Pekanbaru night - Akhir cinta sang ABG rental

Degg.. Darahku tersirap saat masuk kamar dan melihat Rudi sedang duduk di lantai sambil bersender pada ranjangku. Rudi bertelanjang ria dan kelihatan sedang asyik mengocok kontolnya sambil menonton film blue. Aku baru ingat kalau aku lupa menyimpan VCD blue gay yang kutonton semalam yang kutaruh begitu saja di atas TV kamarku. Tadi mungkin Rudi masuk ke kamarku dan melihatnya hingga akhirnya jadi asyik menonton. Rudi menyetel volumenya agak kecil namun masih jelas terdengar desahan pemain filmnya yang ber-ah-uh yang berbaur dengan desahan nyata dari Rudi yang lagi asyik ngocok. Pemandangan itu mau tak mau langsung membuatku 'on', apalagi melihat body Rudy yang aduhai tanpa lemak dengan dada yang sudah menampakkan kebidangannya. Dapat kubayangkan beberapa tahun lagi body Rudi yang pasti perfect, apalagi jika dibentuk di fitness centre.
"Sini Mas.. Nonton bareng.". Rudi melambaikan tangannya ke arahku yang sedang terpaku sambil menelan ludah.

Aku lalu duduk di ranjangku sambil menatap Rudi yang masih asyik memilin putingnya sendiri sambil ngocok. Aku terus dengan kuat menekan gairah di dadaku yang menyuruhku untuk menubruk dan melumat tubuh Rudi. Aku masih ingat dengan tekadku untuk tidak ngesex dengan Rudi. Namun saking tidak tahan lagi aku segera melepaskan baju berikut celana pendek dan CD yang kukenakan. Seperti Rudi aku juga meraba dan memilin putingku sendiri sambil onani. Aku memejamkan mataku sambil mengkhayalkan Rudi. Saat aku membuka mataku kulihat Rudi sedang asik menonton aksiku dengan pandangan sayu yang makin membuatku pengen merasakan Rudi secara nyata, bukan hanya dari fantasi saja.

Diluar sangkaanku Rudi berinisiatif menubrukku dan memelukku dengan eratnya. Pertahananku jebol. Aku segera melumat bibir Rudi dengan nafsu yang meledak-ledak hingga membuat Rudi terengah-engah oleh ciumanku.
"Mas nggak tahan Rud.. Mas kepengen sama Rudi.". Aku menggumam parau sambil melanjutkan ciuman ke leher Rudi.
"Hegh.. ahh.. Teruskan Mas.. Rudi mau.". Rudi mendesah menikmati ciumanku sambil mendongakkan kepalanya.
Tidak segan-segan lagi aku segera menjelajahi setiap senti tubuh Rudi dengan sapuan lidahku. Sampai di ujung kaki aku mengulum dan menghisap jempol kaki Rudi dengan kuat sambil memainkan lidahku yang membuat Rudi menggelinjang geli. Akhirnya mulutku kembali sampai di selangkangan Rudi. Aku menjilati sela selangkangannya tidak ketinggalan kantong kontolnya dan.. Hap.. Aku mengulum kontol Rudi sambil memaju mundurkan kepalaku.

"Ooh.. Rudi pengen keluar Mas.". Sesaat kemudian kurasakan Rudi mulai mengejang dan akhirnya crott.. crott.. Rudi menembak dalam mulutku. Aku terus menyedot kontol Rudi sampai maninya ludes. Aku membiarkan Rudi menikmati puncak kepuasannya dan aku mulai lagi mengocok kontolku sendiri dengan genggaman yang kuat.
"Mas.. Rudi pengen dibegituin Mas.". Saat aku masih asyik sendiri tiba-tiba saja Rudi menunjuk layar kaca yang sedang menayangkan blue film dengan adegan anal.
"Kamu nggak takut sakit Rud?" tanyaku parau.
Aku merasa 'surprised' karena selama ini belum ada lawan mainku yang berpredikat 'pemula' seperti Rudi yang minta dianal.
"Nggak Mas. Dari dulu Rudi sudah penasaran pengen dikentot". Rudi berkeras memintaku mengentotnya.
"Coba kamu nungging Rud". Tahu kalau Rudi benar-benar pengen aku tidak ragu-ragu lagi segera memberi instruksi pada Rudi.

