Pulau berminyak

Siang itu kelelahan benar-benar menyapaku. Masih ada dua rute lagi harus kami jalani untuk sampai ke pulau Tarakan. Sementara Captain Frank (instruktur terbangku yang funky dan hobby tidur saat pesawat telah level di puncak ketinggian) masih terdengar dengkurnya yang nyaring. Sari, pramugari angkatan 24 meleburkan lamunanku.

"Teh, kopi apa susu Mas?".
"Heh bukan gitu nanyanya", kataku.
"Trus?".
"Teh ama kopinya bener.."
"Susunya?"
"Heh.., heh..", sahutku nakal.
"Dasar!", katanya sambil senyum manis.
"Oke, kopi instant tanpa gula", akhirnya aku menjawabnya.
"Captain?".
"Ssst, beliau baru ibadah!", kataku.
Sari mengangguk geli sambil ngeloyor membuat kopi.

Begitulah, sedikit bahasa kami saat di udara sana. Dan setelah menyelesaikan dua landing terakhir hari ini, sampai juga kita di Tarakan. Sebuah pantai penghasil minyak yang cukup mungil namun tampak jelas di ujung kanan atas pulau Kalimantan. Capt. Frank tampak lebih segar setelah istirahat di cockpit siang tadi. Maklum Tarakan adalah kampung halaman istrinya. Sedangkan Sari dan Noni tampak kelelahan duduk di belakang mobil yang mengantarkan kami ke hotel tempat kami biasa beristirahat.

Sebenarnya Sari dan Noni cukup cantik untuk menjadi teman apa dan ke mana saja. Sari bermuka antara Padang dan Menado, matanya sipit, rambutnya ikal seksi, tubuhnya khas pramugari dengan kaki dan punggung indah ditambah kebiasaannya fitness dua hari seminggu sehingga mukanya tampak selalu memerah segar. Sedangkan Noni bertubuh sintal dan wajah manis khas Semarang. Keduanya tampak indah selama perjalanan kerja lima hari ini. Namun keduanya tak begitu menarik kelelakianku untuk menjelajah cukup jauh. Bagiku Pramugari is just pramugari. Terlalu riskan untuk didekati, apalagi pramugari baru seperti mereka.

Kebanyakan mereka bersih. Namun karena informasi yang dijejalkan oleh para senior mereka sangat padat, akhirnya banyak juga yang bertumbangan karena tergoda ingin mencoba lebih "menyelami" pekerjaan mereka sebagai pramugari. Telah beberapa orang sebelum angkatan mereka masuk telah kutelusuri pola kehidupannya. Rata-rata mereka tercebur ke dunia pengajian (pengasah bijian -> sorry bahasa 'penerbangan') diawali dengan latihan pacaran dengan beberapa Co-pilot, Captain, pramugara, atau penumpang yang kebetulan satu hotel. Mereka melepas keperawanan mereka hanya untuk melapangkan dunia seks mereka yang seluas rute yang mereka jelajahi. Sorry buat yang merasa jadi pramugari baik-baik. But it's true. Skandal pilot-pramugari memang benar ada. Makanya para pilot senior mukanya selalu cerah kalau ada penerimaan pramugari baru apalagi kalau sudah mulai boleh terbang, wah bakalan pada rebutan deh jadwal terbangnya. Bagi yang hobby hunting, just try it!

Buatku yang hidup di lapangan yang sama, bertualang dengan pramugari hanya akan mengurangi naluri jelajahku. Nah kisahku kali ini bukan pengalaman me"reyen" para pramugari itu, karena peristiwa di Tarakan ini cukup unik, makanya sekarang terpampang di sini.

