Bad Luck - Happy semester

"Nah, 'Ndra ini kamarmu"
"Jadi menurutmu gimana kamarnya?" Tanya Tante padaku.
"Memang agak berantakan sih, soalnya kamar ini jarang dipakai" Tambahnya lagi.
"Ah, bagus kok Tante!" Jawabku.
"Malah lebih besar dari kamarku dirumah sana." Tambahku.
"Bagus deh kalo kamu suka kamarnya." Ucap Tante lagi.

Tante sedang mengajakku melihat-lihat sebuah kamar dilantai dua rumahnya. Didalam kamar itu kulihat ada sebuah kasur bertingkat, meja belajar, lemari pakaian serta sebuah kamar mandi. Ruangan inilah yang mulai semester ini akan aku tempati sebagai rumah keduaku. Sebelumnya aku berangkat kuliah dari rumah orangtua ku yang berjarak sekitar 20 km dengan sepeda motor. Karena aku sering kecapekan, makanya aku ditawari tinggal bersama tanteku dirumah ini, yang memang jarak dari sini ke kampusku hanya sekitar 10 menit saja, itulah yang menjadi salah satu partimbangan ku, yang membuat aku menerima tawarannya.

Dalam rumah yang cukup besar ini hanya dihuni oleh empat orang saja yaitu, Tante Maya, dan dua orang anaknya serta Bi Yani; pembatu dirumah ini. Anak Tante maya itu yang satu laki-laki dan yang satunya lagi perempuan. Yang laki-laki masih sekolah kelas 2 SMU, dan yang perempuan masih 5 tahun. Sedangkan paman Andre, ayah mereka, sudah lama meninggal.

Sebenarnya aku tidak suka numpang dirumah orang lain walaupun itu masih keluargaku sendiri, karena aku merasa nggak enak sama yang punya rumah dan ruang gerak yang terbatas alias nggak bebas. Tapi ada sebuah alasan kuat yang membuatku mau tinggal, alasan tergila, yaitu karena aku tergoda oleh anak sulung keluarga ini, Teddy. Kenapa? Karena aku ini gay, aku menyukai sesama jenisku, yaitu pria.

"Udah yah 'Ndra tante tinggalin" ucap Tante.
"Kalo kamu ada perlu apa-apa, bilang aja sama tante,"
"Nggak usah malu-malu. Anggap aja ini rumah kamu sendiri" tambahnya.
"Ted, bantu Indra membereskan barangnya, ibu mau ke rumah Bu RT dulu!" Suruh tanteku pada Teddy.
"Iya!" Jawabnya. Dan kami ngobrol sambil membereskan barang-barangku.
"Ted, ini tadinya kamar siapa?" Tanyaku memulai percakapan.
"Oh ini, tadinya kamar Teddy, cuman karena tempatnya sepi jadi Teddy tidur dikamar bawah." Jawabnya menjelaskan.
"Diatas sini kan cuma ada satu kamar ini" Tambahnya.
"O, tapi sekarang kan ada gue, kamu tidur disini aja, gimana?" Bujukku.
"Emm.." Teddy terlihat berpikir.
"Ayolah, please! Biar kalo malem-malem gue ada temen ngobrol. Jadi nggak bete" Tambahku meyakinkannya.
"Ok deh!"
"Teddy juga emang suka bete, kalo malem-malem pasti langsung tidur, soalnya nggak ada yang bisa diajak ngobrol." Jawabnya mengiyakan.
"Kakak mau di kasur atas atau yang bawah?" Ucapnya balas bertanya.
"Mm.. Dimana yah.. Mm.. Aku di atas aja deh." Jawabku singkat.
"Ok berarti Teddy di kasur bawah."
"Kalau gitu Teddy bawa barang-barang sama baju-baju Teddy dulu kesini." Ucapnya.
"Eh entar aja kalau barang-barang gue udah selesai. Entar gue Bantu deh." Ucapku memberi saran.
"Ok deh." Jawabnya tersenyum. Lelahnya membereskan barang-barang pun jadi tidak terasa karena asyiknya kami ngobrol.

