Pengalamanku dengan sesama pria - 2

Halo.. pembaca setia RumahSeks, jumpa lagi dengan aku Bobby. Mungkin anda sudah mengenalku dari ceritaku yang sebelumnya yang oleh pengelola RumahSeks diberi judul manis "Pengalamanku Dengan Sesama Pria" (O ya, thank's buat RumahSeks yang telah memuat ceritaku, you are the best). Aku juga menerima beberapa e-mail tanggapan dari pembaca yang isinya beragam. Kuucapkan terima kasih dan maaf jika aku tidak dapat membalasnya soalnya sibuk.
*****
Jika anda masih belum membaca ceritaku sebelumnya sebaiknya anda segera membacanya karena di dalamnya banyak sekali hal yang berkenaan dengan diriku dan tentunya anda akan lebih menghayati cerita ini jika telah merasa mengenalku. Tak kenal maka tak sayang, maka aku akan memperkenalkan diriku lebih jauh lagi. Aku bukanlah orang yang suka dengan kehidupan diskotek atau kehidupan malam yang diselingi dengan narkoba dan minuman keras. Aku menjalani kehidupan seperi kebanyakan orang 'biasa'.
Aku sangat menyukai cowok yang tidak kemayu dengan tubuh OK, terutama cowok dengan rambut cepak. Sebaliknya aku kurang suka dengan cowok yang rambutnya panjang karena kelihatannya ribet sekali. Aku juga tidak suka dengan cowok yang bulunya tebal kasar plus lebat. Kesannya jorok bagiku (maaf bagi anda yang berbulu, tidak berarti anda jorok, yah.. namanya juga hanya perasaanku saja kok). Aku pribadi memiliki rambut yang cepak sejak masih tentara hingga saat ini. Demikian juga dengan rambut bawahku, aku lebih suka menggundulinya atau membuatnya cepak juga jika sudah mulai meranggas ke mana-mana (atas cepak bawah cepak/gundul):).
Pada waktu kecil aku sangat senang dengan film kartun Superman dan G.I. Joe. Mungkin G.I. Joe juga yang mengilhamiku muntuk menjadi tentara walaupun akhirnya aku berhenti karena merasa tidak cocok dengan kehidupan tentara yang kesannya berbau kekerasan. Sedangkan alasan aku menyukai Superman adalah CDnya yang dipakai di luar itu lho:). Aku sangat menyukai modelnya yang seksi sehingga sampai saat ini CDku juga selalu bermodel segitiga juga. OK, cukup sekian saja tentang diriku, sekarang silakan simak cerita pengalamanku yang kedua dengan cowok.
Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya bahwa aku pernah menjadi tentara yang setiap hari disuguhi pemandangan 'indah' cowok-cowok macho yang berlatih bersama-sama denganku. Cukup sulit untuk membuat kontolku lemas saat melihat otot-otot yang tercetak pada kaos ketat basah dan membaui keringat mereka yang jantan. Untunglah perhatianku agak teralihkan oleh latihan yang keras yang disertai bentakan dan teriakan dari komandan yang melatih kami. Celakanya adalah saat mandi tiba. Dengan kondisi tempat pemandian di asrama tentara yang cukup terbuka sehingga teman-teman sepasukanku yang memakai handuk atau hanya kolor saja cukup membuatku kelimpungan. Apalagi jika kondisi tubuhku sedang fit, kontolku pasti berdenyut-denyut minta 'jatah'. Untunglah aku menyiasatinya dengan cara onani di kakus yang tentunya tertutup, baru kemudian aku mandi dengan kondisi kontol yang sudah melemas.
Karena saat itu aku masih berusaha untuk melawan sifat gayku, daripada aku nafsu terus-terusan sama sesama teman cowok seasrama, aku memutuskan untuk menyewa rumah kontrakan kecil yang letaknya tidak begitu jauh dari kesatuanku dengan harapan agar obsesiku pada tubuh cowok bisa berkurang walaupun sebenarnya usaha itu gagal karena pada dasarnya aku memang gay. Aku semakin gundah dan mengira kalau hanya akulah yang tidak normal di dalam lingkunganku itu. Pada akhirnya aku baru tahu kalau perkiraanku salah. Sekali lagi, begini ceritanya:)..
