Orgasme perdana Verne - 1

Setelah menuliskan "Ria, My First Sex Partner", aku mendapatkan email dari seorang wanita yang bernama Verne. Usianya 27 tahun. Dia tinggal di satu kota yang berbeda dengan kota tempat tinggalku. Emailnya singkat, hanya menanyakan kebenaran ceritaku. Setelah beberapa kali saling berkirim email, Verne memberikan nomor handphone-nya padaku.

"Boy.. Kamu tinggal di kota mana sih?" tanyanya di email.
"Kota ini.. Cuma aku sering pergi ke luar kota untuk urusan bisnisku" jawabku.
"Wah liburan lebaran ini aku mau ke kotamu."
"Oh ya? Okay nanti kita atur waktu untuk bertemu. Siapa tahu kita bisa kencan.. Oh ya kirim fotomu dong?" balasku di email.
"Sory, gue nggak ada foto.." balas Verne.
"Ah masa.. Pasti ada lah.." bagiku hampir tak mungkin seseorang tak punya foto.
"Ada sih, tapi jelek.. Ntar aja kalau aku ke kotamu aku foto dan kasih ke kamu"

Yah, aku tahu Verne jujur. Dari isi emailnya, aku tahu dia tidak suka basa basi. Karena itu aku okay saja menunggu fotonya.

Hari kedatangan Verne tiba. Malamnya aku meneleponnya.

"Udah nyampe? Kamu tinggal di mana?"
"Udah dari tadi.. Tinggal di sini.." katanya menyebutkan nama suatu daerah.
"Bisa tahu nomor teleponnya? Aku telepon di rumah saja ya?"

Aku ingin tahu apakah dia mau memberikan nomor teleponnya. Sekalian berhematlah. Ternyata Verne mau memberikan nomor teleponnya. Lalu aku meneleponnya. Kami bicara tidak banyak karena aku memang sedang sibuk. Lalu aku membuat janji untuk datang ke rumahnya.

Aku datang beberapa hari kemudian. Di perjalanan aku berdebar-debar memikirkan seperti apa si Verne ini. Setelah sempat salah rumah, aku menemukan rumahnya. Verne manis orangnya. (kalau baca cerita ini jangan senyum sendiri ya, Verne!), tubuhnya seksi dengan tinggi 170 cm/65 kg. Kate Winslet memiliki postur 168 cm/65 kg. Jadi bisa dibayangkan kira-kira tubuh Verne, sama sekali tidak gemuk menurutku. Beratnya mungkin banyak terfokus di payudara dan pinggulnya yang seksi. Belakangan aku baru tahu ukuran bra-nya 36B. Kulitnya kuning seperti orang Chinese kebanyakan. Dengan rambut sebahu, bibir penuh dan tanpa make up, dia kelihatan natural.

Kami bicara cukup lama. Orangnya enak diajak bicara. Banyak bahan yang bisa dia ceritakan. Mulai pekerjaannya, mantan pacarnya, teman-temannya, keluarganya, sampai akhirnya kami membicarakan cerita yang kutulis, respon pembaca dan banyak hal lain. Satu hal yang kusukai darinya adalah keterusterangannya. Meskipun kadang topik sex membuatnya malu, tetapi Verne tetap menyambut setiap bahan pembicaraan kami. Waktu menunjukkan pukul 21.30 dan aku memutuskan untuk pulang. Dalam hati aku masih bimbang untuk mengajaknya berkencan atau tidak. Akhir-akhir ini pekerjaanku menumpuk dan menyita waktuku.

Kami berdua berjalan menuju gerbang rumahnya. Verne tinggal di rumah neneknya selama di kotaku. Mataku menjelajahi rumah dan sekelilingnya. Banyak orang di rumah seberang. Wah, padahal aku ingin menciumnya. Ketika Verne membukakan kunci gerbang, bahunya yang terbuka putih mulus membuatku ingin memeluk dan mencium tengkuknya. Akan tetapi aku tak jadi melakukannya.

"Aku pulang ya.. Verne? Tunggu besok ya, kalau ada waktu aku akan mengajakmu kencan" kataku. Verne mengangguk.

Aku segera masuk mobilku dan pulang. Sampai di rumah aku menulis SMS untuk Verne.

