Bosku dan Seniorku - 3

Kemudian aku mengambil posisi berjongkok di atas tubuh Pak Hans yang telentang. Kupegang panggkal pistolnya, kuusap-usapkan pentolan pistolnya ke lubang anusku. Sedikit demi sedikit akhirnya pentolannya berhasil memasuki lubang pantatku. Aku pun meringis menahan rasa sakit. Kutekan pantatku hingga ke pangkal pistolnya. Kuraba ternyata batang pistolnya sudah hilang tertelan anusku. Pak Hans mulai menggoyangkan pantatnya naik turun. Ahh.., kurasakan nikmat yang luar biasa dari dalam anusku, hangat terkena gesekan batang pistol Pak Hans.

"Ohh.. sekarang enak.. Pak Hans.. terus.. tusukk.. ahh.." dan aku pun mulai menikmati tusukannya.
"Ahh.. nikmatt.. kamu masih perawan Dik. Ohh..!" Pak Hans mulai mengerang menikmati sedotan anusku.
"Aakhh.. aku mau keluar Dik Bram. Ohh..!"
Tiba-tiba Pak Hans bangun dari posisinya dengan batang pistolnya yang masih menancap di lubang anusku. Direbahkannya tubuhku di atas spring bed. Diangkatnya kedua kakiku dan ditaruhnya di atas pundaknya. Pak Hans mulai menggenjot anusku.
"Ohh.. terus genjot.. Pak Hans..!" dan aku pun semakin menikmati tusukan pistolnya.

"Ahh.. aku mau keluar. Ohh.. my god.. crott.. crott..!" kurasakan semburan hangat spermanya memasuki lorong anusku.
Baru kali ini aku menikmati semburan sperma yang luar biasa. Kami pun terkulai lemas, aku rebah dalam pelukan Pak Hans.
"Dik Bram, mendingan kost di tempat Bapak saja, nggak usah bayar, yang penting kita bisa melakukan ini setiap saat." bisik lembut Pak Hans menawarkan jasanya.
Aku pun cuma mengangguk karena kecapaian. Dan akhirnya kami tertidur pulas dan tidak jadi menonton bola.

Paginya kami bangun, mandi, sarapan bersama, kemudian berangkat ke kantor untuk menyelesaikan laporanku yang belum selesai. Diantarnya aku sampai di ujung jalan oleh Pak Hans. Kulihat mobil BMW biru sudah di pinggir jalan. Rupanya Pak Baskoro si Boss-ku sudah lama menungguku. Aku turun dari mobil Pak Hans dan pindah masuk ke mobil Pak Baskoro.

Jam di dinding kantor sudah menunjukkan angka 10.00 WIB, tetapi kerjaanku belum selesai juga.
"Kriinngg..!" kudengar teleponku berbunyi.
Kuangkat gagang telepon, kudengar suara dari balik gagang telepon.
"Bram, coba kamu kesini sebentar..!" ternyata suara Pak Baskoro.
Aku semakin panik, karena pekerjaanku belum selesai.
"Mungkin Pak Baskoro memanggilku untuk meminta laporanku." pikirku dalam hati.
"Baik, Pak.." jawabku lewat telepon.

Aku mengetuk pintu ruang kerjanya, "Masuk saja Bram..!" terdengar sahutan dari dalam.
"Maaf, Pak. Laporannya belum selesai, mungkin nanti dua jam lagi sudah saya selesaikan." ucapku sedikit ketakutan.
Kupandang wajah Pak Baskoro, rupanya dia malah tertawa.
"Udah, nggak pa-pa. Lain waktu aja kamu selesaikan, soalnya aku nggak jadi bertanding sama Bapak Manajer. Habis, kemarin waktu latihan golf, pinggangku rasanya sakit. Mungkin uratku ada yang melintir."
Aku tesenyum lega mendengar jawaban Pak Baskoro.

"Bram, denger-denger katanya kamu mahir dalam mengurut ya?" tanya Pak Baskoro lagi.
"Ah itu dulu Pak, waktu di desa. Saya hanya sedikit bisa, bukan mahir." jawabku sedikit merendah, walau sebenarnya memang aku sudah mahir dalam urusan urut-mengurut.
"Tolongin saya dong Bram, pinggangku rasanya nggak bisa buat bergerak." pinta Pak Baskoro.

