The shit eater - 6

"Udah Sir, udah.., udah kebelet banget nih, tak berak dulu..", dia jongkok tepat di depan hidungku dan terdengar mulai mengejan.. Selanjutnya plototan demi plototan nampak jatuh lunak ke permukaan batu itu. Dalam cahaya bulan itu nampak tai Pakde mengepul mengeluarkan uap hangat. Dan aromanyapun langsung menerjang hidungku. Inilah aroma yang selalu aku rindukan. Pada saat-saat syahwatku menjalari tubuhku macam sekarang ini. Aroma tai Pakde rasanya sangat harum dan merangsang. Aku bergetar. Nafsu syahwatku langsung melonjak. Aroma ini menjadi sangat meMbakar libidoku. Aku lebih mendekatkan hidungku untuk sebanyak mungkin menikmatinya. Ah, Pakde Sastroo.., berikan lebih banyak lagi untukku..

Kembali dia mengejan yang kemudian disusul dengan plototan pastanya kembali. Dan aku suka sekali mengamati uap hangat itu. Hidungku berusaha menangkapnya dengan mendekatkan wajahku ke pasta Pakde yang barusan jatuh itu. Selanjutnya pasta demi pasta dia jatuhkan dari anusnya. Tak lama kemudian keluar perintah bisikannya..
"Heii.. geser sini Sir, aku mau kencing, nih. SIni, biar kukencingi mulutmu.."
Sungguh, ucapan-ucapan Pakde ini sepertinya melecehkan aku banget. Tetapi telinga syahwatku menangkap lain. Omongan kasar Pakde ini justru semakin memicu libidoku. Sangat sensasional bagiku saat bagaimana seakan aku dianggap anjing atau budak olehnya. Dan Pakde rupanya sangat tahu dan punya pengalaman dalam menghadapi orang macam aku ini. Tadi menjelang makan diceritakan bahwa dia juga memiliki teman dengan hobi macam aku.

Aku bergerak pindah jongkok di arah depan Pakde. Aku melihat penisnya yang juga ngaceng berat nongol macam roket yang siap untuk diteMbakkan. Yaa.., inilah penutup orang berak, kencing. Dan air kencing yang menyertai berak itu rasanya beda. Dia lebih pekat, lebih kuning dan baunya lebih keras merangsang. Air kencing dari orang berak ini sangat merangsang syahwat. Kini aku membuka mulutku dan menganga menunggu Pakde menumpahkan kencingnya yang langsung mancur masuk ke mulutku. Uhh.. hangatnya..

Kuminum pancuran kencing Pakde itu. Tenggorokanku telah basah oleh air kencingnya. Sebagian lain lagi mencuci muka dan membasahi leher dan kemejaku. Rasanya aku mendapatkan kesegaran bir alami yang masih hangat dari pabrik. Kujilati kepala penisnya yang semakin ngaceng berat untuk membersihkan sisa-sisa kencingnya itu.

Dan akhirnya, "Sir, udah nih. Dah, sekarang kamu cebokin pantatku.. pakai lidahmu. Yang bersih ya..!!, dia sepertinya memberikan perintah pada anjingnya.
Duhh.., impianku akhirnya terwujud juga. Menjilati tai orang langsung dari pantatnya. Dengan sergapan aroma tai yang masih hangat dan jilatan lidahku aku menceboki anus Pakde sampai bersih. Yang kurasakan tai itu sangat lembut di lidahku. Ada beberapa serpihan, mungkin dari jenis makanan yang dia telan yang tidak sepenuhnya tercerna. Tentu saja mukaku kontan belepotan dengan lulur tai itu. Siapa tahu akan membuat kulit mukaku menjadi lebih kencang. Ini kan jenis mandi lumpur juga.

