Cinta di sudut lembayung senja - 6

Segera disapunya permukaan lubang kenikmatan Gina. Otomatis, 'abdomen'nya diangkat ingin menegaskan lidah Dharma untuk segera memasuki relung nikmatnya. Dharma menangkap perintah itu, segera dimasukkannya lidah besar dan panjang itu ke dalam relung nikmat Gina, yang telah menengadah menyambut kenikmatan yang bakal diciptakan lidah Dharma; segera menarilah lidah Dharma didalam bejana relung nikmat Gina. Alunan pekik dan racauan membaur dalam kenikmatannya.

"Dharma, aku mencapainya, Dharma kau memberiku kepuasan indah, Dharma jangan tinggalkan aku please.. "
"Sayang Dharma disini, ingin Dharma selalu memberi kepuasan untukmu disetiap tarikan nafasku sayang"
Maka secepat kilat Dharma mendekap Gina dengan erat, dalam tetegangan tubuh Gina yang sedang menikmati Orgasmenya.
"Sayang, nikmati ciptaan cinta kita berdua, kau akan aman dalam lindunganku"

Setelah reda, Gina dari ketegangannya, dia berkata, "Gina, maukah kau menyambut 'adikku' ini, maukah kau menimangnya sebentar saja sayang"
"Ya tentu Dharma, aku akan senang membelai dan mengecupnya"

Dengan serta merta Dharma merebahkan badannya disisi Gina, segera Ginapun bangkit duduk didada Dharma menghadap ke'dudle' Dharma yang telah mengacung kearah atap rumbia bedeng itu; segera didaratkannya bibirnya pada 'dudle' hangat itu, digesekkan bibir itu pada kepala dudlenya dikecup, dijilatnya, disapunya seluruh permukaan kepala itu lalu merambat keseluruh batang yang penuh degan guratan urat-urat yang kencang. Dharma pun mengerang mendapat sentuhan lembut dari mulut dan lidah Gina.

"Gina, Ginaku sayang, sayangilah sayangilah aku Gina, I need you Honey, I need you", sembari memeras meras pantat Gina yang bulat dan padat.

Gina merangkak lebih maju lagi karena dia ingin menggapai buah zakar Dharma yang mengecil tegang karena batang dudle itu menegang maksimum. Diraihnya zakar itu dimainkannya dengan kedua tanggannya dan dijilatinya buah kenikmatan; tiba-tiba Gina pindah kearah kaki dan duduk diantara lutut Dharma menghadap ke kepala Dharma, segera membungkuk dan mengulum buah zakar Dharma, tangan kirinya menelusup masuk diantara selangkangannya, dan meraih anus Dharma; dibelainya anusnya dengan lembut dan kemudian di tekan-tekan sedikit anus itu, untuk sekedar membantu bertambahnya rangsangan yang dirasakan Dharma dalam menikmati hisapan zakarnya.

Setelah puas dengan zakarnya Gina kembali kebatang 'dudle' Dharma dan dijilatinya seluruh batang kembali, kemudian dikulumnya lalu dihisapnya 'dudle' Dharma sambil kedua tangannya mengocoknya dengan ritme tertentu. Dharma menggeliat dan kepalanya di hempaskan ke tilam setelah mendongkak dongkak menikmati surga dunia bersama hisapan mulut Gina. Kemudian Dharma segera bangun, dan direbahkannya Gina, dibukanya pahanya lebar-lebar, sembari Dharma memposisikan dirinya bersimpuh dihadapan "Pussy" segarnya Gina. Dharma segera menyeruakkan 'dudle' gagah itu di permukaan lipatan 'pussy' Gina, digesek-gesekkannya beberapa saat, sambil menunggu reaksi Gina.

"Dharma, kita main cinta, masukkanlah Dharma, aku ingin mengenalmu didalam sana darling"
"Ya Honey, terimalah aku sayang dengan nafsu dan cintamu.."

Maka dimasukkannya, 'dudle' Dharma dengan hati-hati didorongnya pantatnya ke depan untuk menerobos relung nikmat Gina, namun rupanya tak semudah yang Dharma sangka, karena memang relung nikmat Gina indah sempit dibanding dengan gagah segar nya 'dudle' Dharma yang cukup besar.