*****
Pergaulanku dengan teman-teman sepasukan walaupun sangat akrab tapi masih dalam konteks yang sangat wajar karena aku selalu membatasi diri agar jati diriku yang sebenarnya tidak tampak dari luar. Aku tidak pernah mengenal istilah curhat ataupun ngomong dari hati ke hati dengan orang lain apalagi dengan teman sepasukanku. Malah biasanya akulah yang dijadikan tempat curhat yang kebanyakan masalah mereka adalah tentang cewek yang sebenarnya membuatku bosan. Dengan demikian aku dikenal dan dianggap sebagai teman baik yang wajar-wajar saja.
Diantara teman sepasukanku ada seorang yang kita sebut saja sebagai Anto. Wajahnya gagah dengan rambut halus cepak dan kulit yang kelihatan bersih walaupun agak kelam karena terpanggang sinar matahari. Dia orangnya sangat pendiam dan tertutup. Hubungan kami biasa-biasa saja dan obrolan kami pun sangat terbatas pada masalah ketentaraan saja. Pada waktu itu diam-diam sebenarnya aku sangat tertarik padanya. Menurutku dia sangat perfect. Perasaan sukaku terhadapnya terus meningkat dari hari ke hari yang tentunya membuatku cukup merasa cemas. Pada suatu hari kebetulan aku dan dia sedang jalan bersebelahan menuju pos piket sambil mengobrol ringan. Saat itu saking tidak tahannya aku memberanikan diri merangkul bahunya yang menurutku masih wajar dan tidak akan dicurigai. Bagaimana mungkin dua orang teman yang berjalan bersisian dan ngobrol akrab sambil seorangnya merangkul bahu temannya bisa dianggap tidak wajar? Begitu pikiranku saat itu. Yang membuatku surprise adalah saat tanganku menyentuh bahu Anto aku merasa tubuh Anto agak tergetar dan dia tiba-tiba saja menjadi agak aneh gitu. Saat itu aku mengira mungkin itu hanya perasaanku saja yang 'nafsu'. Dengan demikian, seperti hari-hari biasanya tidak terjadi apa-apa alias normal dan lancar-lancar saja.
Pada suatu malam saat selesai latihan dan tidak sedang dalam giliran jaga/piket, aku bermaksud pulang ke kontrakanku yang kira-kira dengan berjalan kaki memakan waktu lebih kurang 15 menit. Saat itulah aku melihat Anto berada di pinggir jalan dan kelihatannya ia sedang menunggu kendaraan umum.
Aku segera mendekatinya sambil menyapa, "Hei, To. Mau kemana kamu? Bukannya kamu tinggal di asrama?"
"Mau jalan ke plaza Bob, ingin membeli keperluan sehari-hari sambil cuci mata. Kebetulan hari ini lagi bebas." jawab Anto sambil tersenyum.
Bagiku senyumnya saat itu benar-benar maut dan membuat dadaku berdebur. Ingin sekali rasanya aku menubruk mengecup bibir yang seksi itu.
"Wah, boleh barengan tidak, aku juga ingin membeli beberapa keperluan".
Entah kenapa saat itu aku mengucapkan kata-kata tsb, padahal pada awalnya aku berencana untuk langsung tidur begitu sampai di kontrakan.
Anto kelihatan berpikir sejenak kemudian menjawab, "Boleh-boleh saja. Kita langsung berangkat atau gimana? Tuh, di depan ada oplet yang bisa ditumpangi."
"Aduh, badanku bau nih, soalnya belum mandi. Ke rumah kontrakanku sebentar yuk. Biar aku bisa mandi dulu. Tidak jauh kok." Aku menjawab sambil mencium lengan baju kaosku yang basah oleh keringat.
"Baik. Tapi jangan lama-lama ya. Takut kemalaman." jawab Anto.
Saat itu aku rasanya aku sangat senang sekali dan sama sekali lupa dengan usahaku untuk 'menjauhi' cowok.
"Siap.. Komandan", candaku.
Kami segera menuju ke kontrakanku.
