I've been waiting for you - 2

Di villa itu banyak sekali yang datang dan suatu ketika datanglah seorang laki-laki yang cukup tampan dan tegap menghampiriku sambil menggandeng seorang wanita. Dia memperkenalkan diri sebagai teman e-mail dan ICQku selama ini, dia bernama Anton. Aku sungguh tidak percaya bahwa wajah dia sama persis dengan almarhum kekasihku yang sangat kuakungi. Sama persis seperti pinang dibelah dua. Aku berkenalan diri dengannya dan akhirnya dia memperkenalkan perempuan di sisinya adalah adik kandungnya yang dia ceritakan sewaktu di ICQ dan e-mail.

Akhirnya kami tertawa berdua melihat kelakuan kami masing-masing. Beginilah jadinya kalau sudah lama kenal tapi nggak tau orangnya.. candanya sambil mempersilakanku duduk kembali. Kami duduk berhadapan dan beberapa saat terdiam sambil saling menatap dan tertawa bersama lagi. Wah, pokoknya kikuk sekali deh waktu itu. Perlahan-lahan kemudian suasana kaku itu mulai mencair dan kami terlibat dalam pembicaraan yang akrab seperti halnya yang telah kami lakukan sehari-hari di internet. Ia mengajakku masuk ke dalam pesta itu. Suasananya sudah disetting seperti discotic, musik pun mulai berdentuman dan mereka satu persatu masuk ke arena dansa dan mulai bergoyang dengan segala macam gaya. Kami hanya bisa tertawa menyaksikan aneka tingkah para remaja ini. Dan ketika si DJ memutar lagu slow mereka pun berteriak, Huu.. Kuperhatikan beberapa pasangan dewasa undangan orang tuanya mulai masuk dan melantai.

Aku sedikit tergagap ketika kurasakan tanganku tiba-tiba sudah tergenggam dengan lembut. Turun yuk.., ajaknya dengan senyuman mautnya itu. Mana mungkin kutolak, batinku. Ketika aku hendak melangkah ke arena dansa, ia menggapai lenganku. Di sini aja.. tukasnya. Akhirnya kami mulai mengambil posisi di sebelah tempat kami duduk. Ia memulainya dengan menggamit lengan kiriku dan meletakkan lengannya yang lain di pinggangku. Aku segera mengatisipasinya dengan sedikit merapatkan tubuhku dan meletakkan tangan kananku di bahunya. Kami berdansa dengan mata saling berpandangan. Oh betapa syahdunya, kupuaskan diriku dengan memandang wajahnya yang memabukkan itu. Kamu cantik.. bisiknya dengan tatapan matanya yang tak pernah lepas memandangku. Pujiannya semakin membuat diriku mabuk kepayang, tak kusadari tanganku mulai meremas bahunya. Wajahnya semakin lama semakin mendekat ke wajahku, hatiku pun berdegup kencang. Dan ketika hidung kami bersentuhan, kupejamkan mataku. Tak lama kemudian kurasakan sebuah kecupan di pipi! Ahh.., keluhku dalam hati. Ia melepaskan genggaman jemarinya pada tanganku dan melingkarkannya di pinggangku.

Kurebahkan wajahku di bahunya dan menghadap ke arah lehernya, terhirup olehku aroma khas parfum lelaki dari lehernya. Kami tetap bergoyang perlahan mengikuti alunan lagu. Nyaman sekali rasanya didekap olehnya, kupejamkan mataku. Iapun tak lebih dari mendekapku. Timbul keinginan nakal dariku untuk menggodanya. Kudekatkan wajahku lebih jauh lagi ke lehernya hingga dapat kurasakan nafasku sendiri. Perlahan kuturunkan tangan kananku hingga bertengger di dadanya. Dengan perlahan dan tak kentara jemariku menelusuri dadanya hingga kutemukan puting dadanya dibalik t-shirt yang dikenakannya.

Sesaat kemudian dengan lembut dengan satu jariku kuusap-usap puting dadanya yang semakin lama semakin terasa menonjol. Ia hanya bereaksi sesaat dengan mengencangkan dekapan tangannya pada pinggangku. Tak lama kemudian kurasakan sesuatu mengganjal di bagian perut bawahku dan semakin lama ganjalan itu semakin terasa. Tetapi hebatnya hingga lagu itu usai ia tak melakukan apapun lebih dari sekedar mendekapku.

Usai berdansa, kami hanya duduk, menikmati minuman dan tak banyak berbincang, apalagi ditengahi oleh suara musik yang hingar bingar. Akhirnya kami bosan dan memilih untuk keluar dari ruangan itu. Dengan bergandengan tangan kami menyelusuri pekarangan villa yang sangat luas itu. Kami lebih banyak terdiam dan menikmati pemandangan alam. Aku sendiri sudah merasa kehabisan topik pembicaraan, kupikir sudah waktunya aku untuk pamit.