"Sabar sayang, aku sedang berusaha masuk relung nikmatmu",
"Releks saja jangan terlalu tegang ya sayang"

Lalu dihentakkannya kembali pantatnya, untuk mendorong 'dudle'nya masuk kerelung nikmat itu, Ginapun memekik kembali, dan menegang. Dharmapun berhenti sejenak sambil mengoyangkan dudlenya pelan-pelan kekiri dan kanan, memberi kesempatan relung nikmat itu bisa menerima kehadiran 'dudle'nya. Setelah relung itu bisa mengakomodasi kedatangan dudle besar itu, mulailah ia mengeluarkan cairan yang melumasi batang segar itu, dan sekali lagi Dharma menghentakkan kedalam dan bless, masuklah semua 'dudle. itu, kemudian mulailah Dharma memompa maju mudur dengan gaya nya tersendiri, untuk memberikan kenikmatan yang sempurna untuk Gina dan juga dirinya sendiri.

"Gina, 'pussy'mu masih sangat sempit sayang, seolah aku menikmati dan memdapatkan 'virginity' mu saat ini, aku bahagia mendapatkanmu Gina, marilah kita daki birahi kita bersama"
"Ohh, thank God, you like it, let enjoy making love together", Gina menjawab begitu sambil menggoyangkan pantatnya naik turun, kiri kanan, diputarnya pantatnya mengimbangi pompaan dari dudle Dharma yang semakin lama semakin kencang.

Keduanya melenguh, melengkingkan kenikmatan mereka dalam mendaki birahi mereka; mata Gina terpejam menikmati, sedang Dharma mengamati gelinjang dan geliatan Gina, sambil matanya sendiri redup sayu menikmati setiap gesekan batang dudlenya mengenai dinding relung nikmat, yang terasa bergerenjolan menjepit setiap titik syaraf batang 'dudle'nya.

Sambil terengah-engah memburu nafsunya, Dharma memegang kedua paha Gina, gilu menerpa di seluruh batang 'dudle'nya, merambat getaran setrum yang tinggi diseluruh tubuhnya, badannya menggigil menahan rasa nikmatnya. Kemudian dia hentikan gerakannya, dan berkata, "Gina, akan kulepas sebentar dudleku, berbaliklah dan menungginglah letakkan kepalamu miring pada tilam, kau akan menikmati kutusukkan 'dudle'ku dari belakang ya sayang"

Gina menurut, terlihat merekah segar 'pussy'nya dari belakang, diciumnya pussy segar itu dan dijilatnya berulang-ulang. Pantat Gina bergoyang menggoda, membuat hati Dharma tersirap kencang, dan nafsunya sudah tak bisa dibendung lagi, untuk menusukkan 'dudle' tegangnya kedalam relung nikmat yang memang telah didepan hidungnya.

Segera dia bangkit dan mengarahkan 'dudle' nya itu menusuk 'pussy' merekah, walau tetap tidak mudah menembusnya, dengan dua kali hentakan, segera masukkah 'dudle' Dharma menembus sasarannya, segera digoyangkan dan dipompanya dengan penuh nafsu butanya, untuk mencapai klimas. Jantung mereka semakin berpacu kencang, Gina mercau hebat, mendapat pompaan yang wild seperti kuda jantan dibelakang pantatnya, nikmat tiada tara.

"Dharma, kau benar gagah dan wild sekali, pompa terus Dharma, aku menikmati, aku ingin orgasme sama-sama Dharma, tusuklah lebih dalam lagi.. kau pejantanku"
"Iya, Gina mari kita nikmati permainan cinta yang kita ciptakan berdua."
"Memang sudah terasa berdenyut kencang dikepala 'dudle' marilah kita sama-sama keluar Gina"
"Iiya Dharma Gina keluaarr aaduuh nikmat sekali sayang"

Maka robohlah Dharma dipunggung Gina, dan achirnya mereka berdua roboh di tilam gubuk rumbia, pondok pinggir pantai itu.
Setelah mereka reda, Ginapun bangkit dan jongkok tepat diatas mulut Dharma.

"Dharma, tolong bersihkanlah yang ada didalam 'pussy'ku ini.", segera Dharmapun melakukan dengan hati sayang dan cinta sambil dielus-elus pantat Gina, disedotnya semua isi yang ada direlung nikmat Gina; Ginapun berdesis dan mengaduh kegelian.

Seusai Dharma membersihkan 'pussy' Gina, segera Gina bangun, membalik menuju ke 'dudle' Dharma, dan cepat dia jongkok dijilati nya 'dudle'segar basah itu sampai bersih sekali. Akhirnya mereka masih rebahan sebentar, dan kemudian mereka mengenakan pakaian nya.

Tak terasakan, hari semakin sore, langit memerah lembayung, senja telah dihadapannya padangannya. Mereka duduk, dengan kaki Gina ditekuk ke atas kaki menapak di tilam itu, Dharma mendekap dari belakang kakinya ditekuk diantara badan Gina. Matahari telah tinggal jarak 20 cm dipermukaan air laut, menuju keperaduan.

