Selingkuh hati - 2

Kaki Santi bergerak-gerak perlahan karena ulahku itu. Sekali-kali ia mengangkat kepalanya melihat perlakuanku, kemudian meletakkan kepalanya lagi di tempat tidur. Tanggapannya itu membuat aku semakin berani. Setelah bergantian tangan kiri dan kananku memijat dan meremas, sambil menyentuhkan hidungku pada celana di posisi vaginanya berada dan menggigit-gigit kecil dengan bibir, aku memberanikan diri menurunkan celana pendeknya perlahan-lahan. Sambil telentang, Santi merespon dengan mengangkat pantatnya agar aku bisa mudah menurunkan celananya.

Akupun menurunkan celananya melewati kakinya yang terjuntai di lantai hingga lepas. Langsung aku mencium dan menjitai kakinya dari bawah hingga atas. Sambil kedua tanganku meremas pantatnya, aku menggigit dengan bibirku, vaginanya yang masih terbungkus celana dalam hitam. Itu pun tidak bertahan lama. Akupun menarik lepas celana dalamnya. Disini aku melihat pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Santi dengan vaginanya yang bebulu hitam, menambah voltase yang besar pada senjataku. Aku langsung horny berat..

Tanpa bersabar lagi aku serbu vaginanya dengan lidahku, sampai masuk jauh di dalam. Santi merespon dengan mengangkat pantatnya, dan memalingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil terpejam dan mendesah. Tanganku yang tadinya meremas-remas pantatnya, sambil mengelus-elus kulitnya bergerak keatas memasuki bagian atas dari dalam kaosnya. Akhirnya aku menemukan daging kenyal yang masih dibungkus bra, dibalik kaosnya. Sambil menjilati vaginanya, aku meremas kedua buah dadanya, yang hanya berukuran 34 itu setelah aku keluarkan dari sarangnya.

Lama aku menikmatinya sambil meremas dan mengelus-elus, karena aku ingin sekali memanfaatkan momen ini untuk selama mungkin, sampai aku puas. Karena hal seperti ini sudah lama aku inginkan. Jilatanku makin menggila, setelah Santi mendesah dan mengerang panjang. Sampai saat ia menjepit kepalaku dengan kakinya, sambil menjambak rambutku kearahnya. Santipun mendapat orgasmenya pertama. Vaginanya bertambah basah, dengan adanya lelehan cairan yang keluar.

Setelah jepitannya melemah, aku menyudahi jilatanku pada vaginanya dengan menciumi kedua pangkal pahanya dan perutnya. Setelah membersihkan mulutku dengan tisyu yang ada di samping tempat tidur, aku menciumi bibirnya. Memberi kecupan-kecupan mesra di bibir atas dan bawah..

"Kok, tadi nggak dilanjutin aja?" tanya Santi kepadaku.
"Dilanjutin gimana maksudnya, San?"
"Dimasukin aja, pasti kamu pengen kan?"
"Iya siih.. Sebenernya aku juga udah horny banget" kataku kemudian.
"Kenapa nggak? Nggak mau yah, sama aku? Kenapa? Aku ada yang kurang ya?" tanya Santi.
"Nggak, bukan itu.. Aku emang pengen banget ML sama kamu.. Dari dulu malah! Tapi aku takut bablas, kalo kamu hamil gimana?"
"Aku pake pengaman kok, pake spiral.." kata Santi.
"Hah.. Kamu pake KB? Tapi nggak ahh.. Malu, San. Aku sering terlalu cepet keluar"
"Malu? Kenapa mesti maluu.. Emang habis itu udahan? Pasti nggak kan?"

Aku heran dengan kata-kata Santi tersebut..

"Kok, kamu tahu, San? Emang kamu udah pernah ML sama siapa selain pacar Lu? "
"Enak aja Lu.. Ini kali aja Gua bugil sama orang selain pacar Gua.. Ehh, kamu nggak cerita-cerita ke orang lain, kan?"
"Kejadian ini? Nggak lah!! Emang aku siapa.. Eh, untuk yang pernah melahirkan anak, vagina kamu kok masih bagus, sih?" kata aku kemudian. Santi terdiam.
"Kamu tahu dari siapa aku punya anak..?"