Rudi segera menungging. Aku mulai menciumi pantat Rudi dan menjilati sela-selanya. Aksiku membuat Rudi menggoyangkan pantatnya ke kiri kanan, mungkin karena kegelian. Aku mulai menyibakkan kedua bukit pantat Rudi yang bulat kenyal dan kelihatanlah lubang kecil Rudi yang masih perawan, bentuknya indah menggugah selera. Aku segera melahapnya dengan nikmat.
"Ahh.. Enak Mas.. oh.". Rudi mendesah-desah saat aku mulai memainkan lidahku di lobangnya.
Puas menusuk-nusuk lobangnya dengan lidah giliran jari telunjukku yang masuk setelah sebelumnya kulumasi dengan ludah.
"Sshh.". Rudi agak mendesis sambil mengernyitkan alisnya dan menegangkan otot duburnya saat jari telunjukku masuk.
"Otot lobangmu jangan ditegangkan ya Rud. Biar nggak begitu sakit". Rudi mengikuti saranku hingga aku mulai memainkan jari telunjukku.
"Enak Mas.. oh.". Perlahan-lahan Rudi mulai bisa menikmatinya hingga aku mulai menyusul memasukkan jari tengahku.
"Sakit Mas.". Rudi mulai lagi menegang-negangkan otot lobangnya hingga aku makin hati-hati dalam memasukkan jari tengahku.

Crett.. lobang Rudi mengeluarkan sedikit kotoran yang tidak disadari olehnya. Aku tetap cuek dan setelah berhasil masuk aku dengan lembut dan perlahan mulai menarik kedua jariku, lalu memasukkannya lagi sambil ujung jariku merangsang daerah prostat Rudi.
"Ohh.. enak Mas.. enak.". Rudi mulai mendesah-desah lagi.
"Sekarang Mas masukkan kontol ya..", kataku sambil terus merangsang puting Rudi dengan tanganku yang satu lagi.
"Iya Mas. Rudi mau.".
Aku lalu mulai mengarahkan kontolku yang telah licin oleh precum hingga tak perlu pelicin lain lagi. Perlahan kepala kontolku terasa mulai memasuki lobang Rudi yang sempit.
"Akh.. Sakit.. sshh.". Rudi kelihatannya sangat kesakitan hingga aku mulai tidak tega.
"Sakit Rud? Stop aja ya?"
"Teruskan Mas.. teruskan.. Rudi pengen.". Rudi masih bersikeras hingga aku mulai melanjutkan aksiku.

Tiap senti kontolku yang masuk membuat Rudi semakin kesakitan sampai tangannya meremas kasur tempat tidurku dengan kuatnya. Akhirnya.. saat kontolku sudah masuk separuh aku mulai memompa dengan perlahan. Aku sengaja tidak memasukkan semuanya karena kukira lobang Rudi tidak akan sanggup menerimanya. Rudi mulai mendesis-desis sakit hingga peluh di dahinya sebesar biji jagung. Tapi dasar ia berkemauan kuat hingga terus bertahan. Tak lama kemudian Rudi mulai bisa menikmati separuh batang kontolku. Ia mulai mendesah nikmat layaknya aktor dalam film blue.
"Akh.. hegh.. hah.. enakk.. Mas.. oh.". Desahan Rudi membuatku makin bernafsu mengentotnya hingga tak sadar aku menghentak menusuk terlalu dalam sampai pangkal kontolku.
"Auwww.". Rudi menjerit kesakitan membuatku hampir saja mengeluarkan kontolku dari lobangnya.
"Sshh.. Teruss.. Mas.. enak.". Erangan nikmat Rudi membuatku tak jadi mencabut kontolku.

Karena Rudi kelihatannya mulai lemas aku menyuruh dia terlungkup dan aku membalikkan tubuhnya menghadapku yang membuat kontolku hampir tercabut tinggal kepalanya saja yang tertanam. Tungkai Rudi segera kuletakkan di bahuku dan dengan bertumpu pada kedua tanganku menindih Rudi aku mulai membenamkan kembali kontolku lebih dalam. Aku mulai mengentotnya lagi sambil memperhatikan ekspresi Rudi yang memejamkan mata sambil menggigit bibirnya. Seksi sekali dia. Aku terus beraksi hingga Rudi mulai mencakar-cakar punggungku. Untung kukunya tidak runcing hingga hanya terasa seperti garukan yang menyebabkan iritasi saja.

"Hah.. hah.". Nafasku makin memburu dengan peluh terus yang bercucuran yang mebuat bekas cakaran Rudi di punggungku terasa agak pedih, namun mendatangkan sensasi nikmat tersendiri.
Aku merasakan Tubuh Rudi mulai mengejang. Cakarannya di punggungku makin kuat dan..
"Aahh.. ekh.". crott.. crott.. Tiba-tiba Rudi menyentak lalu kemudian lemas terhempas sambil menembakkan maninya membasahi perutnya.
Rudi telah klimaks oleh sodokanku yang terus mengenai prostatnya dengan telak.
"Okh.". Crroott.. crott.. Melihat Rudi yang klimaks dengan ekspresi puasnya membuat pertahananku jebol hingga aku muncrat di dalam pantat Rudi tanpa sempat memperingatkan lagi.