Detik demi detik mereka mikmati keindahan matahari yang bergeser lengser ke bumi. Sesekali dikecupnya leher belakang Gina dengan desahan yang indah didengar, sesekali ditolehkannya muka Gina untuk menyambut bibir Dharma yang hangat penuh gelora cinta. Terasa sangat indah dunia ini untuk mereka yang sedang dirundung cinta asmara.

Tibalah saatnya 70% matahari terbenam seraya merayap masuk, tinggallah ia meninggalkan semburat lembayung sambil mengerlingkan matanya sebelah kepada sepasang insan, yang baru selesai memadu cintanya di sudut lembayung senja itu, dan mengucapkan selamat malam kepada mereka serta seluruh belahan bumi seutuhnya. Gelap telah mulai merayap ke bumi, maka berdirilah Dharma, sambil mengulurkan tangannya kepada Gina, mengharap Gina menikutinya, dan berajak pulang.

Gina sempat berpikir dalam hatinya, "Rama, adakah kau masuk dalam diri Dharmaku sayang"

Sambil berajak, Gina tersenyum menyambut tangan Dharma dan berjalan menuju ke mobil. Dharma memutuskan mengendarai mobil Gina, sementara ia meninggalkan mobilnya sendiri, diparkiran pinggir pantai itu, dengan tujuan untuk menyuruh Pak Harjo, tukang jaga Bungalow ibunya membawanya pulang nanti barang 1 jam lagi.

Dalam mobil, Gina memegangi tangan kiri Dharma.
"Dharma, tinggallah dihatiku, jangan tinggalkan daku lagi"
"Gina, aku berusaha untuk selalu melindungimu, tak akan kubiarkan kau sendiri sayang"
"Aku terimakasih sekali kau mau menerimaku Gina"
"Aku betul-betul mencintaimu, aku tak mau melihatmu menderita"
Di jalan lurus yang agak sepi, dirundukannya muka Dharma untuk mengecup bibir Gina, yang disambutnya dengan hangat.

Malam itu, Dharma tinggal di Bungalow Gina, mereka mandi sama-sama, dan bermain cita lagi di kamar mandi, dalam bak Spa, dengan air yang berjonjot-jonjot, Dharma duduk disandaran bak spa itu, Gina menduduki dudle Dharma berhadapan, dan di pompanya 'dudle' Dharma dengan gairah yang meluap, sedang Dharma mengerakkan naik turun pantatnya dengan agak passive hanya mengimbangi gerakan Gina, diremasnya payudara Gina, di kulumnya putingnya keras keras, membuat Gina semakin wild dan mengerang.

"Terus Dharma, hisap susuku dan remaslah sepuasmu, enak sekali rasanya, uuhchh, jiwaku mau lepas Dharma", segera Dharmapun meraih muka Gina yang sedang Wild dan diciumnya kencang diselusupkan lidahnya serta dihisapnya liur Gina kuat-kuat, lidah mereka menari bersama saling dorong dan kait, mereka berpagutan seraya Gina mencengkeram tangannya dipunggung Dharma, menikmati orgasmenya.

Beberapa saat kemudian gantian Gina yang duduk, dipanggulnya kedua kakinya dan dimasukkannya 'Dudle' Dharma dalam relung nikmat Gina dan dipompanya bertubi-tubi seraya nafasnya memburu birahi dan gairah cinta mereka bersama, lenguhan dan erangan silih berganti, akhirnya mereka berteriak bersama menyambut ejakulasinya Dharma, dan disusul erangan-erangan Gina sambil menegang menjambut orgasmenya untuk yang kesekian kalinya dihari indah itu.

Mereka membersihkan diri kembali dibawah shower, kemudian dikeringkannya, badan Dharma mengunakan handuk yang biasa dipakai Rama, kemudian Gina juga dikeringkannya oleh Dharma dengan haduk yang sama. Sengaja Gina melakukan itu untuk selalu mengenang cintanya dan hormatnya kepada Rama yang telah tiada, namun dia juga ingin Dharma merasakan sentuhan Rama kepada dirinya.

Dharma mengetahui sekali, Dharma pun tak berkeberatan akan semuanya ini untuk menghormati Rama serta melarut-leburkan perasaan Gina untuk Rama menyatu dengan dirinya. Malam itu mereka merasa terlalu letih, segera mereka aberanjak ke tempat tidur, cepat tertidurlah mereka dalam damai sambil berpelukan semalaman.


Tamat