Sesudah itu Pakde Sastro berdiri. Sambil memegangi celananya dia teruskan instruksinya, "Aku pengin melihat kamu membersihkan meja batu ini dari taiku. Ayo, makanlah.., sini..! Makanlah seperti anjing, langsung pakai mulutmu.. Ayoo!" Gemetar syahwatku mendengar suara berwibawa Pakde Sastro ini. Kenikmatan dianggap budak atau anjing menelusuri saraf-saraf nafsu syahwatku. Dan dengan kepatuhan budak maupun anjing dengan setengah jongkok aku menjemput tai itu dengan mulutku. Ini persis seperti pagi tadi. Tai Pakde bertumpuk membentuk stupa. Atau semacam es krim yang baru dipelototkan ke mangkuknya. Ujungnya yang lunak meruncing, kemudian seperti spiral menggeliat berputar ke bawah. Aku mulai dengan menjilati pucuknya, melumat di bibir dan mengunyah dalam mulut untuk kemudian sebagian aku telan sementara sebagian lainnya aku buang sesudah mengisap-isap sarinya..

Kulihat Pakde onani dengan mengocok penisnya sambil memperhatikan aku menjilati tainya.
Dan ketika nafsunya semakin meMbakar dia mendekati aku, bergerak kearah belakangku tangannya mengelusi lubang pantatku dan menggerayangi penisku.
Saat spermanya mau keluar dengan cepat dia meraih kepalaku dan penisnya dijejalkan ke mulutku,
"Aku mau keluaarr.., oohh.. keluar.. Oohh. Makan nih anjing, makan nihh..".
Crot-crot, crot. Sperma hangat Pakde Sastro masuk ke mulutku yang masih penuh tainya.
"Ayoo.. kamu minum dan telann.. ya Siirr.. Telan Sir..".
Begitu kasar Pakde saat mendapatkan orgasmenya.

Dalam hal aku, orgasmeku, aku hanya minta Pakde Sastro membiarkanku mengocoki penisku dengan tainya. Tak lama kemudian aku telah menyelesaikan kebutuhanku. Spermaku muncrat dalam bayangan cahaya bulan, jatuh ke bebatuan itu. Aku cukup puas. Pakde juga puas. Kami langsung mandi di kali yang tidak jauh menuju kearah balik ke tenda. Peristiwa ini sungguh merupakan pengalamanku pertama sebagai "shit eater". Pakde Sastro berak dan aku makan tainya, minum air kencingnya, dan menceboki pantatnya. Pakde berjanji untuk tidak meramaikan hal ini kepada orang lain sesuai dengan himbauanku. Aku harap dia penuhi janjinya. Sementara itu aku sendiri janji pada dia apabila perlu aku selalu siap jadi anjingnya kapan saja.

Kejutan terakhir..
Pahi harinya aku bangun jam 7.30 pagi. Sebenarnya sepanjang 2 hari berada di kaki gunung Salak ini aku sudah mendapatkan banyak kesenangan. Aku sudah mendaptkan semua obsesiku. Dan lebih dari itu, pertemuanku dengan Pakde memberiku surprise dan sensasi sendiri. Sebagaimana anak-anak lain dalam rombongan, pagi ini, aku hanya berpikir dan bersiap untuk pulang. Aku benahi ranselku dan peralatan kemah lainnya. Rencananya rombongan akan meninggalkan lokasi pada jam 11.00. wib.

Masih beberapa jam lagi untuk beranjak pulang. Sangat cukup waktu untuk mandi dan persiapan yang lain. Dengan santai aku memasuki hutan untuk menuju ke kali tempat mandi. Saat aku menembusi semak-semak hutan menuju kali, tiba-tiba tangan yang sangat kuat menarik tubuhku disertai suara "Ssstt..". Yang kemudian kulihat adalah Robert, yang justru mengumbar senyumannya.
"Sorry Mas Basir, tadi malam aku ikuti Mas Basir sama Pakde lho. Eehh.. sekarang aku pengin juga kebagian nihh..", sambil tunjukkan penisnya yang telah dia keluarkan dari celana pendeknya. penis yang nggak di sunat.
"Aku cuma pengin Mas Basir ngisepin penisku. Aku pengin banget melihat Clay Aiken ini minum pejuhku."
Dia memanggilku sebagai bintang American Idol itu dan bilang "pejuh" untuk maksud spermanya. Aku sebenarnya kaget banget akan tarikan tadi, aku pikir binatang buas atau apa. Tetapi sesudah aku menyaksikan penis Robert yang sangat tegang dan indah karena tidak sunat tadi mataku nggak bisa berkedip. Aku menjadi terpana. Dengan cepat aku menguasai diriku. Aku balas tersenyum, walaupun agak kecut karena Robert pasti tahu apa yang aku lakukan dengan Pakde Sastro tadi malam.

