Cinta tak harus memiliki

"Cinta tidak harus memiliki.." kata-kata klise yang selalu menjadi alasan pembenaran sikapmu. Semudah kau datang semudah itu kau pergi dan persetan dengan semua kenangan, persetan dengan segala apa yang pernah terjadi dan kita rajut berdua. Akh Rani, andai kau mau mengerti atau apa aku yang tak bisa mengerti? "Val.. jangan terlampau mendramatisir suasana, jangan siksa aku dengan sikapmu, jangan kurung aku dengan cintamu.." Rani, lantas bagaimana harus aku bersikap? membiarkan kau pergi? dan menunggumu bila kau telah lelah?

Bogor, Desember 1999

"Rani.. atas nama cinta.. atas segala apa yang pernah kita jalani.. jadilah istriku!"Rani terdiam mendengar permintaanku, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa Ran?"
Rani terdiam, menghentikan tertawanya, menatapku tegas.
"Cinta tidak harus memiliki.. Val.." katanya pelan.
Tapi bagiku ibarat geledek.
"Lantas? apa arti semua ini?" tanyaku sambil bangkit dari tidurku.
Rani bergerak dari posisi tidurnya, memakai celana dalamnya, dengan santainya ia berdiri, berjalan ke depan cermin dan menyisir rambutnya.
"Sudah jam empat sore Val, aku harus pulang," katanya sambil mengenakan celana dan bajunya. "Nggak usah ngantar deh.. Rani pulang sendiri ya.."

Aku masih termangu menatapnya.
"Hai.." Rani mencium keningku.
"Jangan bengong gitu dong.. jelek akh.. tuh.. pakai bajunya..!"
"Aku antar kamu pulang!" kataku tegas.
Rani menatapku, bola matanya tajam menatap."Kita harus bicara Ran, aku nggak bisa terus-terusan begini.." ujarku.
"Oke.. oke, kalau kamu nggak bisa, bukan berarti aku harus kau paksa Val," suaranya meninggi.
"Hai, kenapa kamu emosi sih?" tanyaku sambil memegang pipinya.
Rani menepis tanganku.
"Aku sayang kamu Val, aku cinta kamu, tapi aku nggak suka cara kamu memaksaku.."
Rani berlari menghempaskan pintu kamar kostku.
"Ran.. tunggu..!"
Sia-sia teriakanku, tidak mungkin aku mengejarnya. Apa kata orang satu kost, ketahuan deh berantemnya. Akh wanita, makhluk yang tidak pernah bisa kumengerti.

Bogor, Februari 1997

Rani menghampiriku dengan wajah berlipat di kantin kampusku.
"Hai Val.." sapanya sambil duduk di sampingku, "Bagi satunya?" Rani mengambil rokokku yang terletak di meja, aku mengangguk.
"Dari mana Ran?" tanyaku sambil merapikan diktatku di meja.
"Cari Rio.." jawabnya sambil menarik nafas dan menghembuskan asap rokoknya.
"Kelihatannya BT amat sih?" tanyaku, "Ada masalah lagi ya?"
Rani mempermainkan rokok di tangannya.
"Tau akh.." jawabnya.
Aku jadi malas melanjutkan pertanyaanku, aku sudah kenal Rani lama sejak masih tingkat satu. Aku hafal sifatnya, kalau ditanya terus bisa pecah perang dunia ketiga deh, bisa-bisa aku yang jadi korban, nanti juga pasti dia cerita sendiri. Lama kami saling membisu, aku pura-pura menyibukkan diri dengan meneruskan catatan kecilku untuk bahan skripsi.

"Kapan maju sidang Val?" tanya memecah kebisuan.
"Mudah-mudahan sih bulan depan, kamu?"
"Aku tinggal perbaikan dikit terus bisa maju, semestinya minggu ini juga udah kelar, tapi aku lagi BT. Hai.. Val kamu masih lama di sini?"
"Nggak juga, tadi aku mau pulang. Oh, aku ke kost kamu ya.."
Aku mengangguk, pasti mau "curhat" lagi deh ini anak.

