Aku dan karyawanku - 1

Tubuh Edi ku peluk dengan erat, puncak kenikmatan yang akan aku rasakan memacuku untuk melepaskannya dengan gerakan pantatku yang maju mundur semakin cepat, kontolku pun dengan tepat keluar masuk tepat di lobang pantat Edi. Ku cumbui bibir Edi yang terbuka, kulumat sambil tanganku terus memeluk badannya yang sedikit besar tersebut. Jari-jariku yang dari tadi menarik-narik puting teteknya hingga..

"Akhh", desahku kuat merasakan air maniku keluar, akupun semakin erat memeluk laki-laki tersebut dan menghentikan gerakan pantatku.

"Akhh", desahku lagi menikmati permainan sore ini.

"Bapak sangat puas, sangat puas", ucapku tersenyum pada Edi dan memandangnya.

Ia juga tersenyum menampakkan giginya yang sedikit kuning, aku langsung menciumi bibir Edi dan melumatnya lagi.
Tanganku kini beralih ke kontolnya yang mulai bereaksi, aku terus saja meremas-remas batang kontol laki-laki tersebut dan mengocok-ngocoknya.

"Akh", desah Edi kegelian.

Tubuhku terus menempel pada tubuh Edi sambil menjilati punggungnya, lehernya, mengusap-usap bahunya dan beberapa menit kemudian aku memijit-mijit bahu laki-laki tersebut. Aku mengambil handuk dari dalam tasku dan mengelap seluruh badanku yang berkeringat, Edi juga melakukan hal yang sama.

Aku mendekatinya, "Besok kamu libur?", tanyaku.

"Iya bos", jawabnya sambil tersenyum.

"Mau ikut dengan saya malam ini?"

"Kemana bos? emangnya penting dan harus saya ikut?" tanya Edi lagi.

"Ah, enggak, enggak penting, Saya mau mengajakmu ke hotel, tapi kalau kamu tidak bisa yah tidak apa-apa, mungkin kamu punya acara malam ini dengan teman atau pacarmu"

"Iya bos, saya ada janji dengan si Linda", sahut Edi tersenyum.

Senyumannya yang manis membuat aku bergairah, laki-laki ini begitu tampannya, apalgi saat tersenyum, bibirnya yang tipis, hidungnya yang mancung untuk ukuran orang kita, alisnya yang tersusun rapi, matanya yang tajam dengan bulu mata yang lentik, rambutnya yang pendek, ikal serasi dengan bentuk kepalanya yang oval. Aku mendekatinya, membantunya yang sedang memakai kemeja seragamnya. Kedua tanganku memegang pipinya, kami bertatapan.

"Jadi anak yang baik yah", ucapku, dengan perlahan aku cium bibirnya.

"Kau jaga kesenangan Bapak ini", kataku tersenyum sambil meremas kontolnya.

"Ah..ah..tentu bos, ini masa depanku jugalah", jawab edi tersenyum lebar.

Aku mengeluarkan Rp.100.000 dari dompet, "Ini untuk mentraktir pacarmu", ucapku menyerahkannya pada Edi.

"Terimakasih bos", jawab Edi meraih uang tersebut

"E.. kapan-kapan kenalkan pacar kamu ke saya".

"Oke bos"

Aku tersenyum dan menggangguk saat Edi mohon diri, dan terus memperhatikannya hingga dia keluar dan menutup pintu kantorku.

"Akh, desahku menyandarkan kepala di kursi kerja, tersenyum sambil memandang langit-langit kantorku.

*****

Sebelumnya..

Hari ini begitu banyak kegembiraan dan kesenangan yang aku dapatkan. Aku begitu senangnya melihat neraca penjualan produksi yang sudah mendapatkan keuntunganbersih 75% padahal ini baru pertengahan bulan.

Sehabis jam istirahat aku menemui karyawan-karyawanku di otlet sambil tersenyum menanyakan hal-hal yang menjadi kendala bagi mereka. Menyapa beberapa pengunjung yang sedang menikmati sajian makanan kami dan menanyakan hal-hal yang kurang atas pelayanan, rasa dan kualitas produksi kami. Berbagai keritikan dan pujian aku terima sebagai bahan masukan untuk memberikan pelayanan dan memperbaiki kualitas produksi yang lebih baik lagi dikemudian hari.

Aku menaiki tangga menuju ruang produksi di lantai 2, menanyakan kepada karyawan yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing, kendala yang ada yang perlu diperbaiki dan tak lupa menasehati mereka agar bekerja dengan baik dan bersungguh-sungguh, mementingkan keselamatan, meningkatkan mutu produksi, kerja yang efesien, cepat dan tepat, yang terutama menjaga kesehatan.