Walau aku kaget karena kelepasan ngomong dan takut Santi marah, dengan jujur akupun menjawab dengan hati-hati.

"Sebenernya aku udah memperhatikan kamu sejak kamu masuk pertama kali dengan Anita. Teman-temen waktu itu selalu mencemooh aku, karena menurut mereka Anitalah yang paling 'wah' daripada kamu, San. Tapi aku berpendapat beda, kamu yang lebih menarik perhatianku. Tapi setelah aku tahu kamu punya pacar yang sudah dipastikan akan menikahi kamu, ditambah aku tahu kalo kamu sudah punya anak darinya, aku sedikit kecewa. But, it's okay.. Aku seneng juga kok bisa berteman saja.."

Tidak disadari pembicaraan kami membahasakan diri menggunakan bahasa yang lebih dekat, tanpa menggunakan Gua dan Lu, tapi dengan aku dan kamu. Itupun aku mulai sadar setelah kami berbicara lama.. Kami terdiam untuk beberapa saat. Kemudian Santi bangun dan mendekati aku yang duduk di pinggir tempat tidur sampingnya. Sambil mengecup bibirku, ia meraba dan meremas senjataku dari balik celana.

"Aku oral yah, kamu mau, kan?" tanya Santi.

Aku tidak menjawab, hanya merespon kecupannya. Sambil duduk dilantai dihadapanku, Santi membuka celanaku satu persatu. Setelah bugil senjataku yang sudah setengah berdiri karena remasannya tadi, diciuminya. Setelah sekali-sekali dikocok, Santipun mulai mengulum lembut penisku. Wahh, rasanya geli dan nikmat sekali. Sedikit demi sedikit libidoku naik ke puncak. Sambil dikulum, tanganku mengelus leher dan buah dadanya dari atas.

Walau masih menggunakan kaos, aku tidak mengalami kesulitan untuk melakukan remasan dan sentuhan pada kulitnya. Tidak berapa lama kemudian darahku bergejolak rasa nikmat sudah menjalah hingga keujung penisku. Akupun orgasme dengan memuntahkan sperma banyak sekali pada Santi. Karena aku sempat memberitahu, cairan cintaku menyembur pada kaos, dan sedikit kena pada rambutnya. Nikmat sekali..

"Terima kasih, yah.." kataku sambil mengecup manis pada kening dan bibirnya.

Sambil bersendau gurau, aku membersihkan cairan cintaku yang melekat pada kaosnya dan rambutnya dengan tisyu. Setelah itu aku ke kamar mandi untuk membersihkan penisku.

Setelah menggunakan kembali celana dalamku dan keluar kamar mandi, aku melihat Santi tidur tengkurap di tempat tidur dengan menggunakan kaosnya, ia sudah menggunakan kembali celana dalamnya yang hitam. Sambil menghampirinya, aku bertanya.

"San, kok seksi gitu gayanya? Kalo mau tidur, aku pulang aja yah?"
"Nggak, kok.. Aku cuma nunggu kamu keluar kamar mandi. Mau pijetin Gua lagi, nggak?"

Tanpa disuruh dua kali aku sudah naik ke atas tempat tidur. Dengan posisi menduduki bawah pantatnya, aku mulai memijatnya. Dimulai dari kedua pergelangan tanganya di samping kepalanya, turun ke bahu. Sampai punggungnya, aku menyempatkan untuk meremas kedua buah dadanya yang terhimpit kasur. Walaupun terbungkus kaos, aku tidak mau meremasnya dengan kencang. Perlahan, tapi aku dapat merasakan daging dibalik kaos dan bra-nya. Setelah itu turun ke bawah lagi, memijit perutnya dan meremas pantatnya. Terus turun kebawah untuk memberi pijatan pada kakinya yang diakhiri pada telapak kakinya.