"Val.. Rio ninggalin aku.."
Aku terkejut.
"Val.. kamu dengar enggak sih?"
Aku mengecilkan volume tape-ku dan menghampirinya.
"Kamu serius?"
Rani mengangguk.
"Kenapa Ran?"
Aku masih dilanda keterkejutan yang dalam.
"Rio menghamilin Santi!"
Rani memelukku. Aku mengelus rambutnya, sementara pikiranku menerawang jauh."Bajingan!!"

Aku mulai akrab dengan Rani sejak awal masa ospek kami di kampusku. Terus terang, keakraban itu sempat membuatku menaruh harap padanya. Semakin hari kami semakin akrab saja, dari mulai belajar bersama, jalan bersama, bahkan sering Rani tidur di kamarku tentu saja kalau dia tidur aku mengungsi ke kamar sebelah. Semua anak-anak menyangka kami pacaran. Dan kalau aku bilang omongan anak-anak ke Rani, Rani hanya tertawa sampai ngakak. Siapa yang tidak ingin jadi pacarnya? Wajah yang menarik, kulit putih bersih, bodi yang menawan, yah semakin lengkap ia menjadi wanita dengan sikapnya yang sangat manja tapi kadangkala sangat tegas. Perhatiannyapadaku dan kepintarannya membuatku semakin menaruh harapanku. Dan harapanku kandas, ketika suatu saat disaat aku dengan keberanian yang telah kukumpulkan selama kurang lebih seminggu dan dengan kalimat yang telah tersusun di otakku, aku menghampiri Rani yang sedang asyik membacabuku di perpustakaan kampus.

"Hai.."
Aku mengacak rambutnya, Rani menoleh, tersenyum manis.
"Tumben ke perpus," ujarnya.
"Ran, aku mau bicara."
Aku duduk di sampingnya.
"Bicaralah!" ujarnya sambil menatapku.
"Nggak enak akh disini, kita ke kantin yuk!" ajakku.
Rani menarik tanganku.
"Yuk, aku juga udah boring nih disini."
Aku menatapnya sambil menghirup juice jeruk pesananku.

"Mau ngomong apa sih Val..?""Eng.. eng.. gini Ran.."
Sialan kenapa aku jadi gugup, batinku. Lama aku diam, mempermainkan rokok di jariku.
"Kok lama banget sih? ada apa sih Val.. emang serius banget ya Val?"
Rani heran melihat kelakuanku.
"Eeh.. kamu ada acara nggak hari ini?" tanyaku mencoba menetralisir suasana.
Rani mengangguk.
"Acara apa?" tanyaku.
"Rio ngajakku nonton."
"Rio?"
"Iya, kenapa Val?"
"Kamu jadian sama dia?" Rani mengangguk.
"Kapan?" suaraku melemah. "Baru sih Val, rencananya aku mau ngomong ama kamu.. tapi aku lihat kamu minggu ini sibuk banget, waktu aku samperin kamu-nya malah menghindar."

Oh Rani tahukah kau, aku menghindar karena aku mulai mencintaimu, setiap berdekatan aku semakin tak bisa memendam keinginanku untuk mencintaimu, tapi aku selalu bingung memulainya.
"Ini kencan pertama kami," Rani melanjutkan kata-katanya.
"Val.. kamu nggak papa khan?" Rani terkejut melihat wajahku yang pucat pasi.
"Nggak.. enggak.. selamat deh."
Aku berdiri, berjalan meninggalkan Rani yang sepertinya menatapku heran.

Every night I pray
When you come back to me
But tears keep falling down my face
When you are not around..

Sejak itu aku mulai menghindar. Rani sering mensamperiku ke kost dan aku pun selalu berpura-pura menyibukkan diriku dengan perkuliahanku. Aku semakin jauh darinya. Sepertinya Rani tahu juga mengapa aku menghindar. Suatu ketika dia menghampiriku di kampus. "Val.. maafin aku.." ujarnya sambil mengenggam tanganku. Aku salah tingkah, dan belum sempat aku berbicara, Rani pergi meninggalkanku, kulihat ia menyeka air mata dengan sapu tangannya.