Aku menghampiri Edi yang sedang menyusun roti.

"Bagaimana Edi, ada kendala?", tanyaku berbasa-basi.

"Sampai sekarang masih lancar-lancar saja bos", sahutnya.

"Kamu senang kerja di sini?"

"Wah bukan senang lagi bos, saking senangnya tidak bisa diucapkan dengan kata-kata", jawabnya lagi sambil tersenyum.

Aku tertawa pelan, "Sehabis jam kerja mampir dulu ke kantor saya", bisikku sambil memegang pantat Edi.

"Oke bos", jawab Edi dengan sigap.

Aku tersenyum meninggalkan mereka, aku ingin memuaskaan diriku, merayakan kesenangan ini dengan gejolak nafsu, aku membiarkan mereka berkomentaar apa saja karena tidak biasanya aku memperlihatkan kegembiraanku di depan mereka. Aku mengetahui dari sekertarisku bahwa mereka sering mengatakan aku bos killer, bos pemarah dan sebagainya. Namun itulah aku, aku memberikan disiplin yang sangat ketat kepada karyawanku, memaksimalkan pekerjaan mereka, namun aku memberikan hak mereka sebagai karyawan dan memberikan bonus tiap bulannya jika ada keuntungan dari penjualan produksi kami.

*****

Namaku Darma, aku mempunyai usaha ini sudah 7 tahun lebih, joint dengan temanku yang ada di Belanda. Aku memilih membuka usah Bakery di Jakarta dengan modal 50-50 bersama Robert temanku. Aku mengelola usaha bakery ini dengan baik hingga aku mampu untuk membuka sebuah otlet lagi di sebuah Mall di Jakarta. Produksi kami mulai agak terkenal di kota besar ini sehigga aku beroptimis untuk membuka otlet lagi untuk memperkenalkan produksi bakery kami ke masyarakat lebih luas lagi.

Begitu banyaknya usaha sejenis di Jakarta ini, sehingga Kami berusaha untuk memperbaiki kualitas, memberikan pelayanan yang maksimal, memberikan kepuasan, kenyamanan, ketenangan dan keamanan kepada pengunjung dengan memberikan musik-musik yang baik dan enak didengar dan menata toko kami seperti sebuah taman yang indah di suatu ruangan sehingga mereka seperti dimanjakan dan dijamu seperti layaknya seorang raja dan ratu. Dengan begitu mereka tidak akan mudah melupakannya dan akan kembali datang untuk menikmati bakery kami. Segala keritikan kami terima dari pengunjung sebagai bahan masukan untuk memperbaiki pelayanan dan kualitas produksi bakery kami yang lebih bagus lagi dimasa yang akan datang.

Sebagai seorang direktur sekaligus pemilik, aku menyeleksi karyawan yang akan bekerja di perusahaanku. Termasuk Edi, aku begitu menyukai laki-laki tampan tersebut dengan tinggi 165cm dengan berat yang sesuai dengan tingginya. Karyawanku tidak begitu banyak dengan total 42 orang. Ditoko adaa sekitar 26 orang termasuk sekertarisku, sisanya di otlet kami di sebuah mall di Jakarta.

Karyawanku juga didominasi dengan laki-laki, walaupun mereka tampan-tampan dan yang wanita cantik-cantik aku tidak "Melakukannya" Dengan mereka semua. Aku "Melakukannya" dengan orang yang membuatku bernafsu sekali, terutama yang ku ambil disini untuk memuaskan nafsuku adalah laki-laki muda.

Umur ku sudah berkepala 4 dengan mempunyai seorang istri dan 2 orang putra yang satu sudah kelas 2 SMU dan yang stu lagi baru kelas 1 SMP. Dari dulu aku menyukai laki-laki, sejak aku di Belanda. Papi ditugaskan oleh perusahaannya di sana sehingga aku meeruskan sekolah, saat itu aku baru tamat SMP.

Saat di Belanda aku melakukan sex sejenis dengan temanku dan aku menikmatinya. Selesai studyku dan Papi yang sudah selesai dinas sebelum studyku berakhir memintaku untuk kembali ke Jakarta. Aku mulai bergaul untuk mencari teman, karena aku orangnya supel, ramah dan mudah bergaul akhirnya aku mendapatkan teman, namun bagiku yang penting mendapatkan teman laki-laki yang bisa diajak ngesex, tetapi tidak aku dapatkan teman laki-laki itu di sini. Mereka mempunyai pacar yang tentunya wanita, selain aku malu untuk memulai, takut apabila akan diketahui keluargaku atas penyimpangan sex ku ini.