Kayaknya udah waktunya aku pulang.. biar nggak kemaleman di jalan.., kataku memecahkan keheningan di antara kami berdua.
Kamu nggak bisa lebih lama lagi di sini..? ia menatapku dengan wajah penuh harap.
Masih ada hari esok.. jawabku.
Trims yaa.. kedatangan kamu berarti sekali buatku.. ucapnya membuat hatiku berdebar.
Perlahan kemudian ia semakin mendekat dan kemudian merengkuh bahuku, membuatku jatuh dalam pelukannya. Ia menatapku dengan tatapan tajamnya yang mempesona itu. Wajahnya semakin mendekat ke wajahku. Jantungku semakim berdebar kencang, kupejamkan mataku. Sesaat kemudian kurasakan sebuah kecupan, lagi-lagi di pipi! Tak kusadari ada kekecewaan dalam hatiku, kubuka mataku, kulihat sebuah senyum tersungging di bibirnya. Namun sesaat kemudian, bagaikan bisa membaca isi hatiku ia mendaratkan ciumannya di bibirku. Ohh.., serasa lemas tubuhku.. Kupejamkan mataku menikmati ciuman lembutnya di bibirku, dunia serasa berhenti saat itu.

Aku seakan tak ingin melepaskan ciuman di bibirku, dan ketika ia melepaskan ciumannya dengan tak kusadari kedua tanganku serta merta merengkuh lehernya dan menariknya kembali untuk berciuman. Kali ini ia lebih agresif, kurasakan gerakan bibirnya semakin intens dan akupun sudah tak sanggup menahan diri lagi. Kulumat bibirnya dengan gemas. Sesaat kemudian lidahnya menerobos masuk ke dalam rongga mulutku, menyapu dengan mesra. Ahh, dengan gemas kupilin lidahnya dengan lidahku. Dengan nafas terengah-engah kami berdua menghentikan adegan ciuman panas itu. Dengan erat kupeluk dirinya, kurebahkan wajahku di dadanya dengan mata terpejam. Sampai beberapa saat kami berdua saling berdiri dan berpelukan atau malah tepatnya aku yang memeluknya, bagaikan seorang kekasih yang lama tak berjumpa. Hingga diriku tersadar dengan apa yang telah kulakukan. Ohh, betapa malunya aku saat itu, dengan gugup kulepaskan pelukanku. Tak sanggup aku menatapnya saat itu, dan mungkin saat itu wajahku sudah merah padam menahan malu. Ayo.. kuantar ke depan.. ucapnya lembut. Dengan lembut ia merengkuh bahuku ketika kami berjalan ke arah tempat mobilku terparkir. Kunaiki mobilku dan mengendarainya pulang dengan hati penuh warna.

Sesampai di rumahku, aku mendengar dari Televisi bahwa pesawat yang ditumpangi oleh suamiku sewaktu pulang dari Miami mengalami kecelakaan dan aku tersenyum simpul terhadap diriku karena aku bisa dengan bebas menemui Anton yang sangat kudambakan karena kemiripan namanya dan wajahnya yang mirip dengan almarhum kekasihku yang meninggal dahulu. Tepat ketika televisi kumatikan, Anton datang ke rumahku dan mengagetkan diriku yang masih terbengong-bengong di sofa. Anton datang ke rumahku karena dia mengaku bahwa dia ingin memulangkan saputanganku yang baru kusadari bahwa aku meninggalkannya di villa rumahnya. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya dan aku memeluknya dengan mesra. Kedua tangannya itu kemudian beralih melingkari pinggangku, beberapa saat ia mendekap tubuhku dari belakang. Ohh, aku hanya bisa dengan pasrah menyandarkan tubuhku ke belakang.

Berikutnya kurasakan sebuah benda lembut dan basah menempul di bahu kiriku dan sesaat kemudian ia mulai mengecupkan bibirnya itu. Bulu kudukku mulai merinding ketika kecupan bibirnya bergerak semakin ke atas di leherku. Tanpa kusadari mulai terdengar desah lembut dari balik bibirku, kuresapi kenikmatan bibirnya yang perlahan-lahan mengecup bagian belakang leherku. Aku hanya bisa memejamkan mata dan kedua tanganku mengusap-usap kedua tangannya yang melingkari perutku, kurasakan sesuatu yang mengganjal di pinggulku, semakin lama semakin terasa dan mengeras. Dan ketika kurasakan jilatan lidahnya di balik cuping telingaku aku pun menggelinjang dengan tubuh mulai gemetaran.

