There he goes - 1

Sinopsis: Nostalgia cinta saat di SMU selalu indah untuk dikenang. Yang lugu kala itu justru malah indah di kala kini. Begitulah. Dita, dengan kesederhanaannya menjalin cinta dengan Lucas, kakak kelasnya. Sayang, Luke (begitu panggilannya) terlalu dewasa bagi Dita. Akankah keremajaan Dita terengut oleh nafsu yang terlalu dini, yang seharusnya hanya milik kaum dewasa?

ACT ONE

Chap I

"Masuk!" Vanka berteriak mengejutkanku.
"Waahh!" dengan terkejut aku ikut bangkit berdiri dan memutar rumbai rafia di tanganku.
Di tengah lapangan terlihat lima orang pemuda yang saling berpelukan satu sama lainnya, sementara lima pemuda lain dengan kepala menunduk dan menyeka peluh beringsut malas kembali ke posisi masing- masing. Di sana ada Lucas.
"Keren, Dee!" Vanka menyenggol lenganku dengan sikutnya.
Kurasakan wajahku memerah. Memang hanya Vanka yang tahu kalau aku menyukai Lucas sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini.

Lucas, cowok kelas 3 IPS 2, 178 cm dengan poni yang mencapai dagu, salah seorang kaum selebritis yang menghuni sekolah. Atletis, dari keluarga berada, bandel tapi menawan dengan alis tebal dan mata yang tajam. Tak heran semua gadis di sekolah mendambakannya. Termasuk aku? Tentu saja. Kulihat Lucas berhasil merebut bola dan berlari menuju daerah lawan.

"Sciss..!" kudengar Lucas berteriak dan dua orang anak kelas tiga lainnya berlari ke kanan dan ke kiri. Lucas mengumpan dan berlari menyusup ke balik defender lawan. Bola di-passing dua kali menyilang, melewati tamparan pemain lawan. "Lucas..!" Pemain terakhir yang membawa bola berseru dan melemparkan bola pada Lucas yang entah sejak kapan sudah berdiri di bawah ring. Kulihat Lucas meleletkan lidahnya, membungkuk dan melompat lembut ke belakang seraya melemparkan bola melambung melewati jangkauan para pemain lawan. Riuh sorak sorai terdengar saat bola memasuki ring. Aku, Vanka, dan gadis-gadis rok mini di sebelah kami bersama-sama berdiri dan berteriak histeris. Lucas, sungguh mempesona.

"Thanks.." Lucas tersenyum dan meraih botol plastik yang kusodorkan.
"Mainmu bagus," ucapku tanpa berani memandang wajahnya.
Kucoba menyibukkan diri dengan membereskan kaos pemain ke dalam tas kain kotor. Bukan pekerjaan yang menyenangkan, tapi dengan begini aku dapat masuk ke dalam kamar ganti pria. Dan tentu saja bertemu Lucas.
"Ayo, Luke..!" segerombolan pemuda datang dan menghampiri Lucas.
Kulihat dari sudut mataku, mereka bersama-sama melakukan toast, seperti yang mereka lakukan setelah terompet pertandingan berakhir dibunyikan tadi, lalu tertawa-tawa dan saling memuji sebelum akhirnya berlalu.

Ah, betapa bodohnya aku. Bahkan Lucas tidak memandangku. Kubereskan sisa baju yang masih berserakan di atas bangku. Sejenak merasa menyesal mengapa aku menggantikan kerjaan Indri. Yang pasti sekarang gadis itu pasti sudah ikut bersenda gurau di luar. Mendadak tanganku menyentuh kaus merah bernomor dua puluh dua itu. Kupejamkan mataku dan mendekatkan kaos itu ke hidungku. Aroma Lucas. Bau keringatnya. Bau laki-laki yang kusuka.
"Hey anak gila!" menadadak kudengar suara Vanka di arah pintu keluar.
Dengan wajah panas kumasukkan kaos itu ke dalam tas cepat-cepat. Tapi Vanka sudah mendekat dan mencubit pipiku, "Dasar. Tadi si Indri bilang kalau kamu mau menggantikan tugasnya dia. Ternyata hanya untuk menciumi baju cowok."
"Ngga kok," tukasku membela diri.
Tapi mana mungkin rona di wajahku dapat menipu sahabat terbaikku. Vanka tertawa dan membantuku memasukkan sisa baju kotor.

