Di stasiun kota

Ketika itu siang hari sekitar pukul 11.00 aku sudah sampai di stasiun kota Surabaya, karena aku memang berniat untuk negadakan perjalanan dengan menggunakan kereta api Rapih Dhoho, karena aku tidak pernah berpergian dengan meggunakan kereta api, maka akupun juga tidak mengetahui jadwal keberangkatan kereta api kejurusan yang akan aku tuju. Setelah aku membeli tiket dengan tujuan Kediri, maka aku segera memasuki peron dan sambil jalan-jalan aku lihat dimana kereta yang akan membawa pergi sedang menunggu, karena jam keberangkatan masih lama yaitu pada pukul 12.50, jadi masih ada waktu kurang lebih hampir dua jam.

Iseng-iseng aku masuki gerbong tersebut dan sambil melihat nomor tempat duduk yang tertera ditiketku, setelah kudapatkan aku duduk dikursi yang sesuai dengan nomor tempat dudukku. Suasana didalam gerbong masih begitu sepi dan tidak ada orang sama sekali, sambil duduk dibangku tersebut, aku mulai melamun merasakan kesendirianku diantara banyak temanku dan kesepianku diantara keramaian kota Surabaya ini.

Sampai-sampai aku tidak menyadari akan kehadiran seseorang yang menawarkan buah jeruk kepadaku, ternyata dihadapanku telah berdiri seorang penjual jeruk asongan yang biasa kita dapati didalam gerbong kereta api.

"Jeruk Mas, jeruke manis koq Mas," tawarnya.
"Nggak," jawabku singkat.
"Ayolah Mas. Mbok ditukoni jeruke, sewu oleh telu koq Mas," sambungnya dengan tidak putus asa.
"Nggaklah, aku lagi males," jawabku lagi.

Dengan harapan sipenjual jeruk itu akan segera berlalu dari hadapanku dan aku akan kembali meneruskan lamunanku yang sempat buyar itu. Tapi yang menjadi harapanku tidaklah menjadi kenyataan malah sebaliknya, sipenjual jeruk itu malah mengambil tempat dikursi yang ada dihadapanku dan malah duduk disitu sambil memandangi aku tanpa mengucapkan kata-kata yang merayu untuk membeli dagangannya lagi. Aku sendiri jadi heran dengan semua ulahnya itu, tapi aku berusaha cuek aja sambil melemparkan pandanganku keluar jendela kereta. Tanpa kuduga akhirnya dia bertanya,

"Onok opo see Mas, koq ketokane sumpek"
"Opo ditinggal pacare yoo," lanjutnya.

Aku berusaha untuk tetap diam saja sambil mencuekin dia, tapi dia kayaknya nggak putus asa, dan memang naluri seorang penjual tidak boleh putus asa begitu saja kalau sekali ditolak.

"Opo pengin golek konco, tak golekne gelem tah Mas," cerocosnya.
"Konco opo?" akhirnya aku juga jadi penasaran.
"Lha sing yok opo sing dikarepne?"

Iseng-iseng aku menjawab sekena saja.

"Sing koyok awakmu wae," jawabku.
"Ah, sing temanan," jawabnya.
"Iyo, nek sampeyan gelem lho"
"Sampeyan gelem koncoan karo aku, sing dodol buah iki, sing dadi pedagang asongan nang sepur koyo ngene iki," jelasnya lagi.

Dari pembicaraan itu akhirnya kita ngobrol ngalor ngidul sampai akhirnya aku memancing kemasalah pribadinya.

"Oh, yaa Mas, sampeyan anake piro?" tanyaku.
"Oalah, Mas, rabi wae durung koq duwe anak, sopo sing gelem karo wong dodol asongan koyo aku iki," jawabnya.
"Lha, terus yok kepengin ngono yok opo?" tanyaku lagi.
"Yoo, ditokne dewe Mas, arepe mbalon yoo ora duwe duit," jelasnya lagi.

Akhirnya aku mulai memberanikan diri untuk duduk disebelahnya dan tanganku kutumpangkan dipahanya dan diapun tidak bereaksi untuk menepisnya hingga kusenggol selakangannya sambil bertanya.