Setelah tembakanku selesai aku mencabut kontolku dan mengecup kening Rudi yang masih memejamkan matanya kemudian berbaring di samping Rudi sambil memikirkan kejadian barusan. Sejenak kemudian kurasakan Rudi bangkit lalu duduk bersandar di sebelahku. Aku ikutan duduk sambil memperhatikan wajah Rudi yang penuh senyum kepuasan. Saat itu kamarku sudah sepi karena adegan panas film blue sudah lama usai yang digantikan dengan layar yang blank.
"Gimana perasaanmu Rud?"
"Pantat rasanya panas Mas. Sepertinya kontol Mas masih ketinggalan di dalamnya deh.". Rudi agak mengernyitkan alisnya sambil mengajakku bercanda.
"Ngaco kamu. Jadi yang ini apa..", kataku sambil tertawa dan menunjuk kontolku yang sedang pulas kekenyangan.
Rudi ikut tertawa hingga aku gemas dan memencet hidungnya.
"Sini.. Mas periksa ya.". Aku mulai memeriksa pantat Rudi. Kulihat lobangnya agak merah dan lembab pertanda lecet.
"Sshh.". Rudi mendesis saat kutekan pinggiran lobangnya.
"Sakit ya.. Pasti kamu kapok kan?"
"Nggak kok Mas.. Rudi suka kok. Nikmat.".
"Gila.. Nih anak nanti pasti jadi pecinta ulung deh.". Aku mulai membatin dan membayangkan kehebatan Rudi saat benar-benar sudah bukan ABG nanti. Kalau dipikir-pikir nafsu sex Rudi memang tergolong hyper, masih usia segitu sudah dapat mengimbangiku.

"Ayo kita mandi dulu. Nanti Mas olesin salep. Tuh.. perutmu juga banjir mani, jorox ah.". Aku menggoda Rudi..
"Yee.. jorok sih jorok.. Tapi Mas suka kan.". Rudi balas menggodaku.
Aku tertawa keras sambil membopong Rudi dan mengayun-ayunkannya seperti anak kecil. Aku lalu mebawanya ke kamar mandi dan memandikannya dengan teliti sekaligus membersihkan badanku sendiri. Segar sekali rasanya setelah selesai mandi. Aku dan Rudi lalu kembali ke kamarku dan aku mengeluarkan salep obat dari lemariku. Aku menyuruh Rudi menelungkup dan mulai mengolesi daerah lubangnya dengan salep di tanganku.
"Sejuk Mas.".
"Dua tiga hari lagi pasti pantatmu sembuh. Kamu bawa aja salep ini ya? Pakai tiap selesai mandi atau buang hajat dan jangan makan yang terlalu pedas", kataku sambil memasukkan tube salep ke kantong celana basket Rudi yang masih tertumpuk di lantai kamar.
Setelah itu kami berdua berpakaian kembali dan terus duduk di sofa ruang tamu sambil ngobrol.
"Mas.. kata Mas tadi nggak punya pacar kan? Gimana kalau Rudi saja jadi pacar Mas" Tiba-tiba saja Rudi memberikan pertanyaan yang membuatku kaget.
"Hush.. Pacarmu gimana nanti.. Katanya setia". Masih agak kaget aku mencoba bercanda.
"Biar.. Kan aku sudah terlanjur selingkuh sama Mas". Rudi menjawab kalem seperti layaknya dialog dalam sinetron.
"Serius nih.". Aku mulai serius menanggapi Rudi.
"Hahh.. ha.. ha.. Kena.. Rudi cuman bercanda aja kok. Mas kok ke-geeran sih.". Tawa Rudi meledak merasa berhasil mengerjaiku.
Aku merasa lega sekaligus gemas hingga menyerang Rudi dengan gelitikan tanganku.
"Ampun.. Mas.. ampunn.". Rudi tertawa kegelian.

Setelah puas bercanda kami meneruskan obrolan kami.
"Untung kamu cuma bercanda. Sorry nih Rud, tapi perlu Mas nasehati kalau sebaiknya Rudi nggak usah terjebak sama yang namanya cinta. Dan paling bagus sih Rudi nggak usah resmi pacaran sama cowok yang Rudi senangi. Cukup saling berbagi saja deh" Aku memberanikan diri mengungkapkan jalan pikiranku.
"Ih.. Mas ini aneh deh.. Masak cinta dan pacaran dilarang?" Aku melihat ketidak puasan dan ketegasan di mata Rudi hingga aku hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala saja.
"Darah muda.. Semoga aja kamu nggak kecewa nanti Rud.". batinku saat itu.

