The power of love - 1

Niki adalah cewek paling ngetop di kantorku. Cantik, supel, berduit, dan luas gaul. Terbukti beberapa temanku tertarik dan mencoba mendekatinya, selain dua lainnya yang kutahu pasti diam-diam sudah sering jalan sama dia. Yang satu si Aji seniorku, modalnya kuat (kapal pesiarnya saja ada dua). Satunya lagi Fendi adik kelasku semasa kuliah, ganteng, aktif gaul, dan populer di kalangan cewek. Keduanya kukenal baik.

Aku sendiri cukup bergaul walau tidak tertarik berurusan sama cewek kantor sendiri. Di kantor aku lebih dikenal sebagai orang yang 'serius' dan 'banyak urusan melulu'. Biar begitu, setiap ada waktu aku selalu menyempatkan diri nimbrung sejenak dengan mereka, cewek-cewek kantor. Aku sebenarnya tertarik juga sama Niki, tapi karena 'pertarungan'-nya demikian seru jadi rada malas untuk ikutan. Sampai satu saat, datang peristiwa yang mengawali kedekatanku dengannya.

Mulainya: April 1993 ..

Hujan deras sore itu membuat yang pulang kerja mengumpul di sekitar lobby menunggu ojek payung.
Niki datang terengah-engah dengan berkerudung koran, "Aduuh, tolong dong, mobilku mogok di depan situ."
Aku tidak terlalu mengerti soal mobil, tapi karena berdiri paling dekat, aku duluan merespon.

"Dimana mobilnya Ki..?" tanyaku.
Niki menunjuk ke arah jalan keluar sambil menyerahkan kunci. Kuseret si Joni bule yang ngerti mobil untuk menemani, dan kuserobot ojek payung yang mendekat. Bergegas kami menghampiri mobil itu. Joni langsung membuka kap mesin, aku bisanya hanya megangi payung. Dalam beberapa menit mobil langsung hidup, sementara itu Niki menyusul dengan payung lain.

Kami naik mobil sama-sama. Niki batal kuliah karena telat, lalu mengajak kami makan. Joni menolak karena ada kencan lain, ia diturunkan di kantor, lalu kami jalan. Singkat cerita, setelah kesana kemari bingung cari makan, akhirnya kami hanya nonton di KC, dengan makan malam kentang goreng dan lemper. Selama nonton Niki menyandar ke bahuku, telapaknya yang kedinginan digosokkan ke lenganku. Kami pulang tanpa terjadi apa-apa kecuali satu hal, kami semakin akrab.

Sebelum melanjutkan, aku cerita sedikit soal pribadi. Beberapa tahun lalu pernah kejadian cewekku selingkuh, sialnya aku sendiri yang mergoki. Kami putus, tapi sesudahnya 'barang'-ku sulit sekali berfungsi, padahal hasrat seksualku cukup tinggi. Saat nonton dengan Niki, entah kenapa batangku tiba-tiba bangun mengeras, persis layaknya saat aku normal.

Sesudahnya kami sering jalan sama-sama. Pulang kantor kalau Niki tidak kuliah, kami jalan pakai mobilnya, biasanya makan malam sambil ngobrol bertukar pengalaman masing-masing. Pernah kusinggung tentang hubungannya dengan Aji dan Fendi. Niki hanya ketawa, tapi secara tidak langsung ia cerita soal hubungan dengan keduanya, dan alasan kenapa ia tertarik. Hanya, di antara kami bertiga katanya aku yang paling nyaman diajak jalan, karena yang lain tidak mau terbuka, maunya 'ngumpet-ngumpet'.

Dua bulan berlalu hanya diisi dengan makan, ngobrol, nonton pameran dan hal-hal yang sejenis, tapi kami sudah sangat dekat. Di hari ulang tahunnya, Niki kuhadiahi souvenir dan ciuman di pipi. Lalu satu ketika aku pulang dari tugas ke Bali, ia kubawakan oleh-oleh baju. Spontan ia menciumku di bibir yang membuatku terperangah, terlambat bereaksi. Niki meninggalkanku terbengong-bengong.

Hangatnya: Juli 1993 ..

Malamnya (atau beberapa hari sesudahnya, aku agak lupa) ia mengajakku ke Ancol. Sambil makan bihun goreng ia memintaku cerita tentang pacar-pacarku yang disimaknya dengan antusias. Tentu saja aku cerita yang perlu-perlu saja. Sesudahnya obrolan dilanjutkan di mobil.