"Lha iki wis pirang dino ora ditokne"
"Wis ono limang dina bek menowo," jawabnya lagi.
"Gelem tah tak tokne?" tanyaku lagi.
"Gelem, yok mbok mut," jawabnya tanpa ragu-ragu lagi.

Akhirnya segera kuremas-remas daging dan otot yang ada diselakangannya itu dan mulai mengeras sambil dia mulai merintih-rintih menahan gejolak nafsunya sampai beberapa saat ketika akan kubuka celananya, dia menolak karena takut kalau ada orang lain yang masuk ke gerbong tersebut, sebagai tindakan berikutnya dia malah menyeretku ketoilet yang ada digerbong itu dan tanpa dikomando lagi dia segera merosot celana panjangnya dan kemudian celana dalamnya setelah terlebih dulu mengunci pintu toilet itu sedangkan barang dagangannya tetap dibiarkan diatas kursi yang kami duduki tadi.

Kemudian dia segera menyuruhku untuk jongkok dan segera menghisap penisnya yang sudah tegang dan lumayan besar juga. Setelah kujilati ujung kepalanya yang merah kehitaman itu segera mulai kumasukan kepalanya ke dalam mulutku dan dia makin merintih-rintih sambil berdiri didinding kamar mandi yang sempit itu.

"Aaahh, hseess, sstt"
"Ooohh, ssess"
"Ssseess, sseess"

Dan mungkin dengan hisapan dan masuk keluar mulut yang kulakukan akhirnya dia mendekati puncaknya dan rupanya dia tidak sabar lagi segera direngkuhnya kepalaku dengan kedua tangannya agar tertahan dan dia segera menggoyangkan pinggangnya maju mundur, jadi sepertinya mulutku sedang dikentot olehnya. Dan gerakan maju mundur itu makin lama makin cepat, sampai-sampai rasanya aku nggak bisa bernafas dan menahan agar aku tidak tersedak dimasukin penisnya yang besar itu sampai kepangkalnya hingga akhirnya terdengar"AAaahh" dan cret crett creet terasa cairan asin, hangat menyembur dimulutku dan dia terus mengerang keenakan sampai beberapa saat, kemudian dia memakai celana dalamnya lagi dan celana panjangnya yang tadi merosot sampai lututnya, kemudian dia tersenyum puas dan mencium pipiku sambil membisikan kata.

"Suwun yoo Mas"

Kemudian kami berdua melangkah keluar dari kamar mandi tersebut dan kembali ketempat duduk yang kami duduki berdua sebelumnya, kemudian dia mengambil keranjang dagangannya dan diambilnya tiga biji buah jeruk kemudian diangsurkannya kepadaku sambil bergurau dia berkata,

"Iki lho Mas, gawe opahe mau iku?" katanya sambil tertawa.

Dan segera kuambil buah jeruk yang diberikannya tadi, itung-itung untuk pencuci mulut agar mulutku tidak berbau amis pejuh kalau nanti dalam perjalanan. Kemudian dia mengambil keranjang dagangannya dan mohon pamit.

"Sik yoo, Mas, aku tak dodolan disik"
"Kapan-kapan awake dewe ngobrol-ngobrol maneh yoo," lanjutnya.
"Yoo," jawabku singkat.

Dalam hati aku merasa puas dan senang dan berpikir kapan kita ketemu lagi, sampai kereta yang membawaku ke Kediri berangkat aku tidak menjumpainya lagi. Dalam perjalanan itu aku tidak melamun lagi tapi sebaliknya mengkilas balik kejadian yang baru kualami mulai dari awal sampai akhir sehingga tidak membuat perjalanan itu menjemukan akan tetapi malah sebaliknya, walaupun penisku terus ngaceng ingin mengeluarkan isi yang ada didalamnya, karena tadi dia tidak menjamah aku sedikitpun apalagi penisku yang sebetulnya sangat tegang sekali.