"Verne.. Menurutmu aku orangnya gimana?"
"Kamu cute, Boy. Tinggi juga tubuhmu. Aku baru kali ini sampai mendongakkan kepalaku waktu bicara dengan cowok.. Soalnya aku tinggi juga.. Kalau aku menurutmu?"
"You're so sweet, girl.. Tadi aku ingin menciummu tapi banyak orang.."
"Wah.. Thanks.. U ingin menciumku? Aku juga lho.. Tapi kukira Boy tidak tertarik padaku tadi.." astaga.. Siapa yang tidak tertarik dengan bibir penuh dan tubuh tinggi seksi itu?
"What a missing moment! Aduh.. Tahu gitu tadi aku akan mengajakmu masuk mobil dan menciummu!" aku jadi menyesal tidak menciumnya tadi. Aku kehilangan kesempatan bagus.
"Iya.. Aku jadi kepikiran missing moment tadi.."
"Oh ya Verne.. Kalau besok aku pasti tidak bisa mengajakmu keluar. Ada janji dengan client. Mungkin besok lusa ya.. Aku ke rumahmu malam."
"Oh.. Besok gak bisa ya? Aku available-nya cuma sampai besok lusa malam. Pagi-pagi aku sudah pulang ke kotaku.."
"Oh gitu? Ya besok lusa aja deh. Gimana kalau kita ke hotel saja?"
"Tak masalah. Tapi tidak bisa menginap lho. Soalnya paginya aku sudah harus pulang.."

Aku mulai menghitung waktu. Kesibukanku yang luar biasa sangat menguras fisikku. Aku tiba-tiba kuatir tidak bisa memuaskan Verne. Bagaimana jika nanti aku lemah? Aku pun menulis SMS lagi ke Verne.

"Tapi kalau aku capek, kita tidak usah ke hotel ya? Daripada belum-belum aku sudah ejakulasi.. Kan kasihan kamunya kalau tidak bisa orgasme.."
"Aku tidak mengejar orgasme, Boy. Bagaimana kalau aku bilang, sangat sulit membuatku orgasme? Aku suka aktifitasnya. Cium, peluk, have sex, making love.. Aku tidak mengejar orgasmenya.."

Aku jadi bingung sendiri. Aku tidak mungkin melepas pekerjaanku, tetapi aku juga tidak ingin melepas kesempatan bercinta dengan salah satu pembaca Rumah Seks ini yang sudah jauh-jauh ke datang kotaku. Aku masih berpikir ketika SMS dari Verne datang lagi.

"Boy.. Ini one nite stand pertamaku. Aku ke kotamu belum tentu 1 tahun sekali. Mungkin kita tidak akan punya kesempatan ke dua kalinya.."
"Aku cuma kuatir nanti akan mengecewakanmu.." balasku.
"Boy, bukankah seharusnya yang memutuskan kecewa atau tidak itu aku? Jangan seperti itu.. karena justru membuatku kepikiran. Make no sense banget deh.."

Ya, Verne benar. Kesempatan di depan mata yang mungkin tidak akan terulang lagi tidak boleh disia-siakan.

"Oke deh.. Besok jam 5 sore aku jemput. Kita ke hotel short time saja. Oh ya Verne.. Pasanganmu biasanya pake kondom tidak? Aku terbiasa pake kondom. Demi menjaga kesehatan dan mencegah kehamilan" tulisku lagi di SMS.
"Boy, aku minum pil anti hamil kok. Aku juga bersih, bebas penyakit."
"Aku juga sehat, Verne.. Soalnya aku baru 1x tanpa kondom, dengan Cie Yeni itu.." kataku.
"Boy, ini one nite stand pertamaku. Selama ini aku having sex dengan orang yang sudah kukenal lama. Jadi, kalau kamu mau pake kondom, itu better for me."

Ya, pikiran Verne sama denganku. Kami belum saling kenal sebelumnya. Resiko terkena penyakit cukup besar.