Pak Baskoro mulai membuka dasi dan baju putihnya, kemudian kaos dalam yang berwarna putih ditanggalkan di meja kerjanya. Ohh bagus sekali Pak Baskoro, dadanya yang bidang ditumbuhi oleh bulu-bulu yang tipis dan terus sampai ke bawah, dan mungkin sampai ke daerah vitalnya. Kupandangi bentuk badannya, walaupun usianya sudah 51 tahun, tapi Boss-ku ini masih kelihatan gagah. Wajahnya yang ganteng dan brewoknya yang dibiarkan tumbuh, menambah kejantanannya saja.

Kemudian dia mulai merebahkan tubuhnya telungkup di atas sofa tamu. Aku mulai mengurut pinggangnya, kucari uratnya yang melintir, lalu kubetulkan kembali. Kurasakan aroma wangi tubuh Pak Baskoro. Sambil mengurut, tiba-tiba mataku mulai menangkap pemandangan indah. Aku melihat garis segi tiga di balik celananya yang sesak karena terisi pantatnya yang sangat padat. Gairahku mulai bangkit.

"Wah.., urutan tanganmu enak juga Bram, tolong pijit badanku sekalian ya..?" pinta Pak Baskoro.
Tanganku mulai mengusap punggungnya yang putih bersih dan sangat licin, naik ke leher, turun lagi. Ohh.. nikmat.. Bram pijitanmu. Pak Baskoro pun semakin menikmati pijatanku. Tanganku mulai gemas ingin memijat daerah pantatnya yang montok. Aku pijat pantatnya dengan kedua tanganku, sesekali kuputar dan goyangkan pantat Pak Baskoro. Achh.. enak sekali.. terus Bram.. dia pun menyukainya. Tiba-tiba Pak Baskoro membalikkan tubuhnya menghadapiku.

"Bram, aku pingin kamu melakukan seperti kemarin pagi terhadap Pak Hans..,"
Aku pun terkejut, ternyata Boss-ku telah mengetahui permainanku kemarin pagi di kantor dengan Pak Hans.
"Kemarin aku sempat lihat kalian lho, tapi nggak pa-pa kok Bram, itu wajar." perkataan Pak Baskoro membuatku bingung.
Tanpa kusadari tangan Pak Baskoro mulai membuka ikat pinggangnya, dan kemudian menarik resleting celananya. Aku sangat terpana melihat tonjolan besar dari balik CD-nya yang berwarna putih.

Wow.. gede sekali..! Kulihat rambut kemaluannya banyak yang menyerodok dari balik CD-nya. Ditariknya tangan kananku, lalu diletakkanya tanganku di atas alat vitalnya. Aku menjadi penasaran, kupandang sejenak wajah Pak Baskoro. Dia malah tersenyum dan mengangguk. Kemudian aku pun membuka pakaianku. Kubuka celananya sambil terus kunikmati aroma kejantanan Pak Baskoro. Ohh betapa nikmatnya, aromanya begitu khas masculin. Bulunya begitu lebat sekali di sekitar senjatanya terus memenuhi hingga paha dan kakinya, segera kuhisap dan kunikmati senjatanya yang berukuran besar. Ohh nikmat sekali, beberapa kali Pak Baskoro mengerang, menikmati hisapanku.

"Ohh teruuss.. enak sekali.. Bram.. teruss..!"
Kami pun sudah telanjang tanpa busana di sofa ruang tamu. Pak Baskoro sudah tidak tahan, nafsunya telah sampai ke ujung kepalanya, mendidih, dan dia langsung merebahkan tubuhku di sofa panjang menaiki tubuhku. Kuraih batang pistolnya, dan kuselipkan batang pistolnya di antara kedua pahaku. Dan Pak Baskoro pun segera menggenjotkan senjatanya di antara kedua belah pahaku, aku pun sangat menikmatinya.

"Ohh.. nikmat.. sekali.. Bram..!"
"Aku juga.. Pak Bas, teruuss.. Pak Bas..! Ohh.. enak sekali.."
Kurasakan pahaku hangat karena mendapat gesekan batang pistolnya. Dan aku menikmati pistolku yang bergesekan dengan perutnya yang penuh dengan rambut kejantanannya. Kami pun berpelukan, dan aku pun berusaha mencium bibirnya. Ohh nikmat sekali bibirnya, nikmat sekali. Terus kuraba tubuh Pak Baskoro yang kekar berisi sambil terus kuraba pantatnya yang keras berisi.