Sang waktu yang berlalu, aku mulai dapat menahan hasratku pada Rani. Tiga bulan terakhir ini Rani mulai sering mampir di kostku. Bercerita tentang hubungannya yang mulai retak sama Rio.Tapi aku tidak begitu menanggapinya, takut aku salah melangkah lagi dan menaruh harapan pada kesusahan Rani, tapi hari ini tangis Rani membuatku tersadar. Betapa menderitanya ia. "Rio.. bajingan kau!" umpatku geram. Rani masih terus menangis, aku berusaha meredakannya. Aku tahu Rani telah berkorban segalanya untuk Rio. Rani bercerita padaku semua, semuanya, sampai kegadisannya yang hilang. Dengan amarah yang meluap, entah karena iba melihat Rani atau karenasisa cintaku, Rio diopname di rumah sakit karena luka-luka di badannya akibat perkelahian denganku.

Waktu terus berlalu. Perubahan demi perubahan terjadi. Sore itu, Juli 1997, aku mengajak Rani ke kampungku, menghilangkan stress setelah selesai ujian tengah semester. Perjalanan yang jauh membuat sesampainya di rumah aku langsung tertidur, setelah terlebih dahulu mengenalkan Rani kepada orang tuaku. Aku tidur di sofa dan Rani tidur di kamarku. Tengah malam aku terjaga.Takut terjadi apa-apa dengan Rani, aku membuka pintu kamarku. Lampunya dimatikan, aku mendengar isak tangis, "Ran.." tidak ada jawaban, aku masuk dan menghidupkan lampu. Kulihat Rani tidur menelungkup dan menyembunyikan wajahnya. Aku menghampirinya duduk di sebelahnya. "Ran.. kenapa?" tanyaku pelan sambil mengelus rambutnya. Tetap tidak ada jawaban, tapi kini isak berganti tangis. Aku membalikkan badannya. Rani menghapus air matanya.

"Val.. maafin Rani.."
"Maaf? Maaf apa?"
Rani memelukku.
"Aku baca catatan kamu tentangku.. di buku kamu. Aku nggak bisa tidur, gue iseng baca-baca.. dan gue.. gue merasa bersalah banget sama kamu.."
Rani memperkuat pelukannya. Aku terdiam, memperhatikan bukuku yang terletak di atas meja kamarku.
"Kamu ambil dari laci ya?"Rani mengangguk. Di buku itu semua harapanku kepada Rani tertulis.
"Val, maukan maafin Rani?"
Aku mengangguk, mencium keningnya.
"Sudah tidur lagi," aku beranjak keluar. Rani menarik tanganku.
"Bercintalah denganku Val, miliki diriku, ambillah walaupun hanya sisa.

Aku meletakkan jariku di bibirnya supaya Rani tidak melanjutkan ucapannya yang menyiksa dirinya dan diriku. Diciumnya jariku lembut, dimasukkannya ke mulutnya. Kubelai rambutnya, "Val.." bisiknya di telingaku sambil tangannya melingkar di leherku. Rani tidak meneruskan kalimatnya, diciumnya bibirku dengan lembut dan semakin lama semakin panas. Rani melepaskan ciumannya. Berdiri di depanku yang menatapnya dan melepaskan satu persatu pakaiannya. "Tuntaskan penantianmu malam ini Val, nikmati tubuhku." Direbahkannya dirinya yang polos di sampingku.Diambilnya tanganku diletakkan di payudaranya sambil diremasnya. Aku masih terkesima, antara sadar dan tidak. "Kamu begitu baik, Val.." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutnya.