Niki duduk di jok driver, aku di sebelahnya. Ia menghidupkan mesin, menyalakan AC dan musik. Lalu sambil berdendang mengikuti lagu (kuingat, lagunya The Beauty and The Beast) ia merebahkan sandaran jok, aku juga. Mengikuti suasana hati, kami berduet sambil tangan saling menggenggam. Lalu terbawa suasana rileks dan syahdu, tangannya yang dalam genggamanku secara naluriah kubawa ke bibir, kucium lembut. Tiba-tiba bibir kami mendekat, kami berciuman.

Seperti air mendidih di panci tertutup, begitu dibuka uapnya menyembur ke mana-mana, begitulah kami. Begitu bibir menempel kami bengong, diam sekian detik, lalu meluap! Ganas lidahnya yang menjelajahi rongga mulutku tidak kubiarkan, lidahku menjulur membelit lidahnya. Sementara bibir menempel ketat, tanganku tidak lagi menggenggam, tapi sudah menjelajah ke pinggang, punggung dan perutnya, lalu dilanjutkan dengan membuka kancing kemejanya.

Niki akhirnya menyeberang ke jok tempatku, merapatkan pelukan untuk menumpahkan kedekatan kami dalam bentuk yang lebih nyata. Jok yang didisain untuk satu orang ternyata muat untuk berdua, bahkan masih cukup ruang untuk saling melucuti pakaian.

Sementara tanganku menyusup ke BRA-nya, Niki membuka Zip celanaku, juga jeans-nya sendiri. Batangku yang tegak mengintip dari pinggir CD makin mengeras oleh remasan jarinya. Aku melepas kaitan BRA, membuat sepasang buah ranum itu bebas mengembang. Penjelajahan jariku di putingnya membuat Niki mendesis seperti kepedasan.

Aku menarik Niki ke atas tubuhku yang telentang di jok. Kurengkuh tubuhnya hingga buah dadanya terjangkau oleh bibirku. Lembut kujelajahi buah ranum itu dengan lidah dan kuhisap putingnya perlahan. Aku berusaha melepaskan jeansnya sampai ke bawah pantat hingga tanganku bebas menyelusup ke dalam CD, mengusap lipatan pangkal pahanya yang basah dibanjiri cairan birahi, membuatnya menggelinjang. Tanganku kutekuk hingga jariku dapat menggapai klitorisnya.

Niki terlonjak oleh sentuhanku. Ia menegang sejenak, lalu sambil menggelinjang menggosok-gosokkan mulut vaginanya pelan ke jari-jariku yang terjepit oleh pangkal paha dan lipatan jeans. Dengan mata terpejam menikmati hisapan di putingnya, gesekan Niki di jariku semakin cepat, dan Niki mengerang sambil mendekap kepalaku erat-erat, lalu melemas dalam pelukanku, ia orgasme.

Sesudahnya Niki mencoba membangunkan penisku yang lemas akibat gesekan jeans yang agak menyakitkan. Aku menolak dan dia agak kecewa (problemku kini, bila ada gangguan sedikit saja yang mengurangi kenyamanan akan berakibat 'burungku' kehilangan kekerasannya). Kuyakinkan ia bahwa aku tidak apa-apa.

Dalam perjalanan pulang kuceritakan problemku itu pada Niki, ia dapat mengerti. Dan kami kembali ngobrol dengan asyik. Kami makin dekat lagi!

Hari-hari berikutnya kami jadi terbiasa petting di mobil (hanya petting karena ternyata ia masih virgin), dan Niki selalu berusaha membantu membesarkan hatiku agar lebih percaya diri. Tapi aku tetap belum berhasil orgasme, sekeras apapun penisku selalu saja pada akhirnya melemas tanpa sebab.

Mendidihnya: September 1993 ..

Suatu ketika kami 'ngetem' di parkiran Taman Ria Senayan (waktu itu masih arena bermain anak-anak, dan kalau malam dipakai parkir warga ibukota yang ingin kencan di mobil). Setelah persiapan beres (pipis, cuci tangan, Aqua dan tisyu, blazer di gantung di jendela) kami mulai bersantai di jok belakang.

Sambil saling melepas pakaian, kami melakukan fastkissing, ia begitu pandai membangkitkan birahi dengan ciuman-ciuman kilatnya di sekujur tubuhku, sehingga begitu lembar terakhir pakaianku lepas, batangku sudah sangat keras.

Ukuran jok belakang hanya sepanjang tubuh lebih sedikit. Di situ tubuh telanjang Niki tergolek telentang dengan kaki kiri terjuntai di lantai mobil, kaki kanannya mengait ke jendela yang dibuka sedikit. Sambil jongkok di depannya, ciumanku menjelajahi leher dan dadanya seraya tanganku mengusap tubuhnya.