Tanpa menunggu persetujuanku, Robert menggelandang aku menuju ke lebatnya hutan. Sesudah melalui onak dan duri, kami sampai di bawah pohon besar yang akarnya lebar-lebar hingga menyerupai dinding. Mungkin itu semacam beringin hutan. Robert mengajak aku memanjati akar-akar itu. Tak terduga, ternyata sedikit diatas tanah akar-akar itu membuat dataran kecil seluas meja tamu yang penuh lumut. Dan tak akan nampak sama sekali lokasi itu dari arah manapun kecuali oleh para burung atau kelelawar yang terbang di langit..

Itu mungkin sarang atau tempat tinggal binatang.
"Jangan takut mas, aku bawa plastik buat alas, kok. Nggak akan ketemu ular atau kelabang", mungkin itu selalu dia bawa-bawa kemanapun pergi. Setelah dia gelar kami mengatur posisi diri sebelum akhirnya saling berpagutan. Robert juga langsung mengeluarkan penisnya.
"Ayyoo.., mas. Aku pengin banget keluar di mulut mas, nih..".
Bukan main Robert ini. Begitu percaya bahwa aku telah dia kuasainya dan mau memenuhi permintaannya. Dan aku sendiri terus terang sangat menggebu menyaksikan penis indah itu. Kulupnya yang nampak lembut nggak juga terbuka walaupun penis itu telah sangat ngaceng. Aku langsung raih batang itu dan kujilati "precum"nya. Dia mengaduh ke-enakkan.

Ada yang sangat menarik dari Robert ini. Saat dia mengalami kenikmatan menerima jiltan-jilatanku dia meracau menyinggung istriku Rini,
"Mas Basir.., bolehkah aku ngentoti Mbak Rini, istrimu..? Maukah dia aku entotin ..? Mas Basir.. Maukah Mbak Rini menciumi penisku seperti Mas Basir ini..".
Aku yang mendengar kata-katanya itu serasa terdongkrak libidoku. Aku yang tidak bisa menjawab karena mulut yang tersumpal penisnya hanya menggumam,
"Mmm.., mm", sambil menganggukkan kepalaku.
"Mas Basir.., vagina istrimu enak yaahh.., vaginanya enak yaa..?, Boleh yaa..?!", kemudian, "Biarin aku ngentot Mbak Rini, ya Sir, .. kamu jilati ya pejuh saya di vagina Mbak Rini.. mau ya, Mas Basir..", begitu terus dia meracau.
Aku sendiri mendengarkan racaunya sambil mengelusi penisku. Bayangan akan Rini menjilati penis Robert dengan cepat hadir. Dan penisku semakin menegang. Rasanya urat-urat penisku yang berpilin-pilin mengitari batangnya terasa berdenyut-denyut. Menunggu muncratnya pejuh Robert di vagina istriku untuk kujilati.. Ohh.. Robert, cepat kau tumpahkan air manimu ke mulut istriku.. Ayoolahh..

Akhirnya sesudah cukup lama aku mempermainkannya penis berkulup itu menumpahkan spermanya.
"Ini untuk mulut Mbak Rini.. Ini untuk vagina Mbak Rini.. ini untuk itil Mbak Rini..", racauannya sambung menyambung.
Dia teruskan dengan mengocoknya di depan mulutku yang siap menganga untuk menerima puncratannya. Tidak seluruhnya jatuh ke rongga mulutku. Wajahku, leherku dan juga kemejaku penuh dengan puncratan kental itu. Robert nampak puas banget. Berliter-liter rasanya air maninya dia keluarkan dari penisnya. Dia membuang senyumannya.