Dengan nafas yang memburu, Pak Baskoro terus memainkan senjatanya di atas tubuhku, "Teruss.. menggenjot.. teruss.. Pak Bas, teruss..!"
Dia sudah tidak dapat mengontrol diri, dia sudah lupa kalau lawan mainnya adalah aku, anak buahnya sendiri. Dia menikmati permainan ini, makin dia bernafsu, aku pun bertambah nafsu pula. Dia bagaikan banteng liar, benar-benar jantan. Gayanya yang begitu hebat, permainan yang begitu kunikmati, dan belum pernah kutemui permainan seganas itu, makin liar, makin keras, otot-ototnya masih kencang, keras sekali, mengagumkan.

"Aku mau keluar.. aku mau keluar.. Bram..!"
"Oh.. saya.. juga.. mau keluar.. Pak..!"
"Croot.. croot.. croot..!" tumpahlah sperma Pak Baskoro bersatu bersama sperma milikku di tubuhku.
Dia pun kelelahan dan tidur sebentar memeluk tubuhku. Kemudian kuraih alat vitalya, kujilati sampai bersih. Pak Baskoro mulai terangsang kembali. Kulihat senjatanya sudah mulai bereaksi, terus naik dan terus menegang hingga akhirnya benar-benar tegang maksimal, langsung saja kembali kuhisap, dia pun menikmatinya. Senjataku pun menegang dengan keras.

Rupanya Pak Baskoro juga ingin melakukan hal yang sama, dia pun segera menghisap burungku yang sudah menegang maksimal. Tidak dapat kubayangkan, Pak Baskoro yang kuhormati di kantor, ternyata mau menghisap batang pistolku. Disedotnya batang kemaluanku dengan nafsu yang membara.
"Ohh.. my god.. nikmat sekali..! Ohh.."
Dia memeluk dan menggenjot tubuhku, diadunya batang pistolnya dengan punyaku, tekanannya makin keras, makin kunikmati.

Kubalikkan tubuh Pak Baskoro, kemudian kuangkat kedua kakinya, dan kuciumi sekitar buah zakar dan lubangnya. Kumainkan lidahku keluar masuk ke dalam lubangnya, dan dia pun mengerang nikmat. Sambil kuhisap, kumasukkan jari-jariku ke dalam lubangnya, dia begitu menikmatinya hingga tidak terasa kalau bukan lagi jariku yang masuk ke dalam lubangnya, tapi sudah senjataku berada di dalamnya. Kemudian terus kugenjot naik turun sambil kuciumi kedua pipi dan lehernya. Naik turun pantatku menggenjot senjataku untuk keluar masuk ke dalam lubang. Ohh lubang itu begitu rapat dan belum pernah ada yang memasukinya. Tidak seperti lubang anus Pak Hans, aku menikmatinya, aku pun berteriak.

Sambil tangan kananku terus mengocok senjatanya yang sudah tegang maksimal, terus kukocok sesuai irama pantatku. Begitu juga dengan Pak Baskoro, dia juga tidak tahan dengan permainan senjataku di dalam lubangnya naik dan turun, keluar masuk dengan pelan, kemudian keras, pelan, dan ohh.., kami puas, kami puas.
"Ohh.. aku mau keluar.. Pak..!" kataku.
"Teruss.. lebih keras lagi.. Bram.. teruss.. masukkan lebih dalam lagi..! Aku menikmatinya, teruss..!"
"Croot.. croot.. croot..!" kami pun keluar lagi bersamaan, banyak sekali sperma yang muncrat dari senjata Pak Baskoro, putih dan kental membanjiri dadanya yang berbulu.
Kami pun tidur berpelukan beberapa saat.

Betapa indahnya hari ini. Ohh.., terima kasih Pak Baskoro. Kami setiap hari Sabtu bertemu di kantor, dan kami selalu melakukan permainan ini di ruang kerjanya. Begitu pula dengan Pak Hans, aku selalu melayaninya jika dia memerlukanku. Dan ini kulakukan karena aku senang, dan juga gratis tinggal di rumah.

Tamat