Sesampainya di kontrakanku setelah membuatkan minuman untuk Anto aku segera menanggalkan kaosku dan sambil menenteng handukku aku masuk ke kamar mandi. Kunci kamar mandi kontrakanku sudah lama rusak sehingga hanya bisa sekedar ditutup saja. Aku tidak pernah memperbaikinya karena malas. Biasanya aku juga tidak pernah menutup pintu kamar mandi. Pikirku untuk apa diperbaiki karena aku tinggal sendirian dan siapa pula yang akan melihat aku telanjang atau tidak?
Saat aku mulai mengguyurkan air ke tubuhku sambil bernyanyi kecil dan menyabuni tubuhku tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka. Mulanya aku mengira karena ditiup angin. Aku sempat kaget karena rupanya Anto yang membukanya. Saat itu didepanku terpampang pemandangan yang benar-benar membuatku goyah. Anto berdiri di depan pintu kamar mandi dengan hanya mengenakan celana dalam seksinya yang berwarna merah lengkap dengan tonjolan 'kenikmatan' yang mengagumkan.
Sejenak aku terpesona lalu hampir tergagap aku bertanya, "Lho, ngapain kamu disini?"
"Mau ikutan mandi juga Bob, tidak keberatan bukan?"
Tidak menunggu jawabanku Anto langsung saja melangkah masuk.
"Hoh heh", aku tergagap dan merasa malu sekali karena saat itu aku sudah tekanjang bulat sama sekali.
Anto juga kelihatan tidak seperti biasanya.
"Malu ya? Kitakan sama-sama cowok. Jadi tenang saja", kata Anto kalem.
Ia lalu ikut-ikutan mengguyurkan air dan menyabuni tubuhnya dengan masih bercelana dalam. Melihat rambutnya yang basah dan tubuhnya yang licin oleh sabun dengan celana dalam seksi itu telah membuat kontolku tanpa dapat dicegah lagi langsung berdiri berdenyut-denyut minta pelampiasan. Rasanya aku ingin sekali langsung menubruk si seksi itu, namun saat itu aku masih terpaku dengan nafas yang agak memberat. Kemudian aku cepat-cepat membelakangi Anto walaupun kondisi kontolku sudah ketahuan.
"Bisa berabe nih', batinku saat itu.
Anto sepertinya cuek saja lalu menyabuni punggungku yang menghadap padanya. Aku semakin tersengat gairah yang meluap saat merasakan tangan Anto dan tanpa dapat ditahan lagi aku langsung berbalik dan menubruknya dan memeluknya dengan erat sambil tanganku menjelajahi punggungnya yang kekar sampai menurun ke pantatnya yang segera kuremas-remas. Aku tidak memikirkan apa-apa lagi dan rupanya Anto juga tidak menolak perlakuanku padanya. Aksiku berjalan lancar karena saat itu tubuh kami berdua masih penuh sabun yang belum dibilas. Anto malah ikutan membalas dengan aksi yang serupa. Akhirnya kami nyemplung ke bak mandi sambil masih saling raba. Kami lalu berciuman ala french kiss.
Setelah sabun di badan kami bersih, kami lalu keluar dari bak mandi. Anto segera menciumi dadaku dan kemudian memainkan putingku dengan sedotan dengan sapuan lidahnya yang hangat yang mengingatkanku pada pengalaman pertamaku itu. Ciuman Anto menjalar turun ke arah perutku yang punya tiga pasang tonjolan otot itu lalu semakin turun dan akhirnya hap.. Anto memasukkan kontolku yang sudah full tegang sejak tadi ke mulutnya dan mulai menghisap-hisap keluar masuk maju mundur yang membuatku makin menggila. Setelah merasakan akan nembak, aku segera ganti posisi. Giliranku yang jongkok dan sejenak kukagumi tonjolan yang membayang di CD seksi yang masih dipakainya. Secara perlahan kuturunkan CDnya. Kontol Anto berdiri dengan gagahnya yang membuatku blingsatan.
Ukuran kontolnya tidak kalah dengan punyaku dan sangat keras. Aku mulai menyapukan lidahku di kantong kontol, kemudian naik ke bagian batangnya dan akhirnya kepala kontol Anto yang memerah itu masuk ke mulutku dan kuhisap dengan nafsu yang menyala-nyala. Cukup lama aku melakukannya hingga akhirnya..
"Oooh.. Aku mau keluar..", desah Anton.