"Ayo keluar, Dee. Nanti Lucas keburu pulang. Kan sayang hadiahnya kalau ngga jadi dikasih."
Hadiah? Astaga, benar juga. Ternyata untuk itu aku menggantikan tugas Indri tadi. Mungkin karena terlalu terpesona, aku sampai lupa tujuanku semula. Perlahan kuraba kotak kecil yang terselip di balik pinggangku. Masih ada. Vanka menyeretku keluar.
"Jangan cepat-cepat.." ucapku dengan jantung mulai berdebar.
Di luar gedung olahraga, tampak beberapa orang pemuda sedang melakukan foto bersama sambil mengangkat piala di atas kepala mereka. Di sana ada Lucas, berdiri paling depan. Keren sekali.

"Ayo ikutan foto..!" seru Vanka padaku, dan sebelum aku sempat berdalih, Vanka sudah menyeretku mendekati kerumunan anak itu.
"Hey, Cheerlie ikutan foto dong.." seru Vanka dengan nada genit pada kerumunan pemuda itu.
"Sini, Non!" salah seorang dari mereka mengulurkan tangan dan merangkul bahu Vanka.
Vanka hanya tertawa. Genit benar, tapi bagiku malah terlihat lucu. Vanka memang begitu anaknya. Like to tease guys.
"Kamu di sini saja.." Vanka meraih lenganku dan jantungku berdegup kencang saat bahu kiriku menyentuh lengan Lucas.
"Auch.." desisku dan memandang protes pada Vanka yang mengedipkan matanya.
"Sori.." kudengar Lucas berkata sambil memandangku. Sori? Waahh..!
"Aku yang sori," ucapku terbata-bata. Masih aku tak berani menatap wajahnya.

"Tigaa..!" Sebuah kilatan cahaya menarik perhatianku.
Astaga. Kan aku belum siap-siap. Kudengar Lucas berseru memprotes.
"Ayo Dee! Now or never!" Vanka membisiki saat kerumunan pemuda itu bubar.
Kulihat Lucas sudah menghampiri genio hitamnya yang terpakir di pinggir jalan.
"Ayo..!" Vanka meraih tas di tanganku dan mendorong tubuhku.
"Vanka!" desisku sebal.
Tapi Vanka hanya mengedipkan matanya dan berlalu menuju tempat panitia. Now or never. Kuberanikan diriku dengan sekali lagi menghela nafas panjang-panjang.

"Luke.." sapaku.
Ya, ampun. Kok jadi bergetar begitu. Lucas membalik tubuhnya dan menatapkku dengan pandangan bertanya-tanya. Kuulurkan tanganku ke belakang, meraih kotak kecil di selipan bajuku dan menyodorkannya dengan kepala tertunduk.
"Selamat Valentine.." desisku memejamkan mata.
Rasanya ingin menangis saat itu juga.
"Hey, thanks." kudengar Lucas tertawa kecil dan meraih kotak di tanganku.
Sudah! Dengan menutupi wajahku yang panas, kubalikkan tubuh dan berlari secepat mungkin menuju ke arah Vanka.

Masih kudengar Lucas tertawa di belakangku. Dan kini ia akan menganggapku gadis aneh. Setelah memberi hadiah, lalu lari.
"Bodoh..!" ucap Vanka seraya mengangkat kepalaku dan mencubit hidungku.
"Kan aku malu.." isakku sejujur-jujurnya.
Vanka tertawa, lalu mengusapkan tissue ke wajahku, "Kamu memang merepotkan."
"Sori ya, Vanka."
Lagi-lagi Vanka tertawa. Aku jadi ikutan tertawa sambil menangis.