Sinar bulan yang menerobos dari rear window membuat tubuh telanjang Niki berkilauan. Buah dadanya yang besar nampak berkilat oleh jilatan lidahku, membuat gairahku memuncak. Sementara tangannya meremas batangku yang makin mengeras, jariku yang licin oleh cairan birahinya menggosok kelentitnya, pelan dan teratur.

Dengan menelungkupi tubuhnya, ciumanku kini menjelajahi perutnya, menggeser ke bawah pelan-pelan membuat tubuh Niki yang hangat bergetar. Lalu kepalaku membenam di antara pahanya yang terbuka, memudahkan lidahku menjilati celah vaginanya. Niki menggeliat mempererat genggamannya pada kemaluanku yang dibasahi dengan cairan yang menetes dari kepalanya, lalu mengocoknya seirama dengan sentuhan lidahku di kelentitnya. Kocokan dan desahannya membawaku pada perasaan yang sudah lama tidak kualami.

"Hmm.. Ki, kayaknya aku mau keluar.." aku berbisik sambil menciuminya.
"Keluarin aja.., gesekin aja ke memek.. Niki juga hampiir.."

Aku berputar, mencoba menindih Niki di jok yang ukurannya tidak memadai untuk kegiatan ini dan berusaha menggesek-gesekkan batang kemaluanku yang sedang pada puncak kekerasannya ke bibir vagina Niki yang sudah banjir oleh cairan kenikmatan yang meleleh dari liang perawannya. Rasa nikmat yang hampir terlupakan kini merambat ke seluruh tubuh, berputar, bergulung, mendesak memenuhi pucuk batangku.

Akhirnya Niki menggeser pantat ke pinggiran jok seraya menekuk kedua pahanya ke atas, sehingga dengan berlutut aku dapat menggesekkan leher kemaluanku di celah vaginanya, menggelitik klitorisnya yang membuat Niki mengerang. Gelombang dahsyat bergulung-gulung di seluruh tubuhku, mendesak-desak ke ujung kemaluan, dan akhirnya menyembur membasahi perut Niki. Akhirnya, AKU BISA ORGASME LAGI! (Aku tidak akan lupa kejadian itu Ki..!).

Dari pengalaman itu Niki menyimpulkan bahwa untuk dapat orgasme aku harus santai, tidak buru-buru, telanjang total dan privacy. Sejak itu petting dilakukan di hotel, motel, atau kalau terpaksa di mobil harus di tempat yang bebas gangguan.

Aku dapat memijat sedikit, dan Niki menyukainya. Biasanya Niki telungkup, kumulai dengan memijat telapak kaki, paha, pantat terus naik ke punggung. Saat memijat lengan, kadang-kadang Niki sudah tidur. Aku biarkan saja sementara aku baca-baca atau nonton film. Saat ia bangun baru kami mulai bercumbu.

Pernah juga saat aku telentang dan ia di atas menciumiku, tiba-tiba ia memborgolku di tempat tidur. Aku telentang tidak dapat menggerakkan tangan, hanya dapat mengejang dan menyepak. Sementara ia dengan ciuman dan jilatannya di seluruh tubuhku membuat batang kemaluanku tegak mengeras. Niki lalu menunggangiku, menyusuri leher kemaluanku dengan belahan vaginanya yang basah oleh cairan birahi. Kelembutan bibir vagina yang basah mengusap leher dan kepala kemaluanku, membuat rasa nikmatku membubung tinggi. Dengan cepat aku mencapai orgasme.

Niki juga menyenangi posisi konvensional. Aku di atas dengan tangan menggenggam batang kemaluan, terus helm-ku kuusapkan di mulut vaginanya. Cairan pembuka yang menetes dari ujung penis membasahi permukaan bibir vagina, melicinkan sentuhan ke klitorisnya. Rangsangan itu membuat cairan vaginanya membanjir. Kepala kemaluanku yang berlumuran cairan menjelajahi klitoris dan mulut vaginanya membuat Niki menggelinjang, mengerang sambil mencakari punggungku sampai ia orgasme.

Tiba giliranku, Niki merapatkan pahanya, menjepit batang kemaluanku yang basah licin menggesek di mulut vaginanya seolah digiling-giling. Dengan menggerakkan batangku keluar masuk jepitannya, maka tidak lama kemudian aku pasti menyusul.

Bersambung ...

0 Response to "The power of love - 1"

Post a Comment