Setelah sampai di hotel, kami berempat check in. Petugas hotelnya kebetulan 2 orang wanita. Karena sudah beberapa kali menginap di hotel yang sama, keakraban pun telah ada antara kami dengan para petugas hotel (beberapa office boy malah sudah hapal dengan pilot-pilot yang selalu menanyakan foto 'artis' baru di hotel itu)

Sementara ketiga 'rekan' kerjaku sudah menuju kamar masing-masing, aku kembali ke mobil sebentar mengambil tasku yang tertinggal. Dan kalau mau percaya, hal itu kulakukan karena aku sering melihat melalui ujung mataku, seorang dari kedua petugas check in itu selalu berusaha mencuri perhatianku. Dari arah pintu masuk aku berjalan perlahan dengan pandangan mata hampir tak berkedip ke arah receptionist itu. Dan dugaanku memang tak meleset. Dasar memang kisah nyata ini harus terjadi. Dia memberi kode pada teman satunya untuk sedikit 'menyingkir' dari kami.

Sampai di mejanya, dengan senyum yang tak pernah kubuat-buat kami akhirnya saling berkenalan. Wajahnya memang manis, Noni masih kalah karena yang ini lebih dewasa face-nya. Tubuhnya biasa, tingginya biasa, hanya saat kami bertemu pandang ada sedikit aliran darah yang 'salah' masuk urat rasanya.

"Ini kuncinya Mas"
"Lho kok Mas?"
"Ini sekalian ID-nya Mas, saya juga orang jawa kok.."
"Jawa?"
"Iya saya dari Solo, Mas pasti orang jawa, omongnya kan medok", katanya.
"Heh.., he.., iya ya.., eh ada juga putri solo di sini..", kataku datar.
"Kamar 201 Mas", katanya sambil menyorongkan kunci kamar.
"Makasih, sibuk ya?"
"Belum"
"Banyak tamu?"
"Biasa Mas"
"Nanti ngobrol yuk"
"Ini juga ngobrol", katanya
"Temen kamu mana?"
"Ke pantry", mukanya memerah.
"Ooo.."
"Ya udah, nanti aku yang telpon kamu.., Oke?"
"Iya Ias"
"Namamu siapa?", tanyaku sambil melirik kartu nama di dada kirinya.
"Ana.., kalo Mas?"
"Nanti di telepon aja, dinding-dinding sini bertelinga", kataku sok gentle.

Kuterima kunci kamar yang ia sorongkan, tak luput aku pegang tanganya yang menjulurkan kunci. Matanya melirik tajam penuh arti, meskipun bukan pandangan nakal. OK enough, ini yang aku cari.
"Jam enam aja Mas telponnya", bisiknya cepat. Aku mengangguk lalu menaiki tangga menuju kamar. Sampai di kamar, jam masih menunjuk pukul setengah lima. "Ah untung masih sempat istirahat", pikirku.

Aku buka dasi, ID, wing, bolpoint lalu kuletakkan di atas meja dengan rapi beserta topi petnya. Kulepas sepatu, kumasukkan seluruh pakaiannku termasuk dalaman dan kaus kaki ke dalam tas plastik tempat cucian, lalu kutaruh di luar pintu kamar agar besok pagi siap untuk another flight. Kunyalakan air di bath up. setelah air hangat penuh aku berendam selama seperempat jam untuk 'merebus' otot-otot sekaligus mengendorkannya.

Jam enam kurang satu menit, masih dengan tubuh basah aku keluar dari kamar mandi karena telepon berbunyi. Rupanya dari para pramugari.
"Mas mau makan di mana?", kudengan suara Sari yang sekamar dengan Noni.
"Aduh, kayaknya captain ke rokum mertokatnya tuh.."
"Berarti?"
"Yah, kalian pesen aja dari kamar, kan kita baru hari pertama di sini.."
"Iya Mas mana cape lagi", katanya.
"Ya udah, istirahat aja dulu, besok baru kita jalan-jalan cari ma'em di luar?"
"Mas gak pa-pa?"
"Udah santai aja kalo ama ogut, aku gak sama koq ama co-pil laen yang harus makan barenglah, inilah.., itulah.., capek!"
"Iya deh Mas makasih ya.."
"Yup!"