Aku tak tahan lagi, kulepaskan dekapan tangannya. Aku segera membalikkan tubuhku dan memeluknya, kulingkarkan kedua tanganku pada lehernya dengan bernafsu kutarik wajahnya mendekat dan sesaat kemudian kami sudah tenggelam dalam sebuah ciuman yang dahsyat. Bagaikan sedang berlomba aku dan dia saling melumat bibir, saling berusaha meneroboskan dan memilin lidah. Kedua wajah kami saling oleng kesana kemari semakin lama dekapan tangannya di pinggangku semakin kuat, kedua tangannya pun mulai sesekali meremas kedua belah pantatku.

Aku baru menyadarinya ketika kami saling melepas ciuman untuk mengambil nafas. Dengan nafas terengah kami berdua saling menatap. Kedua dada kami naik turun mengimbangi nafas yang terengah-engah. Saat itulah kusadari ketika kurasakan betapa kedua puting buah dadaku terasa geli. Darahku semakin mendesir ketika aku berusaha melihat ke bawah, terlihat olehku sebuah pemandangan yang bagiku sangat mempesona, kedua buah dadaku ternyata telah polos dan tergencet oleh dadanya yang penuh oleh bulu itu. Engahan nafas yang membuat dada kami naik turun itu justru membuat bulu-bulu di dadanya secara otomatis menyapu-nyapu permukaan buah dadaku, Ouchh gelinya..

Beberapa saat kemudian ia menggenggam kedua jemariku dan perlahan menarikku ke arah tempat tidur. Dan disaat ia melangkah mundur itulah handuk yang tadinya masih tertahan di pinggangku akhirnya jatuh ke lantai. Aku sudah tak memperdulikannya lagi, nafsu birahiku sudah memuncak sampai ke ubun-ubun. Ia berhenti di sisi ranjang dan berdiri tertegun, kedua matanya tak henti-hentinya menatap dan menjelajahi seluruh tubuhku. Kutahu saat itu ia tengah terpesona oleh keindahan tubuhku yang putih mulus dan padat berisi yang baru pertama kali dilihatnya. Aachh.. aku tak kuasa menahan tatapan matanya itu. kupejamkan kedua mataku, kubiarkan ia menikmati pemandangan indah dari tubuhku itu sepuas hatinya. Aku baru membuka kedua mataku ketika ia dengan perlahan menarik tubuhku hingga terjatuh di ranjang.

Dan sesaat kemudian kami pun sudah bergumul di atas ranjang. Ia yang kukenal lembut itu ternyata berubah menjadi buas di atas ranjang. Bibirnya tak henti-henti melumat bibirku seiring dengan kedua tangannya yang menjalar kesana kemari di sekujur paha dan pinggulku. Dan nafsuku semakin menggelora ketika ciuman dan lumatan bibirnya bergerak ke arah dadaku, tubuhku terguncang bagaikan dialiri arus listrik lemah ketika bibirnya melumat dengan lembut puting buah dadaku. Ohh.. nikmatnya saat itu. Kesadaranku sudah timbul tenggelam diantara kenikmatan yang kurasakan dan menyadari apa yang dilakukannya, kedua mataku pun sudah terpejam rapat, kedua bibirku tak mampu lagi menahan desah dan rintihanku. Aku hanya sesaat membuka kedua mataku ketika kurasakan ia mulai menindih tubuhku. Tatapan mataku jatuh ke wajahnya yang tampak penuh nafsu. Ahh.. inilah saatnya, pikirku.

Dengan perasaan campur aduk tak karuan aku mulai memejamkan mataku. Dan debar jantungku semakin kencang ketika sesaat kemudian sesuatu yang hangat dan kenyal terasa menempel dengan kuat di bagian depan kewanitaanku. Menyadari apa yang tengah terjadi itu ternyata memicu kesadaranku untuk kembali melambung tinggi entah ke mana. Kupeluk punggungya dengan rapat dan secara reflek kedua lututku naik sedikit ke atas. Kurasakan desakan di bagian depan kewanitaanku semakin bertubi-tubi dan bertambah kuat menimbulkan rasa geli dan nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhku. Mulutkupun tak tahan lagi untuk tidak mengeluarkan suara desah dan rintihan ditingkahi oleh suara nafas memburu darinya yang masih belum dapat menerobos ke dalam kewanitaanku. Berikutnya aku mulai tenggelam di dalam alam ketidaksadaran yang penuh nikmat.

Setelah kejadian itu, Aku dan Anton kembali menjadi seorang kekasih walaupun kusadari bahwa Anton yang kukenal sekarang memiliki perbedaan sifat dan hobby dari Anton yang dulu kukenal.

Tamat