Chap II

Pagi itu aku sama sekali tidak bisa menkonsentrasikan diriku untuk mengikuti pelajaran. Bagaimana mungkin? Bahkan lututku saja masih merasakan getaran ketakutan bercampur rasa malu akibat kejadian kemarin.
"Siapa yang bisa menunjukkan letak selaput menings? Dita?"
"Dee.." Vanka menyenggol sikutku dangan bahunya.
"Hah..?"
Terlambat. Bu Ester sudah mendekati bangku kami dan membungkukkan tubuhnya lalu menatap mataku dalam-dalam.

"Kamu sakit?"
"Iya, Bu. Dita sakit sejak tadi pagi.." sahut Vanka seraya menginjak kakiku di bawah meja. Dengan wajah menahan sakit kuanggukkan kepalaku.
"Oh, kalau begitu kamu ijin pulang saja."
"Ngga usah, Bu. Saya ngga apa-apa kok."
Bu Ester meletakkan punggung tangannya di dahiku, "Kamu panas. Pulang saja, gih. Saya kasih surat ke tata usaha."
Panas? Yang benar saja? Vanka juga menatapku dangan pandangan bertanya-tanya.
"Dita sakit? Kok tidak biasanya?" tanya penjaga tata usaha itu padaku seraya menyerahkan selembar surat ijin.
Maklumlah, aku bukan tipe anak yang suka sakit-sakitan.

Setelah mengucapkan terima kasih, kulangkahkan kakiku menuju gerbang sekolah. Saat itu baru aku merasa sedikit pusing. Mungkin aku benar-benar sedang sakit. Mungkin aku benar-benar panas saat melihat tiga orang pemuda yang sedang tertawa-tawa di depan kantin. Lucas. Ya ampun. Apakah dia memandangku? Kucepatan langkahku seraya tetap menundukkan kepala.

"Cewek.." seseorang menyapaku dari belakang.
Lucas? Kutolehkan kepalaku dan melihat seorang anak kelas tiga berdiri di belakangku.
"Eh..?" tanyaku sedikit kecewa karena itu bukan Lucas.
"Hai.." ucap pemuda itu seraya mengulurkan tangan, "Gua Guy."
Dengan alis berkerenyit kutatap uluran tangan itu. Aku sering mendengar dari teman-teman sesama kelas dua, bahwa anak kelas tiga IPS suka 'mencegat' cewek kelas dua di depan kantin, apalagi jika mereka sedang tidak ada pelajaran. Tapi aku baru mengalaminya kali ini. Apa yang harus kulakukan?

"Loh, kok sombong..?" tawa pemuda yang mengaku bernama Guy itu, lalu meraih tanganku dan menjabat paksa, "Kenalan..!"
"Ih.." desisku dan melepaskan tanganku dari genggamannya.
Sekarang kepalaku benar-benar pusing. Semua anak kelas tiga ini selalu merasa dirinya paling hebat dan tak ada yang berani melawan mereka termasuk guru-guru. Menyebalkan dengan semua adegan pemaksaan ini. Kubalik tubuhku tanpa komentar. Daripada aku roboh saking pusing dan muaknya, lebih baik aku berlalu.
"Hey, ada adik kelas sombong, nih!" kudengar pemuda bernama Guy itu berseru pada sahabat-sahabatnya di kantin.
Kudengar suara langkah-langkah kaki mendekat. Aduh, untuk kembali ke ruang guru aku harus berbalik. Di depanku ada gerbang, dan di sana ada penjaga sekolah. Mungkin sebaiknya aku lari.

"Hey, ini kan gebetan gua yang baru.." mendadak seseorang merangkul pundakku dan tertawa di samping telingaku.
Mungkin aku sudah meronta sekuat tenaga seandainya tidak terdengar bisikan di telingaku, "Sshh, jangan bergerak..!"
"Yeh, Luke. Semuanya deh gebetan elo."
Luke? Lucas?
Kudengar pemuda yang merangkulku tertawa, "Sori, Guy."
Ya Tuhan, aku tak berani bergerak se-inci-pun. Menoleh, apalagi. Lengan yang melingkar di pundakku menekan dan memaksaku melangkah. Seperti dihipnotis aku menurut saja. Ini Lucas! Lucas!! Oh my God! Lengan itu mengantarku sampai ke luar gerbang lalu melepaskan pundakku.