Kututup telepon.., eehh bunyi lagi.. Kuangkat, terdengar suara si Ana di ujung sana.
"Mas sorry aku yang nelpon, abis ruang operator baru sepi nih.."
"Eh, aku dong yang sorry.., terlambat tiga menit nelpon kamu.."
"Ya Mas aku tahu, kan di ruang operator, emang baru ngobrol penting ya tadi sama pramugari di kamar 204?"
"Ah enggak, mereka cuman mau nanya mau makan di mana kok.."
"Ooo", sahutnya
"Eh Mbak Ana pulang jam berapa?"
"Lho kok pake Mbak?"
"Abis umurku baru dua dua dan Mbak kayaknya udah lama kerja di sini..", jelasku.
"Panggil aja Ana jangan pake Mbak, o iya coba tebak umurku berapa.."
"Engng.., dua lima", kataku.
"Salah"
"Dua lapan!"
"Lho koq tahu?"
"Kan nebak.."
"Iya dua lapan tua ya?"
"Enggak juga, malah aku kira dua lima tadi", aku yakin hatinya agak meremang di ujung sana.

"Mau makan di mana?"
"Mau nemenin?", tanyaku
"Mmm.., besok kali ya.."
"Sekarang aja deh.."
"Eh, kalo sekarang ngobrol dulu", katanya ngajarin, (kan lebih tua).
"Uh kelamaan ngobrol kapan akrabnya!"
"Kan nggak enak ngobrol di telepon.."
"Ke sini dong"
"Eh, ke kamar?"
"Iya"
"Waduh.."
"Kenapa.., takut?"
"Enggak.., gak enak aja kalo ketemu temen di lantai dua"
Aku diam sebentar, aku yakin Ana baru berpikir keras. Dalam hati aku bertanya, kok tumben ngobrolnya lancar gini.
"Ya udah, kamu buka sedikit deh kamarnya, aku naik ke lantai dua, kalo sepi aku langsung masuk kamar deh..", katanya tak kuduga.
"Iya deh, aku tunggu..", kataku.

Kututup telepon dan buru-buru kupakai kaos dan celana pendekku. Belum tiga menit pintu terbuka dengan cepat, Ana masuk lalu menutup pintu dengan cepat pula. Aku hanya melongo melihat kenekatannya. Ana tersenyum, jelas terlihat nafasnya yang ngos-ngosan karena deg-degan, matanya tak lepas memandangku. Kuhampiri, kupeluk dia agar agak cepat ketegangannya menurun.
"Hampir..", katanya.
Aku hanya tersenyum.
"Baru sekali ini aku masuk ke kamar tamu hotel, habis.."
"Kenapa?"
"Nov, namamu Nova kan? kamu mirip sama almarhum mantanku yang di Solo.."

Aku bengong.. Ternyata, caraku berjalan, berbicara dan bercanda sangat mirip dengan pacarnya yang telah tiada yang menyebabkan dia depresi lalu dibawa ke Tarakan oleh ayahnya dan dikawinkan dengan orang Tarakan. Ana bercerita panjang lebar kepadaku di tempat tidur sambil kupeluk.

Setelah selesai dan capek bercerita, kucium bibirnya.
"suamimu?", tanyaku.
"Di rumah, aku gak pernah cerita sama dia"
"Kamu lima tahun lebih muda menurut mataku.."
Ana menggelayut manja, tak tampak lagi kepiluan di matanya, mungkin dia sudah tidak peduli, baginya aku adalah pacarnya yang masih hidup. Kerinduannya bergejolak berpadu dengan sugesti dan fantasinya yang terpendam.

Kubelai kepalanya sambil kucium bibirnya.
"Ih, mesra juga", katanya.
Busyet kataku dalam hati, sengaja kuhanyutkan diriku ke dalam imaginasinya. Aneh, seperti disirep, kucium pipinya, mulutnya.., berhenti lama di situ.. mulut kami berpagut seperti memecah ribuan rindu. Lidah kami bermain di sana. Sungguh, pengalaman kali ini seperti dongeng. Kuturunkan lidahku ke arah lehernya.., menggelinjang.., matanya terpejam, tangannya bergidik seperti menahan gelombang perasaannya sendiri.