Dari kaki, tanganku merambat naik untuk memberi pijatan-pijatan halus pada kedua kaki, paha dan pantatnya. Setelah pijatan berkali-kali pada pantatnya, dan memberi elusan lembut pada vaginanya dari balik CD, tanpa persetujuan Santi, aku menurunkan celana dalamnya sambil memberi kecupan pada paha dan kaki bagian belakang hingga celana dalamnya terlepas.

Nafsuku naik, ketika aku melihat vaginanya mengintip dibawah belahan pantatnya. Tanpa membuang waktu, dengan tidur tengkurap pula aku segera menjilatinya dari belakang. Diikuti dengan merenggangkan kakinya kesamping kiri-kanan, suara desahan Santi muncul ketika lidahku menyentuh permukaan vaginanya. Sambil menjilati, tanganku bergerilya keatas, meremas pantatnya dan mengelus punggung bawahnya.

"Uhh... Ahhss.. Ahh.. Ssh.." desahan Santi makin cepat, tatkala bongkahan pantatnya makin dinaikan.

Libidoku naik pol!! Aku segera bangun dan membuka celana dalamku. Dengan senjata yang mengacung keras, aku arahkan dengan cepat ke vaginanya. Setelah menggesekan di vagina dan duburnya, aku masukkan penisku ke vaginanya perlahan-lahan sekali.. Nikmat sekali, hingga berdiri bulu romaku. Akupun menyetubuhi Santi dengan posisi tengkurap. Perlahan, aku masukkan penisku.

"Ahh, aa.. aduuh.. Uuh" kata Santi.
"Maaf, Santii.. Gua nggak kuat.. Aku pengen menyetubuhi kamu, yah.. Sebentar aja.. Hh.." kata aku kemudian.
"Aduh, enak banget.. Ahh.."

Akupun mulai memaju-mundurkan penisku perlahan-lahan. Setelah itu aku merebahkan diatas dan sejajar dengan Santi. Sambil menyusupkan tanganku didalam kaosku, aku menyetubuhinya sambil meremas payudaranya dari balik branya. Remasan demi remasan, sodokan demi sodokan aku berikan kepada Santi. Nikmat sekali persetubuhan kami saat itu. Aku melakukannya sambil sesekali menciumi leher dan bibirnya apabila kepalanya berpaling kesamping.

Beberapa saat kemudian, Santi yang sudah memuncak pada saat aku menjilati vaginanya, mendongakkan kepalanya sambil menaikkan pantatnya untuk memberi jalan penisku agar lebih masuk lagi.

"Aahh.. kuu.. Keluaarr.." desah Santi.
"Akku jugga.. h " kataku yang sudah dari tadi menahan gejolak orgasmeku.

Dengan posisi mendekap dari belakang, akupun memuntahkan sepermaku di dalam vaginanya, yang disusul kemudian dengan orgasme Santi. Rasa nikmat menjalar pada kami berdua, tatkala memuntahkan cairan kami masing-masing. Persetubuhan yang kami lakukan memang singkat, tapi menimbulkan kenikmatan tersendiri. Terlebih aku, yang memang sudah menginginkan menyetubuhi Santi dari dulu.

Rasa puas, nikmat dan sayang menyatu dalam tubuhku, seolah tidak ingin lepas, aku mendekapnya sambil terus memberi kecupan-kecupan pada bibir, pipi dan lehernya. Kemudian aku merebahkan badanku disampingnya.

Sambil tersenyum maniis sekali, Santi membelai dadaku yang masih terbungkus kaos dan berkata, "Sayang, kamu cape nggak? Kalo cape istirahat disini aja, yah?"
Aku membalasnya dengan membelai wajahnya yang manis itu sambil menjawab, "Nggak, aku malah bahagia bisa berbagi rasa dengan kamu hari ini. Kamu senang nggak?"


Bersambung . . . .