"Wah.. Thanks Verne. Tadi aku kuatir menyinggung perasaanmu. Kalau gitu aku akan pakai kondom saja.. Oh ya, u aktif atau pasif waktu ML?"
"Aku tergantung pasanganku. Bisa aktif bisa pasif. Kamu suka cewek yang seperti apa Boy?"
"Aku suka cewek aktif. Boleh agresif boleh tidak. Tetapi yang penting aktif. Kalau oral atau dioral kamu suka?"
"Aku suka dioral kalau enak.. Kalau mengoral aku bisa cuma tidak pandai. Kalau kamu?"
"Aku suka dioral. Kalau mengoral, aku mau saja tapi agak sensitif dengan bau.." kataku.
"Oh ya? Aku tidak pernah dikomplain soal bauku kok.." kami terus mengobrol sampai larut malam sampai akhirnya Verne kehabisan pulsa.

*****

Besok sorenya aku jemput Verne dan segera ke hotel untuk check in short time. Verne tampil sexy dengan tank top dan celana jeans. Lipstik tipis, mascara dan bedak tipis membuatnya lebih cantik. Di sepanjang jalan aku tidak banyak bicara. Aku lebih banyak berpikir bagaimana nanti aku bisa memuaskannya. Aku merasakan tubuhku tidak fit. Tetapi memikirkan bergumul dengan wanita yang sekarang duduk di sebelahku di mobil, membuatku segar. Asyik.. Sebentar lagi aku bercinta lagi. Sudah lama aku tidak bercinta. Sekitar 2 bulan.

Sampai di kamar hotel aku memesan air mineral dan menyalakan televisi. Verne duduk di tepi ranjang setelah meletakkan tasnya.

"Wah.. Aku nervous, Boy.." katanya.

Aku terkejut. Wanita ini nervous! Haha.. Ada-ada saja. Tapi aku memahaminya. Ini adalah pertama kalinya Verne hendak ML dengan orang yang belum lama dikenalnya. Pasti ada keragu-raguan dan banyak pikiran yang membuatnya nervous. Aku harus berusaha menenangkannya.

Perlahan tanganku meraih pinggangnya yang terbuka. Aku mengusapnya lembut. Verne agak kegelian. Dia memegang tanganku.

"Wah.. Kok bisa nervous ya. Padahal waktu ML pertama kali saja tidak nervous.."

Aku hendak menjawabnya ketika room boy datang membawa minuman yang kupesan. Aku minum sedikit lalu berbaring. Verne masih kaku duduk di pinggir ranjang. Akhirnya kutarik tubuhnya untuk berbaring. Maksudku ingin membuatnya rileks dengan berbaring. Setelah Verne berbaring, aku menghampiri lehernya dan menghembuskan nafasku pelan-pelan. Verne melenguh. Dia membalikkan badannya dan mulai mencium bibirku.

Aku membalasnya dengan hangat. Bibir Verne penuh. Dia mahir sekali melumat bibirku sambil menghisap. Enak, guys! Kami beradu bibir, lidah dan seluruh mulut. Saling melumat, menjilat dan menghisap. Kurasakan nafas Verne mulai memburu. Ciuman bibir kami terlepas. Aku mulai mencari titik erotis di wajahnya. Mulai dahi, pipi, leher kucium. Reaksinya biasa saja. Waktu aku mencapai telinganya, desahannya semakin keras. Telinganya sensitif. Kami bercumbu terus. Aku berkonsentrasi di bibir dan telinganya. Tanganku memegang kepalanya. Tangan Verne bergerak meraba perutku dan naik menuju dadaku. Dia meraba-raba dan memainkan puting dadaku. Geli dan lumayan enak.

Kami berciuman cukup lama. Tanganku bergerak meraih kait bra-nya. Ternyata sulit terbuka! Verne tertawa. Dia kemudian melepas tank top dan bra-nya. Aku menelan ludah melihat payudara 36B-nya. Wow! Putingnya merah menantang sangat menonjol. Baru kali ini aku melihat puting seseksi itu. Aku tidak segera meraih payudaranya. Aku terlebih dahulu menikmati dengan melihatnya. Kuraba bagian tengah dadanya. Turun ke perutnya. Membuat gerakan melingkar membuatnya menggelinjang geli. Naik merayap ke lembah payudaranya. Verne mengira aku akan meraih putingnya. Ternyata dia salah. Aku hanya berputar-putar di payudaranya tanpa memberikan tekanan apapun..

