Words worth attack of the orcish horde - 2

"Buka mulut, jenderal pelacur!" perintahnya.
Dia berusaha mengelak ketika penis itu disodorkan padanya, matanya menatap penuh amarah pada makhluk itu. Merasa ditantang si orc itu naik pitam, dijambaknya rambut emas itu lebih kuat dan dicubitnya salah satu putingnya sehingga dia mengerang kesakitan. Kesempatan itulah yang dipakai si orc untuk menjejali mulut Sharon dengan penis hijaunya. Wajah Sharon didorong ke arah penisnya tanpa peduli kesulitannya bernafas. Benda itu hanya masuk kepala dan sebagian batangnya saja karena besarnya. Orc itu lalu menggerak-gerakkan pinggulnya menyetubuhi mulut Sharon. Sharon sendiri bekerja keras menghisap dan mengulum benda itu dalam mulutnya. Kulumannya sungguh membuat orc itu mengerang-ngerang keenakan.

Sharon merasa penis yang dikulumnya berdenyut lebih keras, rupanya orc itu sudah mau keluar. Disertai suara geraman yang lebih keras, cairan itu muncrat banyak sekali melebihi yang disemprotkan manusia, tentu saja mulut Sharon tidak dapat menampung seluruh cairan itu, dia tersedak dan cairan itu sebagian meluber di bibirnya. Dia tak bisa berbuat apa-apa selain cepat-cepat menelan semua cairan itu agak tak terlalu terasa. Sehabis berejakulasi di mulutnya orc itu menelentangkan tubuh Sharon. Dia membentangkan kedua belah pahanya dan mengambil posisi diantaranya, tangan kanannya mengarahkan penisnya memasuki vagina Sharon.

Orc itu mulai memompakan penisnya di dalam vagina Sharon. Jeritan histeris terdengar dari mulutnya setiap kali orc itu mengirimkan tusukan keras ke vaginanya. Lainnya yang menonton memberikan sorak sorai seperti sebuah pertandingan sepak bola, semakin Sharon histeris, semakin seru mereka menyorakinya. Sharon menggigit bibirnya menahan sakit, dia merasakan tubuhnya robek oleh penis orc itu.
"Uuhh.. unghh.. vaginamu benar-benar enak, bitch!" ejek orc itu, sementara tangannya dengan gemas meremas-remas payudaranya.
Beberapa saat kemudian badan orc itu mengejang sambil mempercepat hentakkannya, kedua tangannya semakin erat mencengkram payudaranya. Akhirnya dengan mengerang panjang orc itu memuntahkan spermanya di vagina Sharon.

Melihat Sharon tidak bersama dengannya mencapai orgasme, orc itu menjadi kesal.
"Kurang ajar, sudah diperkosa saja masih sombong tidak mau orgasme denganku, hah!" bentaknya sambil menjambak rambut Sharon, wajahnya yang mengerikan tidak jauh dari wajah cantiknya melototinya
Sharon hanya menanggapinya dengan tatapan mata dingin dan senyum sinis, lalu "Puuiihh!" diludahinya wajah monster itu. Sungguh bagaikan seekor singa betina, keangkuhannya tidak runtuh sekalipun dalam kondisi genting bagi seorang wanita seperti ini.
"Hehehe.. hebat, berani sekali, tidak percuma kau jadi jenderal di negeri Shadow, tapi coba kita lihat apa sekarang kamu masih bisa sombong, anak-anak.., beri pelajaran pada pelacur ini!"

Mendengar aba-aba itu, lima orc maju secara serempak mengerubuti tubuhnya. Mereka sudah tidak tahan melampiaskan nafsunya karena daritadi hanya menonton. Kini mereka sudah mulai berpesta dengan tubuh Sharon
"Ayo memohon dan minta ampun manis, mungkin aku akan kasihan dan menjadikanmu selir kesayanganku, hahaha..!" jenderal orc itu tertawa-tawa menghinanya.
Sementara itu Sharon berjuang keras melawan kelima orc yang sedang mengerjainya, dia juga berjuang dengan dirinya sendiri antara perasan nikmat dan benci. Kelimanya melucuti sisa-sisa pakaian yang masih menempel di tubuhnya, sarung tangannya mereka sobek di bagian telapak tangan supaya bisa merasakan kehalusan tanganya.

Salah satu orc menyelipkan kepalanya diantara kedua paha jenjang itu dan menjilati vaginanya yang telah basah, dua orc lainnya masing-masing bermain dengan payudara kanan dan kirinya, mereka dengan bernafsu memijat, menjilat, dan mengisap kedua gunung itu, satu lagi yang berlutut dekat wajahnya menarik kepala Sharon dan dengan paksa menjejali mulutnya dengan penisnya, dan satu orc lainnya meraih tangannya untuk dipakai mengocok penisnya. Sharon mulai merasakan ada yang aneh menggelitik dari bawah, orc itu sedang asyik menyedot dan menjilati vaginanya, lidahnya yang panjang menerobos masuk ke sana serta menjilati dinding-dinding kemaluannya sehingga dia tak dapat menahan tubuhnya menggeliat-geliat, kedua belah paha mulusnya semakin erat mengapit kepala si orc.

