi kepala dan dadaku tiarap, aku mengangkat pantatku menungging tinggi. Aku menunggu temannya itu menaiki aku bak anjing kawin. Aku menanti kontolnya merasuki lubang taiku. Dan terjadilah.

Dengan ganasnya dia menjambak rambutku dan menusukkan kontolnya ke lubang pantatku. Rasa pedih dan ngilu langsung merebaki tubuhku. Aku menjerit menahan rasa panas dan pedih. Kontol temannya ini sangat sesak menembusi dinding analku.

Demikianlah aku digilir oleh mereka. Tanpa ampun setiap orang beberapa kali menumpahkan spermanya ke mulutku. Dan beberapa kali pula pantatku ditembusi kontol-kontol mereka. Pertarungan keras ini berlangsung hingga larut malam.

Pada sekitar jam 2 malam aku diantar kembali ke Dukuh Atas. Dengan lunglai aku berjalan ke mobilku. Sesudah kembali memakai baju Ketua DPRD-ku, aku meluncur pulang. Di rumah aku masih harus mempersiapkan agenda dan kertas kerjaku untuk besok pagi. Rencananya Pak Wahidin dan kawan-kawannya akan kembali menemui aku untuk menyodorkan naskah Kontrak Politik yang isinya adalah janji politik untuk tidak korupsi selama kami menjabat Anggota Dewan. Aku harus membuat persiapan yang lebih cermat, termasuk mandi yang betul-betul bersih untuk menghilangkan parfum Agnes, sisi wariaku, dan menyembunyikan cupang-cupang yang ditinggalkan Pak Wahidin dan teman-temannya di tubuhku.

Tamat