Aku lalu mengalihkan pembicaraan ke topik lain sambil mengajak Rudi bercanda hingga kami akhirnya tidak lagi membicarakan masalah itu. Tidak terasa waktu sudah sore hingga Rudi lalu pamit pulang dan sejak saat itu, kira-kira berselang 2-3 minggu Rudi selalu mengunjungiku. Aku juga selalu mencari kesempatan untuk mengobrol dengannya di rental jika sedang sepi tak ada pengunjung. Namun kami tidak pernah esek-esek lagi. Aku mulai menganggap Rudi seperti adikku sendiri sekaligus sahabat baikku. Demikian juga dengan Rudi. Pernah sekali Rudi memperkenalkan pacarnya kepadaku dan memang harus kuakui kalau pacar Rudi memang cowok OK dan keren walaupun sangat pemalu.

Persahabatanku dengan Rudi sepertinya tidak berlangsung lama. Kekhawatiranku selama ini terbukti. Pada suatu minggu sore Rudi mengunjungiku. Tidak seperti biasanya Rudi kelihatan kuyu sekali dengan mata yang merah dan kehilangan cahayanya. Ia hanya diam saat aku menanyakan apa yang telah terjadi pada dirinya. Lama aku mendesaknya baru ia bercerita sambil menangis.
Rupanya malam sebelumnya saat Rudi belajar di kamar rumah sang pacar mereka berciuman mesra. Tapi malang mereka digerebek dan dipergoki oleh orang tua sang pacar yang rupanya sejak lama telah menaruh curiga melihat kedekatan hubungan mereka, apalagi saat itu malam minggu yang notabene sangat aneh jika ada anak yang belajar bersama. Rudi dan pacarnya telah lalai menjaga rahasia mereka. Rudi dilabrak dan dicaci habis-habisan lalu diusir pulang saat itu juga. Sialnya lagi mereka memaksa anak mereka memberikan alamat Rudi lalu mereka mengadu pada orang tua Rudi sambil menjelek-jelekkan Rudi. Kasihan Rudi, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Rumahnya bagai neraka malam itu, penuh dengan suara cacian ayah Rudi yang ditimpali dengan jeritan tangis Ibunya. Sedangkan ia hanya dapat menangis diam-diam.

Mendengar cerita Rudi aku hanya mampu memeluknya dan membiarkannya menangis sepuas-puasnya di dadaku.
"Sabar Rud.. Sabar.". Hanya itu yang keluar dari mulutku.
"Mas.. Aku ke sini mau ngucapin selamat tinggal..", kata Rudi terbata saat tangisnya sudah reda.
"Lho.. kenapa memangnya..", tanyaku agak kaget dan heran.
"Aku akan diungsikan orang tuaku ke rumah nenek di Jambi sana. Setelah itu mereka menyusul. Mungkin aku tak akan kembali lagi ke sini.". Suara Rudi terdengar menghiba hingga aku makin kasihan tidak dapat membayangkan bagaimana kehidupan Rudi nantinya. Kami lalu sama-sama diam dengan pikiran masing-masing yang terus berkecamuk.
"Rudi harus pulang Mas.". Suara Rudi memecah kesunyian di antara kami.
Aku hanya diam saja sambil melepaskan jam tangan kesayanganku dan kugenggamkan ke tangan Rudi.
"Ini untuk apa Mas.". Rudi menatapku sayu.
"Ini kenang-kenangan dari Mas. Walaupun nggak mahal jam ini telah menemani Mas sejak masih SMA dulu. Jangan lupakan Mas ya.". Tanpa kusadari mataku juga mulai berkaca-kaca yang terus kutahan agar jangan sampai jatuh.
"Makasih Mas.. Rudi akan selalu ingat sama Mas.". Rudi menatapku dengan pandangan tulus.
"Janji ya Rudi akan hubungi Mas.". Rudi hanya menganggukkan kepalanya lalu beranjak untuk pergi. Aku bermaksud mengantarnya sampai rumah namun Rudi mencegah niatku hingga aku hanya bisa memandang kepergiannya dengan perasaan yang sulit aku lukiskan.

Sejak saat itu Rudi hilang dari kehidupanku. Rudi pernah meneleponku sekali yaitu saat mengabarkan kalau ia sudah tiba di Jambi. Lama setelah itu cuma sekali saja aku menerima kabar dari Rudi yaitu berupa surat tanpa alamatnya. Rudi mengabarkan kalau ia baik-baik saja dan bercerita sedikit tentang kehidupannya di sana. Yang paling membuatku terhibur adalah kalimat penutup dalam surat Rudi yang menyatakan kalau kami akan saling berjumpa lagi pada suatu saat nanti. Aku tahu dengan jelas kalau Rudi akan melanjutkan lagi hidupnya dengan penuh optimis. Demikian juga denganku, kehidupanku terus berlanjut..

*****

Aku menyelesaikan ceritaku yang telah didengarkan Deni dengan penuh perhatian. Sejenak kesuyian menyelimuti kami yang sibuk dengan pikiran masing-masing.

Tamat