Rani mencium bibirku, lembut sekali. Dibaringkannya tubuhku di tempat tidur. Lidahnya bermain di belakang telingaku, ke dada, dan mengitari seluruh permukaan perutku. Akh, Rani mulai mengelus kejantananku yang masih terbalut celanaku. Dengan giginya, dibukanya celana pendekku, lalu celana dalamku. Kami telah sama-sama polos. Aku masih dalam posisi terlentang. Antara bingung dan gejolak yang luar biasa. Dengan senyum manisnya, Rani menjulurkan lidahnya ke arah kejantananku. Dimainkannya ujung lidahnya di pangkal kejantananku. Ah.. indah sekali. Aku tak mampu berkata apa-apa saat mulutnya mengulum kejantananku sambil sesekali diselang-selingdengan mencepitkan buah dadanya. Aku hampir saja tak kuat menahan "lava" di dalam kejantananku.

Tapi di saat aku hampir menyemburkannya, tangannya dengan lembut memijat pangkal kelelakianku itu. Ajaib, "lava" itu tak jadi keluar meski tetap bergejolak. Demikianlah, hal tersebut dilakukannya berulang kali. Hingga dia berkata, "Val aku ingin memberimu hadiah yang tak akan kamu lupakan." Dia lalu duduk di atasku, tepat di atas kejantananku. Diambilnya kejantananku terus dengan gerakan begitu lembut dimasukkannya ke dalam kewanitaanya. "Ugh.. ah.." erangannya begitu mempesona, dan aku pun memegang pantat bulatnya. Tapi segera dia berkata, "Ssst.. aku akan memberimu kebahagian!" Terus dengan gerakan memompa dan memutar, kurasakan seluruh darah mengalir ke bawah. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Sambil berciuman kurasakan dia memompa kewanitaanya. Lalu dicengeramnya tubuhku kuat-kuat. "Aggh.. agh.." seluruh ototnya meregang. Putingnya tegak berdiri dan disorokannya ke mulutku.

Lalu dengan keliaran yang tak kubayangkan sebelumnya, kulumat habis puting itu sambil membalas pompaannya. "Ah.. terus.. Val.. terus.. jangan berhenti!" erangannya semakin membuatku liar. "Lagi.. Val.. lagi.. ini ketiga kalinya.. ayo Val.." dan tanpa dapat kutahan spermaku menyembur. Rani segera menariknya keluar. Lalu dijilatinya cairan sperma itu. Kenapa dia tidak jijik? Dengan senyum manisnya seakan dapat membaca pikiranku. "Nggak Val aku ingin membuatmu senang.." Rani rebah di pelukanku.

Bogor, Januari 2000

Dear Val,

Kamu tidak akan pernah mengerti mengapa aku memilih menghindar. Cintamu membuatku takut menjalaninya. Aku mencintaimu setulus hatiku sejak dulu, sejak kita menjalani masa-masa kebersamaan kita, jauh sebelum aku mengenal Rio. Tapi kupendam perasaanku karena kau tak pernah atau tak mau mengerti tentang itu.

Val-ku sayang. Kamu tahu kamu memiliki diriku, tapi hanya sisa yang dapat kuberikan. Itu terus menyiksaku walaupun kau tak pernah mempersalahkan. Ada sesuatu yang aku pun tak mengerti kenapa aku melakukannya. Kamu tahu Val? Rio dan Santi telah mempunyai anak kan, dan mereka kelihatan bahagia, tapi aku tidak bisa menerima kenyataan itu. Aku pergi menghindar darimu karena aku tidak bisa membiarkan Santi mempercundangiku. Kamu tau khan, dia teman baikku dulu? dan begitu tega dia merampas Rio dari sisiku. Cintaku kepada Rio tidaklah sebesar cintaku kepadamu, tapi dendamku pada Santi tidak ada yang pernah mengalahkannya.Aku tidak akan pernah tenang sebelum mereka hancur.

Sudah sejak 3 minggu yang lalu aku menjalin affair dengan Rio, aku ingin merusak rumah tangga mereka. Val, maafin aku. Aku benci mereka!!

Love,
Rani Maharlika

Tamat

0 Response to "Cinta tak harus memiliki"

Post a Comment