Orc yang tadi melumat payudara kirinya kini naik ke dadanya, lalu menyelipkan penisnya diantara kedua bukit kembar itu. Dia mengocok penis itu diantara himpitan kedua bongkahan kenyal itu, sambil mengocok terkadang dia memilin puting susu yang sudah mengeras itu.
"Emmphh.. eengg.. mm!" desah Sharon tertahan oleh penis hijau di mulutnya.
Orc yang dikulum penisnya orgasme duluan, spermanya tertumpah bagaikan air bah di mulut Sharon, cairan itu meluap keluar mulutnya membasahi bibir dan meleleh ke lehernya karena tidak seluruhnya dapat tertampung di mulut. Orc yang mengocok dengan payudaranya juga menyusul tidak lama kemudian, spermanya muncrat di dada dan wajahnya.

Masih belum beres dia mengatur nafasnya, mulutnya sudah diisi lagi dengan penis orc yang tadi dikocok dengan tangannya. Sementara orc yang tadi menjilati vaginanya kini sudah mengaduk-aduk liang itu dengan penisnya. Tak lama orc itu menghentikan genjotannya, dia mencabut penisnya dan segera menyemprotkan spermanya ke perut Sharon. Kelima orc itu pun akhirnya menyelesaikan hasratnya, mereka berejakulasi di luar maupun di dalam tubuh Sharon. Jenderal orc itu mendekati tubuh Sharon yang sudah lemas dan basah baik oleh sperma, keringat, maupun liur. Diangkatnya kepalanya lalu berkata di dekat wajahnya.

"Bagaimana manis, kau sudah mulai menikmatinya kan? Ayolah, asal kau mau jadi selirku tidak akan kubiarkan mereka menyentuhmu lagi"
"Baiklah, aku akan mengatakan satu hal padamu" kata Sharon dengan nafas masih terengah-engah.
"Hehehe.. baiklah sayang, tentunya kau ingin mengakhiri ini semua kan, coba katakan saja padaku"
"Pergilah ke neraka, bangsat!" teriaknya di depan wajah jenderal orc itu.
"Ooo.. kau sungguh mengecewakanku manis" kata jenderal orc itu sambil geleng-geleng kepala.
"Hei, anak-anak, sepertinya dia kurang puas, coba puaskan dia sampai tidak bisa bangun lagi!"
Kembali Sharon mengalami siksaan birahi itu. Belasan orc itu memperkosanya secara bergilir, sekali maju bisa mencapai 3 sampai 6 orang. Kali ini Sharon sudah tidak berontak sedikitpun, kesadarannya sedikit hilang, dia hanya mengikuti saja diperlakukan apapun oleh makhluk-makhluk itu, matanya menatap kosong ke langit yang sudah menguning.

Sperma mereka berceceran di sekujur tubuhnya, pangkal pahanya banjir oleh sperma yang telah bercampur cairan cintanya yang tidak dapat tertampung lagi di tempatnya. Berbagai gaya telah dipraktekkan mereka terhadap Sharon dan berkali-kali dia mencapai klimaks. Dia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya, namun dia juga tidak dapat menyangkal rasa nikmat luar biasa yang belum pernah dialami sebelumnya, bahkan ketika bercinta dengan Astral, pujaan hatinya sekalipun. Setelah semua orc itu mendapat jatahnya, nafsu si jenderal orc timbul lagi, diperintahkannya untuk menyiram tubuh Sharon yang telah basah dan lengket oleh macam-macam cairan itu dengan air.

Guyuran air itu membuatnya merasa lebih segar, tapi itu bukan akhir dari penderitaannya karena jenderal orc itu langsung menaikkan tubuhnya ke pangkuannya dan menekan tubuhnya ke arah penisnya hingga benda itu amblas ke dalam vaginanya. Cairan yang sudah membasahi vaginanya membuat penis itu bergerak makin leluasa. Matanya merem-melek, pinggulnya ikut meliuk-liuk menahan genjotan di bawahnya, kedua payudaranya yang berayun-ayun dijilati oleh jenderal orc itu. Sensasi yang luar biasa membuatnya tidak terkendali, sekali waktu ketika tangannya sedang menggapai-gapai lalu mencengkram rumput dibawahnya, dia merasakan memegang suatu benda panjang seperti dahan kayu.