Malam pun mulai larut, jarum pendek jam sudah menunjuk ke angka 10 dan matakupun sudah lelah melihat layar TV yang terus menyala sejak kedatanganku tadi pagi.

"Gue keatas duluan ya Ted, udah ngantuk nih!" Ucapku sambil sedikit menguap.
"Teddy juga udah ngantuk kok." Jawabnya sambil berjalan mengekor dibelakangku.

Kubuka pintu kamar lalu kupanjat kasur tingkat itu dan tertelungkuplah aku diatasnya, tertidur pulas.. Pulas? Ternyata tidak, aku terbangun dari tidur ku sekitar jam dua malam. Malam ini terasa begitu panas dan aku merasa gerah sekali, ku buka saja T-shirtku yang basah oleh keringat.

Entah bagaimana tiba-tiba niat genitku muncul, kuintip Teddy yang sedang tertidur lelap dikasur
bawah dan wah, ternyata dia bertelanjang dada, t-shirt biru yang tadi melekat ditubuhnya sudah tak ada pada tempatnya lagi, mungkin dia juga kepanasan sepertiku sehingga dia melepaskan t-shirtnya. Kupandangi tubuhnya yang cukup atletis itu. Tubuhnya terlihat lebih menggoda akibat keringat yang membanjiri tubuhnya. Setelah beberapa saat aku berhenti memandangi tubuhnya, kubuka t-shirt ku, dan kembali melanjutkan tidurku, berharap seseorang masuk dalam mimpiku, seseorang..

Paginya, mataku mulai terbuka perlahan-lahan, samar-samar kulihat.. Hah, aku benar-benar terkejut dengan apa yang kulihat. Aku melihat Teddy yang baru selesai mandi akan berganti pakaian. Dari sini aku bisa melihat kedua sisi tubuhnya karena terlihat dari kaca lemari. Dia mulai melepaskan handuk yang melilit ditubuhnya sehingga kini dia sudah benar-benar telanjang.

Terlihat jelas lekukan-lekukan tubuhnya dan barang dengan panjang sekitar, entahlah.. yang menggantung di tubuhnya, barangnya itu terlihat agak memerah dan sedikit tegang. Aku yakin dia pasti habis main waktu mandi tadi. Lalu aku pura-pura terbangun.

"Sekolah?" Tanyaku mengagetinya.

Teddy pun kaget dan dengan cepat ia memakai CD-nya dan kemudian membelitkan handuk di pinggangnya.

"I.. Iya Kak." Jawabnya agak terbata.

Berlagak seperti tidak tahu apa-apa, masih bertelanjang dada aku turun dari ranjang ku bergerak meraih handuk dan kemudian dengan santai bergegas masuk ke kamar mandi karena akupun harus pergi kuliah.

Sorenya aku pulang dari kampus setelah hari yang melelahkan. Aku langsung berbaring di kasur, berusaha menghilangkan rasa letihku. Setelah cukup istirahat aku masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dari keringat. Ku lepas pakaianku lalu aku mulai mandi. Saat mandi, aku teringat dengan kejadian tadi pagi. Tanpa sadar penisku mulai menegang, aku dudukkan pantatku diatas bak dan mulai berfantasi sambil mengusap penisku dengan perlahan.

Tiba-tiba, cekreek.. Ada yang membuka pintu kamar mandi. Oh my god, aku lupa ngunci pintunya; dirumahku dulu aku tak pernah mengunci pintu kamar mandiku karena aku punya kamar mandi sendiri dikamarku. Ternyata Teddy yang membuka pintunya.

"E.. Eh Kak, maaf Kak kirain nggak ada orang!" Ujarnya yang langsung menutup kembali pintunya dan akupun langsung menghentikan kegiatanku. Aduuh malu banget, Teddy ngeliat aku pas lagi onani.