Dengan gigi, kubuka satu persatu kancing bajunya dari atas, aku sendiri heran, biasanya tak sesabar ini. Setelah terbuka bajunya, tampaklah sepasang dada yang indah. Kupandangi.., sengaja tak kucium, aku tahu Ana menunggunya. Tanpa Ana sadari, dari pinggang, tanganku langsung masuk ke spannya.

"Hekhh..", Ana melotot saat terasa kedua tanganku langsung meremas kedua pantatnya.
"Heh.., heh.., jangan sembarangan ya Mbak..", kataku dalam hati.
Buah dadanya masih menantang tepat di depan kedua mataku.
"Nov.."
Matanya terbuka menantangku melakukan yang lebih. Tangan kiriku masih menopang pantatnya, tangan kananku dengan cepat dan sedikit kasar merangsek ke vaginanya. Sekarang matanya malah melotot, sekali-sekali kelopaknya bergetar menatap mataku. Kusambut tatapannya dengan dingin.

"Mmmffh.., mmhh..", tampak Ana menahan sensasinya. Matanya semakin memberi tenaga pada sang penis di belahan pahaku. Sekarang giliran jari tengah kiriku menyodok lubang duburnya. Tampaknya Ana tidak menyangka itu akan kulakukan, "Slett..", dua ruas jari tengah sukses menyetubuhi pantatnya yang kuning mulus itu. "Hmm.., eehh..", nafasnya mulai memburu. Kulanjutkan jari tengah kananku dan.., "slet..!", langsung tiga ruas masuk ke sana, jempolku menekan clitorisnya.

"Haah.., Nov.., hmm..". Ular dipelukanku yang tadi diam dengan tabah kini berkelenjotan dengan panik tapi yang meyebabkanku makin sayang padanya adalah matanya. Seolah-olah Ana ingin menyaksikan dunia nakal di balik mataku. Tangannya menggapai-gapai meskipun ada tubuhku di depannya. Ana masih belum menyerah, dia masih terbang dengan kerinduannya, jauuh.., tinggi.., tak tahu sampai di mana. Selagi Ana meliuk-liukkan tubuhnya dengan ganas, kulepas dengan tiba-tiba kedua jariku dari kedua lobangnya. Kubanting tubuhnya ke ranjang, kuarahkan penisku ke wajahnya dan di sambut kuluman mesra pada penisku, kuikuti french kiss pada vaginanya.

"Mmmhh.., sshh.., mmhh.., ahkk..", dan sepanjang waktu 20 menit berikutnya kita berkutat dalam posisi terbalik dengan posisi 69. Clitorisnya semerah daging babi yang baru direbus, vaginanya banjir bandang, baunya wangi seperti arak cina bercampur wijen.

"Akh.., ahhkk.., iikhh.., Nov.., Nov.., ahh..", erangan Ana diikuti gerakan mengejan eksotis di pinggulnya. Striptease di Fort-street selandia sana masih kalah jauh dengan yang satu ini. Desah dan erangan Ana tiba-tiba berhenti. "Srepp.., srreepp..", mulutnya berhenti di penisku, rupanya Ana tak terima berkali-kali orgy sendirian, dia betot penisku dan dimasukkan penuh ke dalam mulutnya sementara salah satu jarinya entah yang mana mulai membalas dendam perlakuanku pada awal permainan tadi. Ya, jarinya ia masukkan ke duburku bersamaan dengan energy memuncaknya Ana menyedot dan mengocok jarinya yang tenggelam dengan tak teratur.

Pembaca, bukan main yang kami alami saat itu. Dalam satu kesempatan yang tak terhitung lagi, meledaklah kedua puncak birahi kita secara bersamaan, berisiknya sudah tak terkira lalu hening. Kubalik posisi hingga kini Ana berada di atasku. Sambil megap-megap Ana memasukkan penisku ke liang vaginanya. Tak tahu bagaimana caranya penis yang mulai lemas itu akhirnya terpendam di dalam vagina Ana yang berkedut-kedut, sementara antara sadar dan enggan berdiri, sang penis secara perlahan mulai sadar kembali hingga tak sempat lemas lunglai. Rupanya Ana secara naluri tahu cara membooster penis agar cepat ereksi.