Kejadian diatas mungkin sudah berlalu dua atau tiga bulan dan sudah hampir hilang dari ingatanku, hingga suatu hari Minggu ketika aku akan pergi kerumah kawanku yang ada di Mojokerto, akupun iseng-iseng naik kereta api KRD jurusan Surabaya-Jombang yang berangkat sekitar pukul 05.30 dari stasiun Wonokromo, tidak lama kemudian kereta berangkat setelah aku aku mengambil tempat duduk yang masih banyak yang kosong, perjalanan setelah keluar dari Stasiun Wonokromo, perjalanan lancar-lancar saja dan aku duduk sambil melihat pemandangan pagi sepanjang rel kereta. Sampai beberapa saat kemudian banyak pedagang asongan yang menawarkan bermacam-macam makanan memasuki gerbong tempat aku duduk. Dan mataku tertuju pada salah seseorang yang pernah kukenal, juga ikut menawarkan dagangannya, cukup lama aku mengawasinya, tapi dianya tidak merasa. Dan mungkin dia merasa risi juga kalau sedang diawasi seseorang sehingga dia akhirnya menoleh dan pandangan matanya bertemu dengan pandangan mataku dan diapun tersenyum dan segera menghampiriku sambil bertanya,

"Dewekan wae Mas?"
"Yoo"
"Arep nang endi?" tanyanya.
"Mojokerto," jawabku.
"Wis suwe yoo ora tahu ketemu," lanjutnya.

Aku diam saja sambil mengawasi matanya yang seolah mengajakku untuk mengulangi peristiwa beberapa waktu yang lalu sambil tangannya menunjuk kebelakang, yang berarti gerbong paling belakang sendiri yang tentunya makin sepi dari penumpang karena pada saat itu aku duduk di gerbong ketiga dari belakang. Aku tahu maksudnya, setelah dia berlalu menuju gerbong belakang tidak berapa lama kemudian aku menyusulnya dan kulihat dia sudah berdiri dekat pintu paling ujung dibelakang sendiri, setelah tahu kalau aku juga ikut menyusulnya, dia langsung berinisiatif masuk kekamar mandi kecil yang ada diujung gerbong itu dan akupun segera menyelinap tanpa sepengetahuan penumpang yang ada digerbong itu, mungkin ada sekitar lima orang penumpang saja.

Setelah aku menyelinap masuk dan dia segera menguncinya dari dalam, suatu pemandangan yang sangat menggairahkan terpampang di depan mataku, bagaimana tidak? Ternyata dia sudah melepas semua celananya tinggal hanya baju kaosnya saja yang sudah digulung sampai kedada, dan kulihat keselakangannya ternyata penisnya sudah ngaceng penuh dan segera minta dihisap, walaupun pada waktu itu kereta dalam keadaan berjalan dan bergoyang-goyang dengan suara yang berderak-derak diantara sambungan rel, dan hal itu yang lebih menguntungkan bagi kami berdua karena bisa goyang sendiri tanpa harus mengeluarkan tenaga ekstra juga suara benturan roda besi dengan rel bisa menenggelamkan suara erangannya dan kecipak suara ludah dimulutku yang sedang menghisap-hisap penisnya itu.

"Uuuhh, aauucch"
"Sssesstt, sstt enake Mas"
"Ayo terus Mas, diluk maneh Mas"
"Yoo, ayoo terus, terus, terus sing banter Mas," rengeknya.
"Aaahh"

Kurasakan cret cret cret dan asin, hangat dimulutku dan terdengar erangannya tanda puas, kemudian dia membantu aku berdiri dari jongkokku karena memang tempat itu bergoyang-goyang terus, setelah itu aku segera menyelinap keluar dan segera menuju kepintu belakang dekat kamar mandi itu. Tidak berapa lama kemudian dia menyusul keluar setelah terlebih dulu dia merapikan pakaiannya dan tidak berapa lama kereta berhenti distasiun Krian dan dia segera turun sambil melambaikan tangannya dan tersenyum katanya,

"Ngenteni sepur sing ngetan (Surabaya)"

Akupun membalas lambaian tangannya, dan akupun juga tidak berharap banyak untuk bisa menjumpainya lagi karena memang aku jarang sekali berpergian dengan menggunakan kereta api, dan ternyata perjalananku yang kedua itu juga membawa keberuntungan untuk bertemu dengannya lagi dan tidak tahu apakah dalam perjalananku selanjutnya akan bertemu dengannya atau tidak. Kita tunggu aja yaa.

Tamat