Dengan ekor matanya dia melihat ke bawah, ternyata yang dia pegang itu adalah anak panah yang tadi menghantam pedangnya hingga jatuh dan tak jauh dari sana juga dia melihat senjatanya masih tergeletak di tempat asal. Rupanya tanpa di sadari sejak diperkosa tadi tubuhnya telah berpindah-pindah kesana-kemari. Orc-orc yang telah kesetanan itu juga tidak memperhatikan anak panah di antara rerumputan itu dan ini adalah suatu kesalahan yang fatal bagi mereka. Dengan senjata di tangannya, Sharon merasa mendapatkan tenaganya kembali. Maka sambil menunggu kesempatan baik, dia mendapat akal membuat orc itu orgasme sehingga tenaganya melemah. Sharon menggoyangkan pantatnya makin cepat, dia juga melumat mulut orc itu dan memainkan lidahnya selama beberapa menit dengan harapan mempercepat orgasmenya.

Usahanya membuahkan hasil, dengusan nafas orc itu makin cepat dan semakin memacu gerak pinggulnya sambil mencengkram pantat Sharon. Akhirnya dia menggeram panjang, tubuhnya mengejang dengan mata terbelakak, spermanya kembali menyemprot deras di dalam rahimnya.
"Wah, hebat juga gayamu tadi manis, jadi sekarang kau sudah bersedia menyerah padaku ya"
Jenderal orc itu merasa geli ketika Sharon menjilati lehernya.
Ketika sampai di telinga Sharon berbisik padanya, "Sampai jumpa di neraka!"
Jenderal orc itu spontan terkejut, tapi sebelum sempat menyadari semuanya tiba-tiba sebatang anak panah sudah menancap di pelipisnya diiringi jeritan panjang seperti serigala terluka. Tubuhnya menggelepar-gelepar di tanah memegangi kepalanya.

Tanpa buang waktu lagi Sharon segera melepaskan diri dari dekapannya dan menyambar pedangnya yang tidak jauh dari situ. Secepat kilat pedang ditikamkannya pedang itu pada dada musuhnya, dengan satu jeritan panjang makhluk itu melepas jiwanya. Anak buahnya yang masih kecapaian terkejut dengan kejadian yang tidak pernah mereka duga itu. Dengan pedang ditangannya, Sharon ibarat ikan mendapatkan air, kekuatannya seperti pulih lagi. Tiga orc yang merangsek ke arahnya segera ambruk seiring dengan tebasan pedangnya. Lainnya segera memungut senjata masing-masing dan menyerbu ke arahnya, dentingan senjata beradu terdengar kembali.

Prajurit-prajurit kroco seperti ini bukanlah tandingan Sharon, maka dalam waktu kurang dari 10 menit saja mayat-mayat orc sudah bergelimpangan. Sasaran Sharon berikutnya adalah orc yang barusan memanahnya, tanpa mendapat banyak perlawanan berarti, dia berhasil menebas tubuh lawannya itu hingga terbelah dari baru sampai ke pinggang. Tinggal satu orc lagi yang tersisa, dia sudah mundur-mundur dengan posisi telentang di tanah memohon-mohon ampun pada Sharon yang menempelkan ujung pedangnya pada lehernya, dia masih belum sempat bercelana, penisnya sudah tidak setegak tadi lagi karena sekarang sedang dirundung ketakutan yang amat besar. Tatapan tajam gadis itu membuat makhluk itu tidak berani menatap wajahnya.

"Ampun.. ampun, tolong kasihani saya.. aah..!" makhluk itu menjerit sambil menyilangkan tangan menutupi wajahnya ketika Sharon mengibaskan pedangnya.
Suara mengerang kesakitan terdengar nyaring. Makhluk itu membuka kembali matanya dia tidak mati, tapi betapa kagetnya melihat bagian bawahnya yang sudah berlumuran darah. Ternyata kemaluannya telah ditebas oleh pedang sehingga kini dia nampak kesakitan memegangi pangkal pahanya yang sudah dikebiri itu.
"Hei, dengar ya.. sekarang kamu pergi dan katakan pada rajamu bahwa sebentar lagi pasukan kami akan menembus perbatasan kalian dan membuatnya seperti ini, dan sebelum saya berubah pikiran sebaiknya kamu pergi cepat!" bentak Sharon.
Makhluk itu pun pergi dengan tertatih-tatih dengan memegangi selangkangannya.

Sekarang tinggal Sharon sendirian di hutan itu, hari mulai gelap. Dia membersihan tubuhnya yang penuh bercak darah dari pertarungan tadi dan memunguti apa saja untuk menutupi tubuh bugilnya. Dengan pedangnya dia memenggal kepala jenderal orc itu dan segera meninggalkan tempat itu untuk kembali ke markas tentara Shadow dengan membawa kepala jenderal orc itu. Sharon kembali ke perkemahan dengan disambut layaknya pahlawan, tentunya dengan pengorbanan yang sangat besar termasuk harus mengalami penghinaan berupa pemerkosaan massal seperti yang baru saja dialaminya.

Tamat