Sekian puluh detik berlalu, penisku siap bertempur di liang vaginanya. Ana pasti sudah tahu itu tapi Mbak yang satu ini rupanya memiliki "sesuatu" meski telah kuyup badan kami berdua, meskipun napas tinggal satu-satu nampaknya pertarungan sesungguhnya segera berlangsung.

Selanjutnya aku sendiri bingung menceritakannya seingatku, badannya memelukku dengan erat, tangannya memegang kedua pantatku. Kedua tanganku disuruhnya memeluk erat punggungnya lalu ia menyuruhku memejamkan mata dan kepalanya turun menempel di leher kiriku, mukanya tenggelam di bantal. Kuturuti semua pesannya, "Nurut aku ya Nov, kamu diem aja, kalo gak bisa nahan ikutin naluri aja, jangan mikirin apa-apa, jangan pake teori.. sekarang diem dan nikmatin aja..". Begitulah kira-kira instruksi singkat yang kudengar samar-samar di telingaku.

Tiba-tiba, "Sutt.., srruutt..", tak tahu apa yang dilakukan dengan pinggulnya, yang jelas gerakannya membuat tulang-tulangku serasa lolos sampai sunsumnya. Aku melotot tak mampu berteriak, dadaku sesak dan tenagaku hanya terkumpul di tiga titik, dua telapak tangan dan penis. Sepertinya penisku hampir meledak.

Gilaa, kuremas apa yang bisa kuremas, sementara aku tak bisa melihat muka Ana, dadanya masih menindih dadaku, tangannya masih di pantatku tapi pantatnya seperti ombak melebur-lebur dahsyat. Entah berapa menit Ana memacuku seperti itu, mataku berkunang-kunang.

Tiba-tiba badannya tersentak ke belakang, posisi Ana sekarang terduduk, sekilas aku sempat melihat Ana mengatur nafasnya, "Hhh.., sshh.., mmhHP..", rupanya mukanya ia tempelkan di kasur agar tak bernafas dan nampaknya serangan kedua telah siap ia lakukan. Aku kini lebih siap, kutarik nafas dalam-dalam lalu "Sssyyuutt..", seperti ada angin di dalam tubuhku ke arah penisku yang terasa kempot-kempot.

Gila!, apalagi nih.., dan aku tak mampu bernapas, dadaku sesak, kandung kemihku serasa dibetot-betot.., dan di puncak kenikmatan ini air maniku terasa bagaikan air bah dari dam yang jebol. Ana menggigit kencang bantal di mukanya, kukunya mencengkram kencang pantatku, vaginanya bagaikan vacuum cleaner super. "Crott.., croott.., crott". Kami tak mampu berteriak, kami ledakkan sensasinya di dalam dada. Gila, baru sekali ini aku merasakan hal yang luar biasa seperti ini. Dan hebatnya lagi, Ana langsung bangkit dari dadaku.

"nova.., sudah malam.., aku pulang dulu.."
Aku cuma melongo tapi tak mampu untuk bangkit apalagi mencegahnya, mataku berkunang-kunang saat Ana selesai berpakaian, dan akupun tertidur karena kecapaian.

Aku terbangun saat jam menunjukkan pukul empat pagi. Saat kulihat selembar kertas tertempel di kaca hias. Ana meninggalkan pesan, "Nova sayang, kamu baik sama Ana, besok ngobrol lagi". Di balik kertas itu dia meninggalkan nomor telepon rumahnya.

Dan lima hari tugas di Tarakan hampir setiap malam hal yang sama terjadi, namun kami melakukannya di lain hotel di kamar nomor 13. Sekarang kadang aku merindukan ketabahannya itu, bukan main.., bahkan hal itu tak terulang lagi padahal aku sangat merindukan belaian serta pelayanan dari Ana.

TAMAT