"Let's see.." kudengar pemuda itu berkata, "Hey, jangan nunduk terus."
Berdebar kuangkat kepalaku. Kulihat pemuda yang ternyata memang Lucas itu tersenyum-senyum menatapku. Ingin rasanya melompat kegirangan, tapi sebaliknya kakiku malah terasa semakin lemas.
"Thanks cokelat kemarin," kudengar pemuda itu berkata.
"I.. iya.." ucapku gemetaran.
Apa yang kulakukan? Pasti aku terlihat bodoh di hadapannya. Aduh, aduh! Tapi Lucas malah tertawa.
"Ya sudah kalau begitu. Take care."
Lalu pemuda itu membalikkan tubuhnya.

Hanya itu? Dee! Alangkah penakutnya! Dan aku masih tidak bisa ber-inovasi. Hanya melihat Lucas melangkah dan menghilang di balik gerbang. Ingin aku menangis lagi saat itu juga.
"Hey..!"
"Hah..?" Kuangkat kepalaku dan melihat Lucas menjulurkan kepalanya dari balik gerbang, "Dit, lain kali kalau bikin cokelat pakai cetakan saja."
Dita? Dia memanggil namaku? Dia mengingat nama yang kutorehkan di atas cokelat berbentuk hati itu? Waahh.. tunggu apa lagi, Dee? Tapi Lucas sudah menghilang. Bahkan aku belum sempat bereaksi apapun. Dan tinggallah aku sendiri di trotoar menunggu jemputan, menyesali kebodohan dan kepengecutanku. Seandainya saja aku lebih berani saat itu.

Chap II

"Aduh, Dee! Bodohnya kamu!"
"Uwaa! Jangan begitu dong. Aku kan malu..!"
"Lagi-lagi malu, lagi-lagi malu," Vanka mengomel panjang lebar seraya memasukkan potongan biskuit ke dalam mulutnya.
"Kalau jadi orang itu yang berani. Kalau kamu nggak pernah mencoba untuk berani, paling tidak sekali, kamu ngga bakalan dapat apa-apa."
"Tapi aku kan.."
"Malu?" potong Vanka, "Ya namanya cewek ya pasti pemalu kalo ngga malu-maluin. Tapi cobalah, paling tidak ngajak ngobrol begitu. Dan gua ingatin, sebaiknya elo move fast, soalnya gua denger-denger nih dari teman-teman kalau si Lucas sudah pingin nyari cewek lagi. Tau kan? Dia kan sudah enam bulan putus dari si Vera yang anaknya toko karoseri itu."
Nyari cewek lagi?

"Aduh, yang cewek-cewek kalo lagi ngegosip serunya.." mendadak sebuah kepala terjulur dari balik pintu.
Dengan sebal kulempar bantal yang ada dalam pelukanku ke arah kakak laki-lakiku.
"Lo nguping tempat lain aja, Lex..!"
Alex malah membuka pintu dan melangkah masuk.
"Katanya sakit, makanya gua bela-belain bolos kuliah. Eh, kok malah ngusir."
Alex menjulurkan lengannya dan mengacak-acak rambutku.
"Alex..!" teriakku sebal.
Kakakku yang satu itu memang iseng.

"Lex, jalan yuk..?" mendadak Vanka berkata dari sebelah.
Alex menoleh dan tersenyum, "Lha kamu pikir aku pulang cuma gara-gara anak manja ini..?"
Vanka bertepuk girang, sementara aku memandang sebal lalu meletakkan kepalaku di pinggir tempat tidur.
"Kamu ikut, Dee..?" tanya Alex di depan pintu.
"Dee lagi sakit. Kita beduaan aja, deh.." Vanka menyeletuk sebelum aku sempat menjawab.
Alex terkekeh, melambai dan menutup pintu.
"Vanka..! Jangan macam-macam..!" teriakku sebelum tersenyum-senyum sendiri melihat kelakuan sahabatku yang sok kenal sok dekat pada semua cowok itu.
Kuraih bantal di kaki tempat tidur dan memeluknya di dadaku. Lucas, desahku dalam hati. Aku jadi ingin membuat cokelat lagi. Kali ini pakai cetakan.

Bersambung . . . .