Aku juga pernah mengentot dengan wanita di Belanda maupun di sini, namun aku rasakan hambar berhubungan intim dengan mereka.
Risdam, temanku yang dikenalkan Mami saat aku aku baru pulang kesini, begitu cantik, ramah dan menarik. Dia bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Dari dialah aku mulai tahu seluk beluk jalan di Jakarta yang begitu banyak perubahan sejak aku tinggalkan. Kami sering jalan berdua ke mall atau nonton film. Dia juga mengenalkan aku dengan teman-temannya sehingga aku mendapat banyak teman.

Kami mulai dekat dan menjalin asmara, namun seperti yang aku katakan, aku begitu hambar bila mengentot dengan seorang wanita, kami pernah mengentot dan tidak sering, itu juga Risdam yang minta, dia begitu bernafsu melihat ketampanan wajahku dan tubuh atletisku, dia sering mencumbuiku dan mengajakku untuk mengentot. Perbuatan kami akhirnya membuahkan hasil, Risdam hamil!

Aku terpaksa menikahi Risdam dengan dorongan Mami. Keluarga Risdampun memberi lampu hijau. Akhirnya sebagai anak yang bertanggung jawab dan berbakti kepada orang tua, akupun menikahi Risdam, yang ternyata baru aku ketahui bahwa aku memang dijodohkan dengan Risdam oleh Mami kepada orang tua Risdam. Orang tua kami memang akrab. Papi Risdam teman bisnis Papi. Sekenario mereka berjalan seperti yang diinginkan (tidak termasuk kehamilan Risdam, itu karena nafsunya yang ingin bersetubuh denganku).

Keseharianku terasa membosankan, walau aku sudah bekerja di perusahaan Papi. Rasa nafsuku pada sejenis sejak dulu masih ada, aku selalu terangsang melihat laki-laki tampan dengan tubuh atletis, jika begini aku melampiaskannyaa dengan mengocok-ngocok kontolku sambil membayangkan laki-laki tersebut. Saat bersetubuh dengan Risdam pun aku selalu berfantasi dengan laki-laki, dengan membayangkan wajah, tubuh atau kontol mereka. Aku sering membayangkan mengentot dengan Andi, rekan kerjaku. Wajahnya yang tampan dan imut-imut membuat aku bernafsu padanya. Aku masih menjalankan tugasku sebagai seorang suami, memberikan kebutuhan biologisku kepada Risdam saat dia memintanya untuk mencumbuinya dan di entot. Akhirnya dengan alasan yang kubuat, bisa juga meyakini Risdam, orang tuanya, Mami dan Papi. Akupun berangkat ke Belanda meninggalkan Risdam dan anakku yang baru berumur dua setengah tahun.

Di Belanda aku menemui teman-teman ku dan pembaca bisa mengetahui apa yang aku lakukan, yah aku kembali menikmati nafsuku dengan teman-teman ku yang sejenis. Nafsu yang telah lama aku pendam selama di Jakarta, di sini aku bebas melakukannya tanpa perasaan takut, malu atau was-was apabila keluargaku mengetahui.

Aku seperti laki-laki lain, jantan, gagah, menyukai olah raga, senang bergaul, tidak kebanci-bancian, namun itu hanya luarnya saja bagian diriku yang terlihat oleh orang-orang di sekitarku atau bahkan orang-orang di muka bumi ini, namun sesungguhnya aku orang yang mencintai jenisku yaitu laki-laki. Aku menyukainya seperti bagaimana halnya seorang laki-laki menyukai perempuan, bagaimana halnya seorang laki-laki menyukai tubuh seorang perempuan, payudaranya atau pepeknya. Demikian juga aku, bagaimana halnya kau menyukai tubuh laki-laki, wajahnya atau kontolnya, aku memandangnya sama persis seperti laki-laki normal.

Aku begitu senangnya tinggal di Belanda sebagai negara keduaku, di sini aku banyak teman, untuk masalah uang tidak sulit bagiku, aku bekerja sebagai bartender di bar Robert temanku, bar para homoseksual. Di sini begitu bebasnya orang bercumbu atau mengentot, tentu saja dengan sejenis. Di bar ini sekaligus tempat laki-laki mencari pasanganyan untuk mengentot, demikian juga aku walaupun aku sudah punya kekasih laki-laki, namun aku berhak untuk mengentot dengan laki-laki yang aku sukai. Kami selalu berpesta tiap malam, menikmati nafsu birahi kami sepuasnya. (Saya akan menceritakan pengalaman saya selama tinggal di Belanda kepada para pembaca). Kadang-kadang aku juga menelepon Risdam dan Mami.

Bersambung . . . .