Tetapi aku belum juga selesai. Aku yang sudah terlanjur terdongkrak syahwatku harus tuntas hingga spermaku sendiri keluar. Aku minta Robert nungging. Aku pengin banget njilati pantatnya. Robert senang mendengar permintaanku. Dia langsung nungging membelakangi aku. Pantatnya langsung kuterkam. Wajahku kubenamkan ke dalamnya yang penuh aroma itu. Aku menjilati anusnya sambil terus mengocok penisku. Tetapi sesudah sekian lama tak juga mau keluar, sementara tangan mulai capai. Aku lepaskan ciumanku dan berdiri. Aku bisikkan pada Robert bahwa aku pengin dia kencingin mulutku. Dia agak kaget. Tetapi dia mengangguk juga.

Dia keluarkan penisnya untuk kencing. Lama banget nggak mau keluar juga. Rupanya sebelum ketemu aku tadi dia telah buang air kecil banyak banget, katanya. Akhirnya aku minta yang lain. Bagaimana kalau dia meludahi mulutku. Aku juga suka seseorang, apalagi yang penisnya indah macam Robert ini, untuk meludahi mulutku. Dia mau. Dan dengan aku terus mengocok penisku, Robert meludahiku dan terus meludahi hingga datang juga orgasmeku. Dengan teriakan tertahan aku memuncratkan spermaku di plastic bawaan Robert ini.

Saat beranjak pulang, aku masih bilang, "Bert, aku masih pengin banget minum kencing kamu. Kapan-kapan yaa..", dia mengangguk setuju. Aku juga bilang padanya bahwa aku melihat lewat teropongku saat dia bersama Pakde main di kali kemarin sore.
Dia terbahak, "Satu-satu, dong", katanya mengingatkan bahwa dia juga mengintip saat aku bersama Pakde tadi malam. Tetapi dari omongannya rasanya dia nggak tahu kalau aku sesungguhnya adalah "shit eater". Baguslah. Dengan demikian hanya Pakde yang tahu.

Sepanjang jalan pulang anak-anak terus ramai dengan nyanyian, harmonica dan gitarnya.
Sesekali kami bertemu pandang antara aku, Pakde, Robert dan juga Anggoro. Akan halnya dia aku percaya pada kesempatan lain aku akan menikmati tainya langsung dari pantatnya. Setidak-tidaknya aku tahu kini bahwa Anggoro juga menyukai petualangan macam ini.

Saat lewat Bogor kami berhenti sejenak di pinggir jalan. Aku penuhi ransel dengan oleh-oleh buah-buahan dan tales Bogor. Istrku Rini, sangat suka gorengan tales.

Kami sampai di rumah sekitar jam 19.00 malam. Anak-anak ramai menurunkan barang bawaannya. Aku menggantungkan ransel di pundak dan tanganku menjinjing keranjang buah dan tales. Saat akan beranjak meninggalkan bus, Robert memanggilku,
"Mas Basir, tolong ini ada titipan. Oleh-oleh dari gunung Salak".
Apaan lagi nih. Dia menyodorkan kantong plastik hitam. "Dari aku untuk Mas Basir", dia berbisik. Saat kubuka kulihat kutemui botol plastic Aqua. Tetapi isinya yang hampir memenuhi botol itu berwarna kuning pekat. Ah, kamu Robert. Dengan agak bergetar, aku tersenyum dan menjawab dengan mengulurkan untuk tos dengannya.
"Jangan khawatir, aku akan minum habis isinya", Kembali penisku ngaceng.

Sesampai di rumah cepat botol Aqua itu aku sembunyikan dari pandangan Rini. Dan malam harinya, sesudah istriku tidur, di depan komputer sambil mendengarkan Symphony 9-nya Bethoven, aku ambil gelas bir besar. Kutuangkan cairan kuning dari Robert itu ke dalamnya hingga berbusa seperti Hennaken Bier. Kini aku juga seorang "pee drinker". Sambil nulis cerita ini aku tegak seteguk demi seteguk air kencing Robert yang menebar bau menyengat dan menggairahkan darah dan syahwatku ini.

Tamat