"Uh.. Jahat.." bisik Verne.

Ya, belum saatnya meraih payudaranya. Aku kembali menciumnya. Turun ke leher dan merayap ke dadanya. Hidungku menelurusi payudaranya dan tiba di putingnya. Kemudian kuturunkan kepalaku. Lidahku menjilat melingkar di perut, naik ke payudaranya, berputar-putar seperti pendaki gunung yang berusaha mencapai puncak. Tubuh Verne mulai gelisah. Aku tahu dan mulai menjilat puncak putingnya dengan seluruh lidahku. Penuh..

"Aach.." Verne mengerang.

Aku menjilat dan mulai menghisap putingnya. Tanganku bergerak memijat punggungnya. Kemudian pinggang dan perutnya. Aku berusaha membuat aliran darahnya merata di semua bagian tubuhnya. Verne menggelinjang terus saat kupijat dan kuraba punggungnya. Jariku membuat gerakan sangat halus hingga membuat saraf-sarafnya bereaksi. Darahnya mengalir lebih cepat dan Verne semakin terangsang. Tubuhnya bergetar menahan rangsangan di punggungnya. Aku menahannya dengan tanganku, tak membiarkannya terlepas. Titik erotisnya banyak tersebar di punggung. Karena itu guratan jariku di punggungnya membuat Verne semakin terangsang.

Perlahan aku menurunkan celana dalamnya. Wow.. Vagina yang seksi terpampang di depan wajahku. Persis di mukaku! Vaginanya halus tanpa ada bulu. Verne mencukur bersih vaginanya. Aku menciumnya. Hmm.. Tidak bau. Hanya ada aroma khas vagina yang memang sudah seharusnya ada. Aku menjulurkan lidahku. Menjilatnya sepenuh hati. Semua jadi sasaranku. Labia mayora, labia minora, dan akhirnya aku menyerang klitorisnya. Daging berwarna merah muda di tempat bibir dalam vaginanya bertemu itu kujilat habis-habisan.

"Oh Yess.." desah Verne.

Tubuhnya mulai bergetar hebat. Aku terus menjilatnya sambil sesekali menghisapnya. Kepalaku tepat berada di antara kedua kakinya. Lama-kelamaan kakinya menjepit kakiku. Jepitan yang mulanya biasa, sampai akhirnya jepitannya kuat sekali.

"Argh.. Oh God.. Ah.. Ah.." desah Verne. Aku makin bersemangat menjilatnya.
"Aku nggak kuat, Boy.. Argh.."

Verne makin kuat mendesah dan mengerang.. Siapa peduli? Aku akan menyiksanya lebih jauh lagi dengan kenikmatan yang dahsyat. Dalam.. Tidak terlupakan. Tubuh Verne menggelinjang makin kuat.

"Ogh.. Boy, aku tak tahan.. Sudah! Sudah!"

Kakinya melepas jepitannya. Tapi aku malah menahan kakinya dan terus menjilatnya. Siksaan nikmat ini harus kulakukan. Verne berteriak makin kuat. Akhirnya dia bangun. Kakinya tak dapat kutahan lagi. Dia bangun dan menerkamku.

"Aku nggak kuat lagi, Boy!" raung Verne.

Tubuhku ditariknya berbaring dan dia menindihku dari atas. Tangannya mencari penisku dan berusaha memasukkannya ke vaginanya.. Astaga! Penisku masih belum sempurna ereksinya. Otomatis penetrasi gagal dilakukan. Sangat sulit masuk ke vagina kalau penis tidak cukup keras. Perlahan, bukannya mengeras, penisku justru semakin loyo! Apa yang kutakutkan terjadi. Fisikku yang sedang kelelahan membuat penisku gagal ereksi.

"Bantu aku, Verne.." kataku shock.

Aku malu sekali. Verne meraih penisku dan meremasnya. Kemudian dia mengoralku. Gagal. Penisku makin tidur. Aku makin shock.

"Sudah, Verne.. Nanti saja.." kataku pelan.

Aku seperti jatuh dari lantai tingkat sepuluh dan jatuh dengan keras ke bumi. Sakit, malu dan sangat terkejut. Ini adalah pertama kalinya aku gagal ereksi.


Bersambung . . . .