Kencan waria di Jakarta - 1

Seorang psikolog kondang keturunan Yahudi yang warga Amerika Serikat bernama Abraham Maslow telah berhasil menyimpulkan dan menyusun 5 kebutuhan dasar manusia, yaitu: 1.Pemenuhan Kebutuhan Fisik, 2.Kebutuhan Rasa Aman, 3.Kebutuhan Rasa Memiliki, 4.Kebutuhan untuk Kepuasan Hati dan yang terakhir adalah 5.Kebutuhan Aktualisasi Diri.

Dan bagi para 'swingers' atau para pecinta berat 'gaya hidup', Jakarta merupakan tempat ideal untuk mencari, memenuhi dan mendapatkan kebutuhan dasarnya. Jakarta yang penuh warna-warni. Jakarta yang serba ada dan serba lengkap. Apapun bisa didapatkan di Jakarta.

Dan salah satu 'gaya hidup' yang juga merupakan kebutuhan dasar adalah seks. Dalam konteks ini tak diragukan lagi, Jakarta merupakan sorga bagi pemburu kepuasan seksual. Dalam berbagai bentuk dorongan seksual, Jakarta akan mampu memenuhi kebutuhan siapapun.

Dari berbagai macam kesenangan seks saya ingin mengajak anda untuk mengikuti beberapa teman-teman yang senang kencan dengan 'shemale' atau 'ladyboy' atau yang di Indonesia disebut sebagai 'waria' yang berasal dari wanita pria. Agar lebih afdol teman-teman ini akan menceritakan pengalamannya langsung kepada anda.

Waria Pulo Mas, cerita Bowo

Jam 8 malam pulang kerja, jalanan macet, sebel sama tukang ngamen yang terus bergantian, pengap dan bau bis kota dan segala kejengkelan karyawan kecil macam aku membuat aku ingin menghibur diri dulu. Aku minta turun di Cempaka Putih depan Carrefour.

Menurut temanku yang senang bercanda dengan kata-kata sinisnya '.. Ah, dasar lu yang doyan ngentot pantat waria Pulo Mas..' membuat aku pengin tahu, macam apakah waria Pulo Mas itu. Orang bilang mereka banyak mondar-mandir diseputar Carrefour hingga depan bekas pabrik Coca Cola.

Disebut sebagai waria Pulo Mas karena dulu pernah ramai di seputar danau Pulo Mas sebelum adanya jalan Tol yang membelah tempat itu.

Dari perhentian bis kota aku menyeberang ke depan bekas pabrik Coca Cola yang hingga kini masih berupa tanah kosong. Disitu aku melihati sekeliling. Ada warung kaki lima dengan lampu minyak di arah kanan. Dan nampaknya beberapa waria ada di sana. Kemudian melihat kearah kolam yang telah setengah kering karena kemarau nampak ada beberapa orang berdua-duaan duduk dengan intimnya. Dan melihat ke arah lain nampak di kejauhan ada beberapa waria sedang asyik ngobrol atau menunggu lelaki hidung belang macam aku sekarang ini. Aku mencoba mendekat kesana dengan gaya seorang yang 'lonely'.

"Maass.. Heehh.. Sini dulu deehh.. Isep-isepan yookk.." sungguh mendebarkan ucapan vulgarnya. Aku menengoknya. Wahh.. Terlampau kerempeng. Aku jalan terus.

Di arah depanku nampak 'ladyboy' dengan jean yang ketat dan blus T. Shirt 'u can see' ketat juga. Terus terang aku selalu terobsesi dengan kontol waria. Kuperhatikan selangkangannya. Wooww.. Nampaknya sangat menggunung nih.. Aku langsung saja ngaceng.

Saat telah dekat aku melihatnya dan dia melihatku,

"Kemana maass..? Bagi rokoknya dong.."

Hah.. Begitu lancar dia membuka omongan. Aku berhenti dan mengeluarkan rokok dari kantongku.

"Apinya?" dan kunyalakan koreknya.

Dari cahaya korek aku melihat wajahnya. Woo.. Waria ini nampaknya telah cukup umur. Mungkin sekitar 30 tahunan. Beberapa tahun lebih tua dari aku.

"Duduk situ yo Mas"

Aku yang sudah terobsesi dengan gundukkan celananya tak perlu berpikir panjang lagi. Mengekor di belakangnya meniti jalan setapak menuju keremangan di seberang kolam kering itu. Kami mepet ke pagar bekas pabrik Coca Cola. Ada pelindung semak-semak di sana.

Dia mengeluarkan selembar plastik untuk digelar ke tanah atau rumput. Waria itu mengajak aku duduk. Namanya Lisa. Dan aku mengenalkan diriku Andi. Nama khayalan yang aku temukan seketika. Lisa langsung menggamit pahaku dan merabai selangkanganku.

"Duh, gede banget kontol Mas. Dijilati pasti enak nih"

Tak ada basa-basi, tak ada batasan santun dan sebagainya. Ini bahasa waria kaki lima. Semua terucap langsung dan lugas. Dia minta aku bersender ke dinding. Tanpa ragu dia hendak membuka ikat pinggangku. Aku tahu mau kemana, namun aku tahan dulu tangannya.

"Berapa?"
"Ah, terserah Mas saja, aku cuma senang-senang kok. Aku punya salon di pasar," jawaban pendek dan plastis.

Seluruh motivasi dan kehidupan Lisa langsung terpampang di depanku. Dan kubiarkan dia meneruskan melepasi ikat pinggangku dan menarik resluiting celanaku.