Mendengar itu aku semakin giat menyedot kontol Anto hingga tubuh Anto menegang dan crott.. croot.. Anto menembak di dalam mulutku. Maninya segera kuhisap dan kutelan dengan lahapnya. Rasanya enak sekali. Sementara itu tanganku terus mengocok kontolku sendiri. Aku juga merasa mau nembak. Tubuhku mulai menegang. Tanpa bicara Anto segera mengulum kontolku dan menyedotnya lagi. Akhirnya aku nembak juga dan seperti aku Anto juga menghabiskan mani yang kukeluarkan. Tanpa terasa kami saling hisap, cium dan raba selama satu jam lebih di kamar mandi.
Aku tersenyum puas dan saling berpandangan mesra dengan Anto. Kami hanya diam saja sambil mengeringkan tubuh masing-masing. Aku dan Anto sama sekali tidak menyinggung kejadian barusan karena sepertinya kami sudah saling mengerti isi hati masing-masing. Sesungguhnya perasaan inilah yang sejak lama kudambakan, ibarat bebas dari kungkungan beban berat.
"Tak jadi belanja nih", kataku sambil mengenakan kaosku yang kuambil dari lemari di samping tempat tidur.
"Kayaknya tidak deh. Boleh kupinjam CDmu? Punyaku sudah basah di kamar mandi sana", kata Anto yang juga sudah mengenakan kaosnya.
"Boleh, pilih saja di lemari sana. Ambil saja satu untukmu. Tapi punyamu untukku saja ya. Soalnya aku suka sekali yang model begitu", kataku sambil menunjuk ke lemariku.
"Oke deh. Gile.. Kamu koleksi CD ya? kok banyak sekali?". Anto terheran melihat tumpukan CD ku yang banyak itu.
Aku hanya cengengesan saja. Anto memilih salah satu CDku yang berwarna coklat tua dan langsung mengenakannya. Melihat itu aku mulai terangsang lagi.
"Malam ini aku boleh kan tidur disini?" Anto melirikku dengan senyum penuh arti.
Singkat cerita aku dan Anto ngesex beberapa kali dengan gaya dan posisi yang selama ini hanya ada dalam fantasiku. Aku bagaikan orang kelaparan yang baru menemukan makanan berlimpah. Teruss.. terus.. dan terus menikmati sex dengan Anto sampai subuh. Semua kerinduanku tersalurkan sudah. Kami sama sekali tidak bisa tidur karena terus bertanding beberapa ronde. Yang istimewa dari Anto adalah ia sangat menyukai bagian pantat sehingga fokusnya selalu ke bagian itu. Hasilnya keesokan harinya lobang pantatku terasa panas bekas sodokan Anto yang nikmat itu. Ngomong-ngomong itu pengalaman analku yang pertama. Awalnya terasa sakit tapi akhirnya menghasilkan kenikmatan tiada tara. Aku juga sempat memasukkan kontolku ke pantat Anto dan nembak di dalamnya. Detilnya silakan anda bayangkan sendiri..:).
Perbuatan yang kami lakukan tertutup rapat karena aku dan Anto sangat pandai menyembunyikannya. Sehari-harinya kami masih seperti teman biasa saja, tidak ada yang berubah. Namun bila ada kesempatan kami terus melakukannya di tempat berbeda. Paling sering kami bermalam di penginapan murahan tiap ada kesempatan dan tentunya terus berpindah dari satu ke penginapan lainnya. Hubungan kami mulai merenggang saat aku keluar dari kesatuan. Dan semakin merenggang saat Anto menceritakan kalau orang tuanya sudah mencarikan jodoh yang tidak bisa ditolaknya. Terakhir aku mendengar kalau Anto sudah pindah ke Jawa dan menikah di sana. Semoga berbahagia selalu.. Aku selalu mengingatmu dan turut berbahagia. Semoga saja Anto membaca cerita ini.
*****
Sekian saja cerita ini. Bagi pembaca yang ingin memberi tanggapan silakan kirim e-mail paling baik jika disertai foto (naked is the best) ke: arm_buddy@yahoo.com. Sekali lagi jangan terlalu mengharapkan balasan and don't forget to vote 5 star for this story. Thank you, c ya..
Bersambung . . . .

0 Response to "Pengalamanku dengan sesama pria - 2"

Post a Comment