Malamnya sebelum tidur, aku menghampiri Teddy yang sedang tiduran di atas ranjangnya.

"Ted, soal yang tadi, jangan bilang siapa-siapa yah, apalagi sama Tante!" Pintaku dengan sedikit malu.
"Tenang aja Kak, cowok tuh udah biasa gituan" Jawabnya dengan sedikit senyum. Ah.. Leganya, "Geseran dong!" kubaringkan tubuhku disebelahnya dan kami ngobrol lagi.
"Ih panas, perasaan dari kemaren udaranya panas banget, jadi gerah!" keluhnya sambil melepaskan bajunya.

Aku yang ada di sampingnya mulai terangsang oleh tubuh dan aromanya yang maskulin. Wah gawat nih, penisku mulai menegang. Eh saat ngobrol dia malah meletakan kaki kirinya diatas kaki kananku sambil menggerak-gerakkannya. Sepertinya dia sengaja menggodaku, itu yang ada dibenakku saat itu. Puncaknya saat dia hendak turun dari ranjang, dia melewatkan tubuhnya diatas tubuhku, dan wajah kamipun berpapasan. Aku sudah tak tahan lagi, langsung saja kurangkul tubuhnya seketika itu juga, kugulingkan tubuhnya kembali ketempatnya. Kutindih badannya dan kucium bibirnya dengan memburu. Tapi, tapi..

"Kak! Lepasin Kak!" Teddy mendorongku dengan kuat dari atas tubuhnya, sampai-sampai kepalaku terbentur bagian bawah kasur atas.

Tapi rasa sakit itu seakan tak terasa ditelan oleh perasaan kaget ku. Oh my god, apa yang udah aku lakuin, ternyata Teddy tidak seperti yang aku kira sebelumnya. Kacau! Tanpa berkata sepatah kata pun, Teddy langsung keluar dari dalam kamar. Pikiranku kacau, apa yang akan terjadi? Bagaimana kalau.. Lama sekali aku berpikir dan dalam kegundahanku, akhirnya aku terlelap.

Tapi dalam hening malam itu, aku dibangunkan oleh suara dan sesuatu yang menguncang-guncang tubuhku. Tapi apa? Sedikt demi sedikit mataku mulai terbuka, dan kulihat samar wajah seseorang, telingakupun mulai mendengar jelas.

"Kak.. Kak..!"
"Te, Teddy.. Ada apa?" Tanyaku kaget ketika kulihat wajah yang tak lagi samar itu Teddy, laki-laki yang tadi aku..
"O.. o.. Te.. Ted.. Mm.. Soal yang ta-ta-tadi itu, mm.. Ma-maafin gue yah!" Pintaku memelas dengan terbata-bata.
"Su-sumpah deh gue nggak kan ngulangin lagi, tadi gue kelepasan."
"Karena udah ketauan, ya gue mau jujur aja ke elo kalo gue itu sebenarnya gay."
"Dan gue mohon ke elo buat ga nyeritain ke siapa-siapa. Please Ted, I beg you" Perasaan takut Teddy akan membongkar semua tentangku menyelimutiku, tapi dibalik itu aku merasa tubuhku menjadi lebih ringan setelah mengatakannya.

Pelan Teddy berkata, "Kak, sebenarnya.. Sebenarnya aku juga.. Mm.. Aku gay!" Perkataannya itu sangat mengejutkanku, padahal Teddy yang tadi, dia jelas-jelas menolakku.
"Terus.. Tadi kenapa lo.." Tanyaku penasaran.
"Karena ini pertama buat Teddy, jadi aku kaget. Maaf ya Kak!" Jawabnya.
"Ya udah, nggak apa-apa kok!" Padahal, sebenarnya ini juga yang pertama bagiku.
"Terus..?" Ucapnya.
"Terus..?" Tanyaku.