"Mau di isep Mas?"
"Aku mau diisep dan mau ngisep," jawabku nekat sementara darah syahwatku dengan cepat memerahkan wajahku.

Jantungku berdegup kencang. Aku heran akan keberanianku berhubungan dengan waria ini di tepi jalan yang paling ramai di kawasan Cempaka Putih ini.

"Wooww.. Banyak kok yang kaya Mas. Suka mengisepi kontol. Bahkan ada yang minta aku kencing di mulutnya. Dia minum kencingku," sambil tangannya merogoh kontolku dari celana dalamku. Sungguh erotis ceritanya. Aku juga mau kok minum kencingnya.

Dia mulai mengulum kontolku. Sangat nikmat merasakan mulutnya yang hangat menjilat, menyedoti dan mengulum kontolku. Kurabai kepalanya dan terkadang aku sedikit menjambak rambutnya sambil mengerang.

Sesudah beberapa saat aku bilang,

"Gantian dong.."

Lisa langsung menghentikan pompaannya. Dia melihati aku kemudian mendekatkan wajahnya mencium bibirku. Aku melumatnya. Bau kontolku sendiri terbawa ke mulutnya. Atau bau kontol lelaki lain sebelum aku? Aku jadi semakin terangsang.

Kini aku yang melepasi kancing celananya. Dalam rabaanku kurasakan kontol Lisa gede banget. Kontolnya melintang dari kanan ke kiri di selangkangannya. Dia yang meneruskan melepasi kancing dan menurunkan celananya. Dengan setengah telanjang Lisa berdiri mengangkangi aku. Dia sodorkan kontolnya yang wwooww.. Sangat merangsangku. Mulutku langsung menganga dan mencaploknya.

Aku menjilati pangkal, batang dan kepala kontol Lisa. Sungguh sensasional. Dia berdiri mengangkangi aku dan aku mendongakkan kepala untuk menjilati dan mengulum bijih pelirnya, batangnya dan lubang kencingnya. Lisa merintih dan mendesah-desah.

"Kamu minum ya pejuhku," aku mengangguk angguk sambil terus melumat-lumat kontol gede itu.

Tak sampai 5 menit tangannya mencengkeram rambutku. Lisa akan menyemprotkan pejuhnya. Aku memang kehausan dan berharap lebih lekas lagi kontolnya menyemprotkan cairan hangatnya ke mulutku. Dan ketika itu terjadi kedua tangan Lisa menahan menahan kepalaku agar tidak bergerak. Di dalam mulutku kepala kontolnya mendesaki gerbang kerongkonganku. Dengan sebuah kedutannya yang besar aku rasakan kontol Lisa menyemprotkan sperma panasnya. Kemudian menyusul kedutan-kedutan berikutnya sehingga aku merasakan mulutku penuh dengan air mani waria ini.

Aku mengecap-ecap rasa sperma itu di mulutku sebelum menelannya. Lisa menarik kontolnya, membetulkan kancingnya dan duduk lemas di sampingku.

"Puas..?" tanyaku.

Dia mengangguk. Nampaknya dengan muncratnya spermanya dia jadi surut seleranya.

"Mas nggak dikeluarin?" tanyanya.
"Mau. Tetapi biar aku mengocok sendiri sambil menjilati kontolmu lagi," dia setuju.

Lisa kembali bangun dan berdiri ngangkang tepat di depan mulutku.

Aku menyusul berdiri dan berbisik,

"Kamu pengin kencing nggak? Kencingin aku yaa.."

Duhh.. Aku terangsang dengan ucapanku sendiri.

"Ya sudah, ayoo.." menyuruh aku untuk kembali duduk de bawah selangkangannya.

Dia diam sambil memegangi kontolnya yang siap mengencingi aku. Aku menganga membuka mulutku sambil masturbasi dengan meremasi kontolku sendiri yang terus tegang.

Dan terjadilah, kontolnya memancurkan kencingnya yang bau anyir langsung ke mulutku. Aku menenggaknya sebagian dan sebagian lain tumpah membasahi pakaianku. Aku terus mengocok kontolku. Sebelum air kencingnya habis aku merasakan spermaku akan muncrat. Aku mengocoknya lebih intens sambil mulutku meneguki pancuran kencingnya.

Suasana yang sangat erotis itu mendorong cepat libidoku. Aku meraih orgasme dan ejakulasiku sementara kencing Lisa masih menetes-netes di mulutku. Beberapa saat kemudian aku bangun. Kuambil uang 10 ribu rupiah untuk kuberikan padanya. Dia terima tanpa melihati berapa nilainya.

"Terima kasih ya Lis," aku beranjak meninggalkan semak-semak itu. Aku pengin sebelum jam 9 malam telah bersama istriku di rumah. Malam ini ada Jet Lee bersama Michele Yeoh dalam Perebutan Sepasang Naga di SCTV.


Waria Taman Anggrek, cerita Wawan

Jam 9 malam saat pulang naik motor dari rumah teman di Kemanggisan aku mesti melewati Taman Anggrek. Sesudah melalui kolong jembatan Tol Jakarta Merak, di pinggir jalanan nampak ramai orang sepertinya ada tontonan. Beberapa kelompok nampak asyik ngobrol di pinggir jalan itu. Aku melambatkan motorku pengin tahu ngapain mereka. Ternyata itu adalah dunianya kaum waria.

Sudah sering mendengar dan sering aku pengin mencoba mengerti lebih banyak tentang mereka. Aku pikir isenglah. Aku menepi. Kebetulan ada warung pinggir jalan. Aku tepikan dan parkir motorku di samping warung. Aku mampir dulu untuk sekedar minum kopi.

Bersambung...