Percakapan tiba-tiba terhenti dan kami saling bertatapan, lama-kelamaan wajah kami sudah berdekatan, dan entah bagaimana mulanya kini bibir kami sudah menyatu, melekat tanpa sekat. Ciuman kami begitu lembut, pelan tapi dalam. Kuraih jemarinya dan kusatukan dengan jemariku. Kurebahkan tubuhnya dan kubentangkan tangannya sambil terus kuciuman bibirnya. Lidah kami saling bertemu. Teddy mulai nakal, ia melepaskan kemejaku sambil menikmati ciumanku dibibirnya dan kini aku sudah tak memakai kemejaku lagi.

Lalu kulanjutkan menjelajah kelehernya, kujilat leher dan daerah telinganya sampai memerah. Lalu kubuka T-shirt yang di pakainya. Setelah bajunya terlepas kumulai menjelajah daerah dada dan perutnya. Kumainkan putingnya dengan lidahku. Teddy mengerang kegelian. Kini Teddy berinisiatif sendiri, ia kemudian mengangkat bagian atas tubuhnya mendekat ke dada ku sehingga kini aku berada terduduk diatas pahanya. Teddy kemudian menciumi leherku, tubuhku, melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan padanya. Selagi bibirnya asyik menciumi leherku, tanganku pun tak diam, kubuka kancing celana dan resletingnya. Lalu kuhentikan ciuman-ciuman Teddy dengan mendorong dadanya sehingga dia terhempas keatas kasur.

Teddy terlihat agak kaget. Lalu kubuka celana yang masih menutupi tubuh bagian bawahnya. Wajah Teddy terlihat memerah saat jari-jariku melucuti celananya. Kini terlihat CD-nya, sehelai kain yang menonjol terdorong oleh benda yang ada didalamnya. Kudekatkan wajahku tepat diatas kain itu yang terlihat agak basah diatasnya, lalu kubuka mulutku dan kugigit tonjolannya perlahan.

"Eng.." Terdengar suara erangan kaget dari mulutnya.

Lalu kubuka CD-nya itu dengan gigiku, dibantu Teddy dengan sedikit mengangkat pantatnya. Kubuka hingga dipertengahan pahanya. Dan terlihat jelas kini apa yang tadi menonjol itu. Sebuah penis yang teracung berwarna kemerahan dan disekitarnya nampak bulu-bulu halus berbaris rapih dari bawah pusarnya sampai pangkal penisnya. Lalu kuangkat kedua kakinya keatas pundakku sehingga kepalaku terapit oleh pahanya. Kujilati penis itu dengan lidahku dari buahnya sampai kepala penisnya. Lalu kulahap masuk kedalam mulutku. Kugerakkan keluar masuk sambil kumainkan lidahku. Teddy jadi menggeliat karenanya.

"Kak, Teddy udah ga kuat nih mau keluar." Teddy nampaknya sudah berada dipuncaknya.
"Ya udah keluarin aja!" jawabku.
"A.. A.. A.. Ahh.. Ahh.." Teddy menggeliat, mengangkat-angkat pantatnya sehingga penisnya menyodok-nyodok didalam mulutku sambil menyemburkan cairan keperjakaannya masuk membanjiri mulutku.

Langsung kucium bibir Teddy dengan sperma dimulutku. Kini giliranku. Kubuka celana dan CD-ku sampai penisku tersembul keluar, dalam posisi berdiri dengan lututku. Kutarik tangan Teddy sampai wajahnya mencium penisku. Lalu Teddy mengulum penisku sambil tangannya meremas-remas pantatku. Ku remas rambut Teddy, semakin lama semakin keras karena sensasi kuluman Teddy yang nikmat.

Dan, "A.. a.. a.. ahh.. Ahh.." Akupun mencapai puncaknya. Kucium teddy sambil bertukar sperma yang ada didalam mulutnya. Lalu kami terkulai lemas dalam kepuasan. Teddy tertindih tubuhku diatas ranjang sampai pagi menjelang.

Tamat